PSEL Siap Dibangun, Kadis LH Makassar Ungkap Proses Sampah Jadi Listrik

SulawesiPos.com – Proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Makassar disiapkan sebagai bagian dari program prioritas nasional yang didorong pemerintah pusat melalui Kementerian Lingkungan Hidup.

Kota Makassar bahkan masuk dalam daftar sembilan kota yang akan mengembangkan sistem waste to energy, dengan lokasi utama direncanakan di TPA Tamangapa.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kota Makassar, Dr. Helmy Budiman, S. STP., M.M. menjelaskan bahwa sistem PSEL dirancang dengan alur kerja terintegrasi, mulai dari pemilahan hingga konversi sampah menjadi energi listrik.

“Tidak semua sampah langsung dibakar. Tentu akan ada proses sebelum masuk ke mesin PSEL,” ujarnya dalam keterangannya kepada SulawesiPos.com, Selasa (21/4/2026).

Setelah melewati tahap pemilahan, sampah akan diproses menggunakan mesin incinerator bersuhu tinggi untuk menghasilkan energi panas.

Energi panas ini kemudian dimanfaatkan untuk memutar turbin yang terhubung dengan generator listrik.

“Secara normatif, alurnya melalui mesin pembakaran kemudian hawa panas yang hasilkan memutar turbin untuk menghasilkan listrik. Kemudian listriknya dibawa ke gardu induk untuk di jual ke PLN,” jelas Helmy.

BACA JUGA: 
Andalkan Teknologi Dalam Negeri, Presiden Prabowo Targetkan Masalah Sampah Tuntas dalam 3 Tahun

Proyek ini juga mengusung skema kerja sama aglomerasi bersama Kabupaten Gowa dan Maros.

Dari sisi volume, kawasan ini dinilai telah memenuhi syarat minimal operasional PSEL, yakni sekitar 1.000 ton sampah per hari.

“Total sampah yang akan masuk dalam PSEL Makassar Raya terdiri dari Makassar sekitar 800 ton per hari, Gowa 150 ton, dan Maros 50 ton,” ungkapnya.

Helmy menyebutkan, pembangunan fisik proyek ditargetkan mulai pada akhir tahun 2026, dengan target operasional pada 2029.

Namun demikian, ia mengakui terdapat tantangan yang perlu segera diselesaikan, terutama terkait kesiapan lahan.

“Tantangan terbesar ada pada percepatan pembebasan lahan dan pematangan lokasi,” bebernya.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa PSEL bukan satu-satunya solusi dalam penanganan sampah.

Peran masyarakat tetap menjadi kunci utama dalam mewujudkan pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

“Kita berharap proyek ini dapat mengubah pandangan orang terhadap sampah. Dalam pengolahan sampah, yang menjadi kunci akan keberhasilan tentu berasal dari diri sendiri. Bagaimana melakukan pemilahan dan pengolahan sampah mulai dari sumber sampah,” pungkasnya.

BACA JUGA: 
Atasi 2.000 Ton Sampah per Hari, Tiga Daerah di Sulsel Gandeng Proyek PSEL

SulawesiPos.com – Proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Makassar disiapkan sebagai bagian dari program prioritas nasional yang didorong pemerintah pusat melalui Kementerian Lingkungan Hidup.

Kota Makassar bahkan masuk dalam daftar sembilan kota yang akan mengembangkan sistem waste to energy, dengan lokasi utama direncanakan di TPA Tamangapa.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kota Makassar, Dr. Helmy Budiman, S. STP., M.M. menjelaskan bahwa sistem PSEL dirancang dengan alur kerja terintegrasi, mulai dari pemilahan hingga konversi sampah menjadi energi listrik.

“Tidak semua sampah langsung dibakar. Tentu akan ada proses sebelum masuk ke mesin PSEL,” ujarnya dalam keterangannya kepada SulawesiPos.com, Selasa (21/4/2026).

Setelah melewati tahap pemilahan, sampah akan diproses menggunakan mesin incinerator bersuhu tinggi untuk menghasilkan energi panas.

Energi panas ini kemudian dimanfaatkan untuk memutar turbin yang terhubung dengan generator listrik.

“Secara normatif, alurnya melalui mesin pembakaran kemudian hawa panas yang hasilkan memutar turbin untuk menghasilkan listrik. Kemudian listriknya dibawa ke gardu induk untuk di jual ke PLN,” jelas Helmy.

BACA JUGA: 
Tinggalkan Open Dumping, Makassar Percepat Pembenahan Sistem Sampah Kota

Proyek ini juga mengusung skema kerja sama aglomerasi bersama Kabupaten Gowa dan Maros.

Dari sisi volume, kawasan ini dinilai telah memenuhi syarat minimal operasional PSEL, yakni sekitar 1.000 ton sampah per hari.

“Total sampah yang akan masuk dalam PSEL Makassar Raya terdiri dari Makassar sekitar 800 ton per hari, Gowa 150 ton, dan Maros 50 ton,” ungkapnya.

Helmy menyebutkan, pembangunan fisik proyek ditargetkan mulai pada akhir tahun 2026, dengan target operasional pada 2029.

Namun demikian, ia mengakui terdapat tantangan yang perlu segera diselesaikan, terutama terkait kesiapan lahan.

“Tantangan terbesar ada pada percepatan pembebasan lahan dan pematangan lokasi,” bebernya.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa PSEL bukan satu-satunya solusi dalam penanganan sampah.

Peran masyarakat tetap menjadi kunci utama dalam mewujudkan pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

“Kita berharap proyek ini dapat mengubah pandangan orang terhadap sampah. Dalam pengolahan sampah, yang menjadi kunci akan keberhasilan tentu berasal dari diri sendiri. Bagaimana melakukan pemilahan dan pengolahan sampah mulai dari sumber sampah,” pungkasnya.

BACA JUGA: 
Andalkan Teknologi Dalam Negeri, Presiden Prabowo Targetkan Masalah Sampah Tuntas dalam 3 Tahun

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru