Breaking! Rupiah Melemah ke Rp17.289 per Dolar AS Pagi Ini

SulawesiPos.com – Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada pembukaan perdagangan Kamis (23/4/2026), seiring menguatnya mata uang global dan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar.

Berdasarkan data pasar, rupiah melemah 108 poin atau sekitar 0,63 persen ke posisi Rp17.289 per dolar Amerika Serikat (AS).

Angka ini lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.181 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah penguatan Indeks Dolar AS (DXY) yang naik tipis ke level 98,627.

Indeks ini mencerminkan pergerakan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia, dan kerap menjadi indikator arah arus modal global.

Penguatan dolar AS umumnya dipicu oleh meningkatnya permintaan aset aman (safe haven), terutama di tengah ketidakpastian perang AS-Israel dengan Iran dalam dua bulan terakhir.

Kondisi ini turut memberikan tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Selain faktor eksternal, pergerakan rupiah juga dipengaruhi dinamika domestik, seperti kebutuhan impor, arus keluar modal asing, serta ekspektasi inflasi dalam negeri.

BACA JUGA:  Rupiah Sentuh Titik Terlemah, HSBC Prediksi Tembus Rp17.000 per Dolar AS pada Akhir 2026

Kombinasi faktor tersebut membuat nilai tukar cenderung bergerak fluktuatif dalam jangka pendek.

SulawesiPos.com – Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada pembukaan perdagangan Kamis (23/4/2026), seiring menguatnya mata uang global dan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar.

Berdasarkan data pasar, rupiah melemah 108 poin atau sekitar 0,63 persen ke posisi Rp17.289 per dolar Amerika Serikat (AS).

Angka ini lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.181 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah penguatan Indeks Dolar AS (DXY) yang naik tipis ke level 98,627.

Indeks ini mencerminkan pergerakan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia, dan kerap menjadi indikator arah arus modal global.

Penguatan dolar AS umumnya dipicu oleh meningkatnya permintaan aset aman (safe haven), terutama di tengah ketidakpastian perang AS-Israel dengan Iran dalam dua bulan terakhir.

Kondisi ini turut memberikan tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Selain faktor eksternal, pergerakan rupiah juga dipengaruhi dinamika domestik, seperti kebutuhan impor, arus keluar modal asing, serta ekspektasi inflasi dalam negeri.

BACA JUGA:  Rudal dan Diplomasi Berjalan Bersamaan: Iran Kirim Sinyal Keras ke Israel, Pesan Strategis ke Dunia

Kombinasi faktor tersebut membuat nilai tukar cenderung bergerak fluktuatif dalam jangka pendek.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru