Jalan Bonto Langkasa, Jejak Raja Gowa yang Membuka Jaringan ke Luar Nusantara

Pada 1590, ketika melakukan perjalanan dalam rangka operasi militer, Karaeng Bontolangkasa berada di atas kapal. Dalam perjalanan itulah ia diamuk oleh salah seorang pengikutnya hingga meninggal dunia.

Peristiwa tersebut kemudian menjadi asal gelar anumertanya, Karaeng Bontolangkasa, yang merujuk pada raja yang tewas karena diamuk.

Ia kemudian digantikan oleh putranya, I Tepu Karaeng Daeng Parabbung Karaeng Bontolangkasa Tunipasulu, yang menjadi Raja Gowa ke-13.

Setelah pemerintahan yang singkat, takhta Gowa kemudian beralih kepada saudaranya, I Mangngarangi Daeng Manrabbia, yang kelak dikenal sebagai Sultan Alauddin.

Putra Karaeng Bontolangkasa inilah yang kemudian membawa Gowa memasuki babak baru. Pada 1605, Sultan Alauddin menerima Islam dan menjadikan Gowa sebagai kerajaan Islam.

Masjid Tua Al-Hilal Katangka yang dibangun pada 1603 juga berasal dari masa pemerintahannya, sehingga tidak tepat jika pembangunan masjid tersebut ditempatkan pada masa Tunijallo.

Nama Raja di Tengah Kota Makassar

Berabad-abad setelah masa pemerintahannya, nama Bontolangkasa tetap hadir dalam ruang Kota Makassar. Jalan Bonto Langkasa kini berada di kawasan yang jauh berbeda dari dunia Kerajaan Gowa pada abad ke-16.

BACA JUGA:  Jalan Monginsidi, Jejak Pejuang Muda Makassar yang Dieksekusi Mati Belanda di Usia 24 Tahun

Di salah satu sisinya terdapat kawasan Claro Makassar, sementara di sekitar persimpangan Jalan A.P. Pettarani terdapat gerai Starbucks dan sejumlah usaha kuliner.

Kawasan ini juga menjadi bagian dari lingkungan pendidikan UNM, termasuk Gedung Pascasarjana dan rumah jabatan rektor.

Nama Bontolangkasa yang terpasang di tengah modernitas Makassar menghubungkan dua zaman yang sangat berbeda.

Di satu sisi ada jalan sepanjang sekitar 250 meter dengan hotel, kedai kopi, dan kawasan pendidikan. Di sisi lain ada sosok I Manggorai Daeng Mammeta, raja Gowa yang pada abad ke-16 memperluas jaringan persahabatan dan perdagangan hingga berbagai penjuru Nusantara.

Dari nama Bontolangkasa, jejak seorang Raja Gowa ke-12 itu tetap melekat di tengah denyut Kota Makassar, sebuah pengingat bahwa sebelum Gowa dikenal sebagai kesultanan besar, kerajaan itu telah lebih dahulu membangun pengaruh melalui laut, perdagangan dan diplomasi.

Pada 1590, ketika melakukan perjalanan dalam rangka operasi militer, Karaeng Bontolangkasa berada di atas kapal. Dalam perjalanan itulah ia diamuk oleh salah seorang pengikutnya hingga meninggal dunia.

Peristiwa tersebut kemudian menjadi asal gelar anumertanya, Karaeng Bontolangkasa, yang merujuk pada raja yang tewas karena diamuk.

Ia kemudian digantikan oleh putranya, I Tepu Karaeng Daeng Parabbung Karaeng Bontolangkasa Tunipasulu, yang menjadi Raja Gowa ke-13.

Setelah pemerintahan yang singkat, takhta Gowa kemudian beralih kepada saudaranya, I Mangngarangi Daeng Manrabbia, yang kelak dikenal sebagai Sultan Alauddin.

Putra Karaeng Bontolangkasa inilah yang kemudian membawa Gowa memasuki babak baru. Pada 1605, Sultan Alauddin menerima Islam dan menjadikan Gowa sebagai kerajaan Islam.

Masjid Tua Al-Hilal Katangka yang dibangun pada 1603 juga berasal dari masa pemerintahannya, sehingga tidak tepat jika pembangunan masjid tersebut ditempatkan pada masa Tunijallo.

Nama Raja di Tengah Kota Makassar

Berabad-abad setelah masa pemerintahannya, nama Bontolangkasa tetap hadir dalam ruang Kota Makassar. Jalan Bonto Langkasa kini berada di kawasan yang jauh berbeda dari dunia Kerajaan Gowa pada abad ke-16.

BACA JUGA:  Jalan Kajao Laliddong, Jejak Sang Cendekiawan di Balik Kebesaran Bone

Di salah satu sisinya terdapat kawasan Claro Makassar, sementara di sekitar persimpangan Jalan A.P. Pettarani terdapat gerai Starbucks dan sejumlah usaha kuliner.

Kawasan ini juga menjadi bagian dari lingkungan pendidikan UNM, termasuk Gedung Pascasarjana dan rumah jabatan rektor.

Nama Bontolangkasa yang terpasang di tengah modernitas Makassar menghubungkan dua zaman yang sangat berbeda.

Di satu sisi ada jalan sepanjang sekitar 250 meter dengan hotel, kedai kopi, dan kawasan pendidikan. Di sisi lain ada sosok I Manggorai Daeng Mammeta, raja Gowa yang pada abad ke-16 memperluas jaringan persahabatan dan perdagangan hingga berbagai penjuru Nusantara.

Dari nama Bontolangkasa, jejak seorang Raja Gowa ke-12 itu tetap melekat di tengah denyut Kota Makassar, sebuah pengingat bahwa sebelum Gowa dikenal sebagai kesultanan besar, kerajaan itu telah lebih dahulu membangun pengaruh melalui laut, perdagangan dan diplomasi.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru