Jalan Datu Museng, Kisah Pejuang dan Cinta Tragis “Romeo-Juliet” Makassar

Cinta Datu Museng dan Maipa Deapati Penuh Halangan

Kisah Datu Museng dan Maipa Deapati berkembang dalam tradisi sinrilik, salah satu bentuk sastra lisan masyarakat Makassar.

Penelitian Balai Bahasa Sulawesi Selatan menyebut cerita Datu Museng dan Maipa Deapati sebagai cerita rakyat yang mengandung berbagai unsur budaya, termasuk religi, mitos, hukum, dan adat istiadat.

Dalam versi yang dicatat Pemkot Makassar, hubungan keduanya menghadapi persoalan karena Maipa Deapati telah dijodohkan dengan Pangeran Mangngalasa, putra mahkota Kerajaan Lombok.

Datu Museng kemudian disebut pergi ke Mekkah dan Madinah untuk berguru. Setelah kembali, ia membantu menyembuhkan Maipa Deapati yang jatuh sakit.

Hubungan keduanya akhirnya mendapat persetujuan Sultan Sumbawa. Maipa Deapati dan Datu Museng menikah, sementara Datu Museng kemudian dipercaya menjadi panglima perang Kerajaan Sumbawa.

Cerita tersebut kemudian berkembang menjadi kisah cinta sekaligus kepahlawanan. Konflik semakin besar ketika Datu Museng dan Maipa Deapati kembali ke Makassar.

Pulang ke Makassar dan Berhadapan dengan Belanda

Dalam kisah yang diwariskan melalui sinrilik, Datu Museng kembali ke Makassar setelah mendapat perintah untuk membantu Kerajaan Gowa yang berada dalam situasi konflik dengan Belanda.

BACA JUGA:  Jalan Sultan Alauddin di Makassar, Siapa Sosok Raja Gowa di Balik Namanya?

Kedatangan Maipa Deapati bersama suaminya kemudian memunculkan persoalan baru. Kecantikan Maipa Deapati disebut menarik perhatian Tumalompoa, tokoh yang dalam cerita digambarkan memiliki hubungan dengan kekuasaan Belanda di Makassar.

Konflik pun berkembang menjadi perlawanan.

Datu Museng digambarkan menghadapi sejumlah pasukan dan tubarani yang berada di pihak lawan. Dalam cerita tersebut, ia menggunakan badik yang disebut Matatarampa’na dan berhasil menghadapi sejumlah tokoh yang menjadi lawannya.

Kisah Datu Museng merupakan bagian dari tradisi tutur yang kemudian dibukukan dan dikembangkan dalam berbagai bentuk sastra.

Sistem Informasi Cagar Budaya Kota Makassar mencatat bahwa kisah tersebut mulai berkembang sejak 1765 dan kemudian disadur dalam bentuk tulisan oleh misionaris Belanda Benjamin Matthes pada 1852, dengan hasil saduran mencapai sekitar 1.150 baris.

Karena itu, kisah pertempuran Datu Museng tidak seluruhnya dapat diperlakukan seperti laporan sejarah faktual. Sebagian merupakan bagian dari narasi sinrilik yang diwariskan masyarakat.

Cinta Datu Museng dan Maipa Deapati Penuh Halangan

Kisah Datu Museng dan Maipa Deapati berkembang dalam tradisi sinrilik, salah satu bentuk sastra lisan masyarakat Makassar.

Penelitian Balai Bahasa Sulawesi Selatan menyebut cerita Datu Museng dan Maipa Deapati sebagai cerita rakyat yang mengandung berbagai unsur budaya, termasuk religi, mitos, hukum, dan adat istiadat.

Dalam versi yang dicatat Pemkot Makassar, hubungan keduanya menghadapi persoalan karena Maipa Deapati telah dijodohkan dengan Pangeran Mangngalasa, putra mahkota Kerajaan Lombok.

Datu Museng kemudian disebut pergi ke Mekkah dan Madinah untuk berguru. Setelah kembali, ia membantu menyembuhkan Maipa Deapati yang jatuh sakit.

Hubungan keduanya akhirnya mendapat persetujuan Sultan Sumbawa. Maipa Deapati dan Datu Museng menikah, sementara Datu Museng kemudian dipercaya menjadi panglima perang Kerajaan Sumbawa.

Cerita tersebut kemudian berkembang menjadi kisah cinta sekaligus kepahlawanan. Konflik semakin besar ketika Datu Museng dan Maipa Deapati kembali ke Makassar.

Pulang ke Makassar dan Berhadapan dengan Belanda

Dalam kisah yang diwariskan melalui sinrilik, Datu Museng kembali ke Makassar setelah mendapat perintah untuk membantu Kerajaan Gowa yang berada dalam situasi konflik dengan Belanda.

BACA JUGA:  Jalan Ali Malaka, Pejuang Makassar yang Pernah Diburu Westerling

Kedatangan Maipa Deapati bersama suaminya kemudian memunculkan persoalan baru. Kecantikan Maipa Deapati disebut menarik perhatian Tumalompoa, tokoh yang dalam cerita digambarkan memiliki hubungan dengan kekuasaan Belanda di Makassar.

Konflik pun berkembang menjadi perlawanan.

Datu Museng digambarkan menghadapi sejumlah pasukan dan tubarani yang berada di pihak lawan. Dalam cerita tersebut, ia menggunakan badik yang disebut Matatarampa’na dan berhasil menghadapi sejumlah tokoh yang menjadi lawannya.

Kisah Datu Museng merupakan bagian dari tradisi tutur yang kemudian dibukukan dan dikembangkan dalam berbagai bentuk sastra.

Sistem Informasi Cagar Budaya Kota Makassar mencatat bahwa kisah tersebut mulai berkembang sejak 1765 dan kemudian disadur dalam bentuk tulisan oleh misionaris Belanda Benjamin Matthes pada 1852, dengan hasil saduran mencapai sekitar 1.150 baris.

Karena itu, kisah pertempuran Datu Museng tidak seluruhnya dapat diperlakukan seperti laporan sejarah faktual. Sebagian merupakan bagian dari narasi sinrilik yang diwariskan masyarakat.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru