PM2.5 Maros Tembus 96,5, Udara Makassar Berpotensi Tak Sehat hingga 13 Oktober

SulawesiPos.com – Kualitas udara Makassar dan sekitarnya masih berada pada kategori tidak sehat hingga Minggu (11/10/2026).

Konsentrasi PM2.5 di stasiun pemantauan BMKG Maros mencapai 96,5 mikrogram per meter kubik pada pukul 07.00 Wita, dengan kadar partikulat tertinggi dalam lima hari terakhir cenderung terjadi pada malam hingga pagi hari.

Prakirawan Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah IV Makassar Amhar Ulfa mengatakan kondisi udara masih berpotensi berada pada kategori sedang hingga tidak sehat dalam tiga hari ke depan.

“Hingga 3 hari ke depan (13 Oktober 2026), diprediksi masih berpotensi kategori sedang hingga tidak sehat,” ujar Amhar kepada media, Sabtu (10/10/2026).

Data PM2.5 tersebut diukur di stasiun pemantauan BMKG Maros.

Angka 96,5 mikrogram per meter kubik berada dalam rentang 55,5-150,4 mikrogram per meter kubik yang dikategorikan tidak sehat dalam informasi pemantauan tersebut.

Amhar menyebut pola konsentrasi partikulat dalam lima hari terakhir menunjukkan kecenderungan meningkat pada malam hingga pagi hari.

BACA JUGA:  Kronologi Remaja di Makassar Tewas usai Dibubarkan Tawuran: Polisi Lepaskan Tembakan Peringatan

“Kalau dilihat dari tren 5 hari terakhir, konsentrasi tertinggi umumnya di malam-pagi hari,” ujarnya.

Selain tingginya partikulat, Makassar dan wilayah sekitarnya masih terpantau berkabut atau haze.

Kondisi itu berkaitan dengan akumulasi partikel kering, seperti debu, asap, dan polutan lain, yang bertahan di udara.

Amhar menjelaskan, salah satu faktor yang memperburuk kualitas udara ialah kepungan asap dari sejumlah kebakaran hutan dan lahan di Sulawesi Selatan.

Kondisi kemarau dan kekeringan di sejumlah wilayah Sulsel turut membuat partikel kecil serta debu lebih mudah melayang dan bertahan di atmosfer.

Dengan kondisi tersebut, kualitas udara Makassar dan sekitarnya masih berpotensi berada pada kategori sedang hingga tidak sehat sampai 13 Oktober 2026.

Perubahan konsentrasi partikulat tetap bergantung pada kondisi atmosfer dan sumber asap di wilayah Sulsel.

SulawesiPos.com – Kualitas udara Makassar dan sekitarnya masih berada pada kategori tidak sehat hingga Minggu (11/10/2026).

Konsentrasi PM2.5 di stasiun pemantauan BMKG Maros mencapai 96,5 mikrogram per meter kubik pada pukul 07.00 Wita, dengan kadar partikulat tertinggi dalam lima hari terakhir cenderung terjadi pada malam hingga pagi hari.

Prakirawan Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah IV Makassar Amhar Ulfa mengatakan kondisi udara masih berpotensi berada pada kategori sedang hingga tidak sehat dalam tiga hari ke depan.

“Hingga 3 hari ke depan (13 Oktober 2026), diprediksi masih berpotensi kategori sedang hingga tidak sehat,” ujar Amhar kepada media, Sabtu (10/10/2026).

Data PM2.5 tersebut diukur di stasiun pemantauan BMKG Maros.

Angka 96,5 mikrogram per meter kubik berada dalam rentang 55,5-150,4 mikrogram per meter kubik yang dikategorikan tidak sehat dalam informasi pemantauan tersebut.

Amhar menyebut pola konsentrasi partikulat dalam lima hari terakhir menunjukkan kecenderungan meningkat pada malam hingga pagi hari.

BACA JUGA:  Tim Narya Kibarkan Merah Putih di Karebosi, Formasi Penyu Jadi Sorotan

“Kalau dilihat dari tren 5 hari terakhir, konsentrasi tertinggi umumnya di malam-pagi hari,” ujarnya.

Selain tingginya partikulat, Makassar dan wilayah sekitarnya masih terpantau berkabut atau haze.

Kondisi itu berkaitan dengan akumulasi partikel kering, seperti debu, asap, dan polutan lain, yang bertahan di udara.

Amhar menjelaskan, salah satu faktor yang memperburuk kualitas udara ialah kepungan asap dari sejumlah kebakaran hutan dan lahan di Sulawesi Selatan.

Kondisi kemarau dan kekeringan di sejumlah wilayah Sulsel turut membuat partikel kecil serta debu lebih mudah melayang dan bertahan di atmosfer.

Dengan kondisi tersebut, kualitas udara Makassar dan sekitarnya masih berpotensi berada pada kategori sedang hingga tidak sehat sampai 13 Oktober 2026.

Perubahan konsentrasi partikulat tetap bergantung pada kondisi atmosfer dan sumber asap di wilayah Sulsel.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru