Kisah yang berkembang menyebut La Sinrang kemudian menembakkan sisa pelurunya ke udara sebelum memenuhi janjinya untuk menyerahkan diri.
Hal tersebut menggambarkan bahwa penyerahan dirinya bukan semata-mata karena kalah dalam pertempuran, melainkan keputusan yang diambil setelah keluarganya berada dalam tekanan.
Diasingkan ke Banyumas
Setelah menyerahkan diri, La Sinrang tidak langsung kembali ke tanah kelahirannya.
Pemerintah kolonial Belanda kemudian mengasingkannya ke Banyumas, Jawa Tengah.
Pengasingan tersebut menjadi bagian dari upaya Belanda menjauhkan La Sinrang dari para pengikutnya dan mencegah munculnya kembali perlawanan di wilayah Sawitto.
Setelah menjalani masa pengasingan, La Sinrang akhirnya diperbolehkan kembali ke tanah kelahirannya.
Namun, kondisi fisiknya disebut sudah menurun akibat usia dan masa pengasingan.
Nama La Sinrang Diabadikan
Perjuangan La Sinrang kemudian terus dikenang masyarakat Sulawesi Selatan.
Namanya diabadikan dalam berbagai bentuk, termasuk Jalan Lasinrang.
Di Kabupaten Pinrang, sosoknya juga dikenang melalui berbagai monumen dan fasilitas yang menggunakan namanya.
Sementara di Makassar, Jalan Lasinrang kini berkembang menjadi salah satu kawasan yang dikenal masyarakat, termasuk sebagai lokasi kuliner dan perdagangan.
Dengan demikian, nama Jalan Lasinrang bukan sekadar penanda sebuah ruas jalan.
Nama tersebut membawa ingatan tentang seorang pejuang dari Sawitto yang pernah menghadapi kekuatan kolonial Belanda dan memilih menyerahkan diri setelah mempertimbangkan keselamatan keluarganya.
Kisah La Sinrang juga menunjukkan bagaimana perjuangan melawan kolonialisme tidak selalu berakhir di medan perang.
Dalam kasusnya, keputusan untuk menyerah justru lahir dari pilihan berat antara meneruskan perlawanan atau menyelamatkan orang-orang yang dicintainya.

