SulawesiPos.com – Nama Jalan Lasinrang tidak asing bagi masyarakat Kota Makassar. Jalan yang berada di kawasan Kecamatan Ujung Pandang tersebut dikenal sebagai salah satu kawasan yang ramai dengan aktivitas perdagangan dan kuliner.
Namun, di balik nama jalan tersebut terdapat kisah perjuangan seorang tokoh dari tanah Bugis, La Sinrang, pejuang asal Kerajaan Sawitto yang kini masuk wilayah Kabupaten Pinrang.
La Sinrang juga dikenal dengan sebutan Petta Lolo La Sinrang atau Bakka Lolona Sawitto. Sosoknya dikenang karena keberaniannya memimpin perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda pada awal abad ke-20.
La Sinrang, Pejuang dari Sawitto
La Sinrang lahir pada 1856 di Dolangeng atau Dolangan, wilayah Kerajaan Sawitto. Ia merupakan putra Addatuang Sawitto La Tamma dan I Raima.
Sejak muda, La Sinrang mendapat pendidikan yang keras dan kemudian dikenal memiliki kemampuan dalam menggunakan senjata tradisional.
Kemampuan tersebut membawanya menjadi salah satu tokoh penting dalam perlawanan Kerajaan Sawitto terhadap Belanda.
Ketika Belanda berusaha memperluas kekuasaannya di Sulawesi Selatan, La Sinrang bersama pasukannya melakukan perlawanan dengan memanfaatkan medan wilayah Sawitto.
Perlawanan secara gerilya membuat pasukan kolonial kesulitan menundukkan kelompok yang dipimpinnya.
Menyerah Setelah Keluarga Ditangkap
Kegigihan La Sinrang membuat Belanda menggunakan strategi lain untuk menghentikan perlawanannya.
Dalam sejumlah catatan sejarah, Belanda menangkap ayah La Sinrang, La Tamma, dan istrinya, I Makkanyuma. Penangkapan tersebut kemudian menjadi tekanan bagi La Sinrang agar menghentikan perlawanannya.
La Tamma disebut membujuk putranya untuk menyerah.
Dalam situasi tersebut, La Sinrang akhirnya mengambil keputusan untuk menyerahkan diri demi keselamatan keluarganya.
Ada satu kisah yang kemudian melekat dalam riwayat perjuangannya.
Sebelum turun dari benteng pertahanan, La Sinrang disebut berjanji baru akan menyerahkan diri setelah seluruh pelurunya habis.
“Aku mau menyerahkan diri kepada Belanda jika peluruku sudah habis semuanya.”
Kutipan tersebut tercatat dalam riwayat lokal mengenai Petta Lolo La Sinrang.

Kisah yang berkembang menyebut La Sinrang kemudian menembakkan sisa pelurunya ke udara sebelum memenuhi janjinya untuk menyerahkan diri.
Hal tersebut menggambarkan bahwa penyerahan dirinya bukan semata-mata karena kalah dalam pertempuran, melainkan keputusan yang diambil setelah keluarganya berada dalam tekanan.
Diasingkan ke Banyumas
Setelah menyerahkan diri, La Sinrang tidak langsung kembali ke tanah kelahirannya.
Pemerintah kolonial Belanda kemudian mengasingkannya ke Banyumas, Jawa Tengah.
Pengasingan tersebut menjadi bagian dari upaya Belanda menjauhkan La Sinrang dari para pengikutnya dan mencegah munculnya kembali perlawanan di wilayah Sawitto.
Setelah menjalani masa pengasingan, La Sinrang akhirnya diperbolehkan kembali ke tanah kelahirannya.
Namun, kondisi fisiknya disebut sudah menurun akibat usia dan masa pengasingan.
Nama La Sinrang Diabadikan
Perjuangan La Sinrang kemudian terus dikenang masyarakat Sulawesi Selatan.
Namanya diabadikan dalam berbagai bentuk, termasuk Jalan Lasinrang.
Di Kabupaten Pinrang, sosoknya juga dikenang melalui berbagai monumen dan fasilitas yang menggunakan namanya.
Sementara di Makassar, Jalan Lasinrang kini berkembang menjadi salah satu kawasan yang dikenal masyarakat, termasuk sebagai lokasi kuliner dan perdagangan.
Dengan demikian, nama Jalan Lasinrang bukan sekadar penanda sebuah ruas jalan.
Nama tersebut membawa ingatan tentang seorang pejuang dari Sawitto yang pernah menghadapi kekuatan kolonial Belanda dan memilih menyerahkan diri setelah mempertimbangkan keselamatan keluarganya.
Kisah La Sinrang juga menunjukkan bagaimana perjuangan melawan kolonialisme tidak selalu berakhir di medan perang.
Dalam kasusnya, keputusan untuk menyerah justru lahir dari pilihan berat antara meneruskan perlawanan atau menyelamatkan orang-orang yang dicintainya.

