Perjanjian Bungaya Tak Menghentikan Perlawanan
Perang Makassar kemudian memasuki fase perundingan. Tekanan militer VOC dan sekutunya membuat Gowa akhirnya menandatangani Perjanjian Bungaya pada 18 November 1667.
Kesepakatan tersebut mengakhiri sebagian besar peperangan terbuka antara Gowa dan VOC, tetapi tidak seluruh tokoh Gowa menerimanya sebagai akhir perjuangan.
Bonto Marannu termasuk tokoh yang tetap memilih melawan. Setelah perang kembali berlangsung hingga 1669 dan kekuatan Gowa akhirnya semakin melemah, ia meninggalkan tanah Gowa bersama kelompok orang Makassar yang masih meneruskan perlawanan.
Keputusan tersebut membawa Bonto Marannu ke Jawa.
Dari Gowa Menuju Jawa
Setelah meninggalkan Sulawesi, Bonto Marannu dan orang-orang Makassar memasuki jaringan pelayaran di kawasan Jawa dan Madura.
Kehadiran orang-orang Makassar di pesisir Jawa pada masa itu berkaitan erat dengan dinamika politik, perdagangan, dan peperangan setelah berakhirnya Perang Makassar.
Bonto Marannu kemudian muncul dalam catatan mengenai keberadaan orang Makassar di Jawa Timur.
Sumber BRIN menyebut setelah peperangan berakhir pada 1669, Daeng Bonto Marannu pergi ke Banten dan kemudian melanjutkan perjuangan di Jawa Timur.
Ia disebut akhirnya bergabung dengan Trunajaya yang sedang berupaya menaklukkan Kerajaan Mataram.
Keterlibatan orang Makassar dalam gerakan Trunajaya juga tercatat dalam kajian sejarah.
Salah satu kajian kebudayaan yang diterbitkan melalui repositori Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyebut kekuatan Trunajaya mendapat dukungan dari orang-orang Madura serta bantuan dari Banten, Makassar, dan Surabaya.
Perpindahan tersebut memperlihatkan bahwa kekalahan Gowa dalam Perang Makassar tidak serta-merta menghapus jaringan perlawanan orang Makassar.
Sebagian dari mereka menyebar ke berbagai wilayah dan kemudian terlibat dalam konflik politik di luar Sulawesi.

