SulawesiPos.com – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa otoritas sementara di Venezuela akan menyerahkan antara 30 hingga 50 juta barel minyak berkualitas tinggi yang terkena sanksi kepada Amerika Serikat.
Pernyataan itu awalnya diunggah Trump pada Selasa malam, 6 Januari 2026, melalui platform media sosial miliknya, Truth Social, dan kemudian diunggah ulang oleh akun resmi The White House di platform X pada 7 Januari 2026.
Trump mengatakan minyak tersebut akan dijual dengan harga pasar dan seluruh hasil penjualannya akan berada di bawah kendali langsungnya sebagai Presiden Amerika Serikat.
Ia menegaskan bahwa pengelolaan dana hasil penjualan itu ditujukan untuk memastikan manfaatnya digunakan bagi kepentingan rakyat Venezuela dan Amerika Serikat.
Trump juga menyatakan bahwa ia telah meminta Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, untuk segera mengeksekusi rencana tersebut tanpa penundaan.
Menurut Trump, pengiriman minyak akan dilakukan melalui kapal penyimpanan dan dibawa langsung ke pelabuhan-pelabuhan bongkar muat di Amerika Serikat.
Sejumlah jam sebelum pernyataan itu dipublikasikan, kantor berita Reuters melaporkan bahwa Trump dijadwalkan bertemu dengan para eksekutif perusahaan minyak di Gedung Putih pada akhir pekan ini.
Pertemuan itu bertujuan membahas langkah-langkah pemulihan sektor minyak Venezuela yang selama ini mengalami kemerosotan akibat krisis berkepanjangan.
Dua sumber yang dikutip Reuters menyebutkan bahwa pertemuan kemungkinan digelar pada Jumat, meskipun daftar peserta belum diumumkan secara resmi.
Trump menjadikan peningkatan produksi minyak Venezuela sebagai salah satu prioritas setelah aparat Amerika Serikat melakukan operasi menahan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, di Caracas.
Produksi dan ekspor minyak Venezuela yang dua dekade lalu melampaui tiga juta barel per hari kini anjlok hingga di bawah satu juta barel per hari.
Penurunan tajam tersebut disebabkan minimnya investasi jangka panjang yang membuat infrastruktur sektor energi Venezuela rusak parah.
Pemerintahan Trump menolak pandangan analis dan pelaku industri yang menyatakan bahwa pemulihan cepat sektor minyak Venezuela memerlukan waktu bertahun-tahun.
Pejabat Gedung Putih menyatakan bahwa penggunaan peralatan dan teknologi baru memungkinkan peningkatan produksi dalam waktu yang jauh lebih singkat.
Saat ini, Chevron menjadi satu-satunya perusahaan minyak besar asal Amerika Serikat yang masih aktif beroperasi di ladang minyak Venezuela.
Trump juga menyebut bahwa industri minyak Amerika Serikat berpotensi memperluas operasinya di Venezuela dalam waktu kurang dari 18 bulan melalui dukungan subsidi.
Ia mengatakan ekspansi tersebut membutuhkan investasi besar yang akan ditanggung perusahaan minyak dan kemudian dikembalikan melalui mekanisme pendapatan.
Trump menegaskan bahwa peningkatan produksi minyak Venezuela dapat membantu menekan biaya energi bagi masyarakat Amerika Serikat.
Menurutnya, pasokan minyak tambahan akan ikut membuat harga energi global semakin turun dan menguntungkan konsumen domestik di negaranya.
Meski demikian, sejumlah analis menilai bahwa pemulihan sektor minyak Venezuela menghadapi hambatan besar akibat infrastruktur yang rusak parah.
Para pengamat menegaskan bahwa sektor minyak Venezuela membutuhkan investasi miliaran dolar dan waktu bertahun-tahun untuk kembali berfungsi optimal.
Selain itu, karakter minyak Venezuela yang sangat berat dan kental menjadikannya salah satu cadangan minyak paling mahal untuk dikembangkan di dunia.
Kondisi tersebut membuat banyak produsen global lebih memilih ladang minyak yang lebih murah dan mudah dikembangkan di tengah harga minyak dunia yang relatif rendah.(ali)