SulawesiPos.com – Di setiap pesta adat Bugis-Makassar, sajian kue bukan sekadar hidangan pelengkap, tetapi simbol keramahan tuan rumah yang disuguhkan kepada para tamu.
Dari beragam ‘beppa to riolo’ atau kue tradisional hingga kue modern, ada satu penganan tradisional yang nyaris selalu hadir, yakni doko’-doko’ cangkuning.
Kue ini dikenal dengan sebutan berbeda di tiap daerah, di mana masyarakat Bugis menyebutnya doko’-doko’ cangkoneng atau cangkuning, sementara suku Makassar mengenalnya sebagai roko’-roko cangkuning.
Meski namanya berbeda, maknanya sama, yaitu kue yang dibungkus, merujuk pada penggunaan daun pisang sebagai pembungkus utama yang sekaligus memberi aroma khas.
Dalam setiap hajatan seperti pernikahan, sunatan, hingga akikah, kue ini hampir selalu mengisi bosara sebagai sajian wajib bagi para tamu.
Tak hanya hadir saat pesta, doko’-doko’ cangkuning juga menjadi kudapan favorit saat berbuka puasa di bulan Ramadan dan sering dijajakan pada pagi hari sebagai teman minum kopi.
Kesederhanaan bahan dan cara pembuatan membuat kue tradisional ini tetap bertahan dan dicintai lintas generasi di Sulawesi Selatan.
Resep Doko’-Doko’ Cangkuning
Bahan Isian
- 175 gram kelapa parut
- 175 gram gula aren
- 2 lembar daun pandan
- 2 gram garam
- 30 ml air
- 5 gram tepung terigu protein sedang

