Katirisala dikenal sebagai salah satu kue tradisional khas suku Bugis di Sulawesi Selatan yang hingga kini masih lestari dan digemari lintas generasi.
Terbuat dari perpaduan tepung ketan dan gula merah, kue ini menghadirkan cita rasa manis legit berlapis dengan tekstur khas yang lembut namun padat.
Di balik rasanya, Katirisala menyimpan cerita asal-usul yang unik.
Sejumlah kisah tutur menyebutkan, kue ini bermula dari peristiwa tak disengaja saat leluhur Bugis mengolah sokko—nasi ketan khas Sulsel untuk ritual pindah rumah adat atau Mappalette Bola.
Ketika itu, gula merah yang sedang dipersiapkan menetes dan mengenai olahan ketan, menciptakan kombinasi rasa baru yang justru disukai.
Nama “Katirisala” pun lahir dari kejadian tersebut. Kata tiri berarti menetes, merujuk pada gula aren yang jatuh, sementara sala bermakna salah atau keliru.
Meski berawal dari kesalahan, kue ini justru dimaknai sebagai simbol keberkahan.
Manisnya gula merah merepresentasikan harapan agar kehidupan masyarakat Bugis senantiasa harmonis, sejahtera, dan dijalani dengan pikiran positif.
Katirisala juga kerap dimaknai sebagai doa agar setiap aktivitas yang dilakukan berjalan lancar.
Dalam kehidupan sosial masyarakat Bugis, Katirisala memiliki peran penting.

