Psikiater konsultan Dr. Victoria Chamorro menyatakan pasien menjalani program detoksifikasi alkohol, benzodiazepin, dan pregabalin dengan baik tanpa efek samping fisik maupun psikologis yang berarti.
Menurut laporan medis, Abdullah menunjukkan sikap kooperatif selama menjalani terapi, mampu membangun hubungan baik dengan pasien lain, serta tidak dinilai memiliki risiko bunuh diri ketika dipulangkan.
Setelah keluar dari Priory Clinic, ia melanjutkan pemulihan di Rainford Hall Clinic di Merseyside sebelum akhirnya meninggalkan fasilitas tersebut pada pertengahan Oktober 2025.
Meski kemudian tidak lagi mengikuti sesi konsultasi lanjutan melalui konferensi video, tim medis ketika itu tetap tidak menganggapnya berada dalam kondisi berisiko tinggi.
Tidak Ada Unsur Bunuh Diri maupun Tindak Pidana
Wakil Koroner London Barat menyatakan seluruh bukti yang dikumpulkan tidak menunjukkan adanya niat bunuh diri ataupun campur tangan pihak lain.
Oleh karena itu, pengadilan menetapkan penyebab kematian sebagai kematian akibat kecelakaan (death by misadventure) yang dipicu konsumsi simultan berbagai zat psikoaktif dan alkohol.
Otoritas Inggris menegaskan seluruh kesimpulan tersebut didasarkan pada hasil otopsi, pemeriksaan toksikologi, rekaman CCTV, serta keterangan para saksi dan tenaga medis yang menangani korban.
Mahkamah Kerajaan Arab Saudi kemudian mengumumkan wafatnya Abdullah melalui pernyataan resmi dan menyampaikan belasungkawa seraya memohonkan rahmat Allah SWT bagi almarhum.
Fenomena Global yang Menjadi Peringatan Kesehatan Publik
Kasus ini kembali menyoroti bahaya penggunaan polydrug, yakni konsumsi beberapa jenis zat psikoaktif secara bersamaan, yang menurut berbagai penelitian medis merupakan salah satu penyebab utama kematian akibat overdosis di berbagai negara.
Kombinasi alkohol dengan benzodiazepin, GHB, maupun obat penenang lainnya diketahui dapat menekan sistem saraf pusat secara drastis sehingga meningkatkan risiko gangguan pernapasan, kehilangan kesadaran, hingga henti jantung mendadak.
Para ahli kesehatan jiwa juga menekankan bahwa keberhasilan rehabilitasi ketergantungan zat tidak hanya bergantung pada proses detoksifikasi, tetapi memerlukan pemantauan jangka panjang, dukungan keluarga, konseling berkelanjutan, serta kepatuhan terhadap program tindak lanjut untuk mencegah kekambuhan yang dapat berujung fatal. *(Ali)*

