Dari sisi global, pelaku pasar juga menanti rilis revisi final Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Serikat serta data inflasi PCE AS yang dijadwalkan rilis pada Kamis malam waktu setempat.
Sementara itu, Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menambahkan bahwa sentimen eksternal terhadap rupiah turut dipengaruhi oleh kekhawatiran negara-negara Eropa atas sikap keras dan ancaman kebijakan perdagangan dari Washington terkait isu Greenland.
Adapun dari dalam negeri, sentimen datang dari keputusan Bank Indonesia yang menahan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75 persen pada Desember 2025. BI juga mempertahankan suku bunga deposit facility sebesar 3,75 persen dan lending facility di level 5,5 persen.
Menurut Ibrahim, kebijakan tersebut bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global, sekaligus memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter dan makroprudensial guna mendukung pertumbuhan ekonomi.
“Dengan berbagai sentimen tersebut, rupiah hari ini diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di rentang Rp16.930 sampai Rp16.950 per dolar AS,” jelasnya.

