Lapisan atas terbuat dari telur, santan, dan gula merah, menghadirkan manis. Semua adonan dikukus hingga matang, menghasilkan kue lembut namun padat yang memikat setiap gigitan.
Sejak dahulu, Katirisala dibuat untuk momen-momen istimewa seperti pesta pernikahan, pengajian, atau hari besar keagamaan.
Kini, kue ini mudah ditemui di pasar tradisional dan toko kue, khususnya selama bulan Ramadan, ketika kue-kue tradisional menjadi camilan populer untuk berbuka puasa.
Lebih dari sekadar makanan, Katirisala adalah simbol budaya Bugis-Makassar. Setiap gigitan menghadirkan rasa, aroma, dan tekstur yang unik, sekaligus menghubungkan pencinta kuliner dengan sejarah dan tradisi lokal.
Kombinasi manis-gurih dan filosofi lapisan gula membuat Katirisala tetap relevan dan disukai lintas generasi.

