27 C
Makassar
18 January 2026, 17:36 PM WITA

Rupiah Sentuh Titik Terlemah, HSBC Prediksi Tembus Rp17.000 per Dolar AS pada Akhir 2026

Neraca pembayaran Indonesia tercatat defisit sebesar 6,7 miliar dolar AS pada kuartal II-2025, dan kembali mengalami defisit 6,4 miliar dolar AS pada kuartal III-2025.

“Arus masuk modal adalah bagian yang menjadi masalah, bukan perdagangan,” kata Pranjul.

Di sisi lain, ia menilai kinerja perdagangan Indonesia masih relatif solid. Hal ini tercermin dari surplus neraca perdagangan selama 67 bulan berturut-turut, sejak Mei 2020 hingga November 2025.

Selain itu, neraca transaksi berjalan juga masih mencatatkan kinerja positif sepanjang 2025.

“Perdagangan bukanlah masalah yang mencolok saat ini. Saya pikir surplus perdagangan cukup kuat pada tahun 2025 dan neraca transaksi berjalan juga positif,” tambahnya.

Sementara itu, HSBC juga memproyeksikan pergerakan dolar AS pada 2026 cenderung stagnan atau sedikit melemah.

Proyeksi tersebut didorong oleh tingginya ketidakpastian kebijakan di Amerika Serikat, mulai dari dinamika geopolitik global, pergantian pimpinan The Federal Reserve, hingga arah kebijakan tarif resiprokal.

Meski berpotensi menjadi sentimen positif bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, Pranjul tetap mengingatkan bahwa rupiah masih sangat sensitif terhadap pergerakan dolar AS.

Baca Juga: 
Harga Minyak Dunia Bergerak Fluktuatif Akibat AS Serang Venezuela

Ia mencontohkan, meskipun indeks dolar AS cenderung melemah pada 2025, rupiah justru tercatat melemah sekitar 3,5 persen sepanjang tahun tersebut.

“Jika indeks dolar AS menguat, maka itu akan menjadi masalah besar bagi Indonesia, karena rupiah akan terlihat jauh lebih lemah,” tegasnya.

Neraca pembayaran Indonesia tercatat defisit sebesar 6,7 miliar dolar AS pada kuartal II-2025, dan kembali mengalami defisit 6,4 miliar dolar AS pada kuartal III-2025.

“Arus masuk modal adalah bagian yang menjadi masalah, bukan perdagangan,” kata Pranjul.

Di sisi lain, ia menilai kinerja perdagangan Indonesia masih relatif solid. Hal ini tercermin dari surplus neraca perdagangan selama 67 bulan berturut-turut, sejak Mei 2020 hingga November 2025.

Selain itu, neraca transaksi berjalan juga masih mencatatkan kinerja positif sepanjang 2025.

“Perdagangan bukanlah masalah yang mencolok saat ini. Saya pikir surplus perdagangan cukup kuat pada tahun 2025 dan neraca transaksi berjalan juga positif,” tambahnya.

Sementara itu, HSBC juga memproyeksikan pergerakan dolar AS pada 2026 cenderung stagnan atau sedikit melemah.

Proyeksi tersebut didorong oleh tingginya ketidakpastian kebijakan di Amerika Serikat, mulai dari dinamika geopolitik global, pergantian pimpinan The Federal Reserve, hingga arah kebijakan tarif resiprokal.

Meski berpotensi menjadi sentimen positif bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, Pranjul tetap mengingatkan bahwa rupiah masih sangat sensitif terhadap pergerakan dolar AS.

Baca Juga: 
Awal 2026 Harga Emas dan Perak Mulai Stabil Usai Tekanan Akhir Tahun

Ia mencontohkan, meskipun indeks dolar AS cenderung melemah pada 2025, rupiah justru tercatat melemah sekitar 3,5 persen sepanjang tahun tersebut.

“Jika indeks dolar AS menguat, maka itu akan menjadi masalah besar bagi Indonesia, karena rupiah akan terlihat jauh lebih lemah,” tegasnya.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/