30 C
Makassar
18 January 2026, 15:56 PM WITA

Rupiah Sentuh Titik Terlemah, HSBC Prediksi Tembus Rp17.000 per Dolar AS pada Akhir 2026

Overview

  • Rupiah ditutup melemah hingga Rp16.877 per dolar AS, menjadi level terlemah sepanjang sejarah.
  • HSBC memproyeksikan nilai tukar rupiah berpotensi melemah hingga mendekati Rp17.000 per dolar AS pada akhir 2026.

  • Tekanan terhadap rupiah dinilai berasal dari arus keluar modal, meski kinerja perdagangan Indonesia masih mencatat surplus.

SulawesiPos.com – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali meningkat. Pada penutupan perdagangan Selasa (13/1/2026), rupiah mencatatkan posisi terlemah sepanjang sejarah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), mencerminkan masih kuatnya tekanan eksternal terhadap perekonomian domestik.

Data Bloomberg menunjukkan rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,13 persen ke level Rp16.877 per dolar AS.

Pelemahan sejalan juga tercermin pada Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), yang mencatat rupiah berada di posisi Rp16.875 per dolar AS, turun 0,13 persen dibandingkan hari sebelumnya.

Di tengah kondisi tersebut, HSBC memproyeksikan pelemahan rupiah masih berpotensi berlanjut hingga mendekati Rp17.000 per dolar AS pada akhir 2026.

Baca Juga: 
Mengapa Saham Amerika Serikat Mulai Kehilangan Daya Tariknya di Panggung Global?

Managing Director sekaligus Chief India Economist and Macro Strategist HSBC, Pranjul Bhandari, menilai pergerakan rupiah ke depan cenderung berada sedikit lebih lemah dari level saat ini.

“Kami pikir pada akhir tahun 2026, kita mungkin akan mencapai angka Rp 17.000 atau sekitar itu. Jadi sedikit lebih lemah daripada saat ini,” ujarnya dalam media briefing, Senin (12/1/2026).

Menurut Pranjul, pergerakan nilai tukar suatu negara umumnya dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni kinerja perdagangan dan arus keuangan.

Namun, dalam kasus rupiah, tekanan lebih besar justru datang dari sisi arus modal.

Ia menjelaskan, pelemahan rupiah dipicu oleh berlanjutnya aliran keluar dana investasi portofolio, serta melemahnya penanaman modal asing (PMA) sejak tahun lalu.

Kondisi tersebut diperparah oleh defisit neraca pembayaran yang terus berlanjut sejak kuartal II-2025.

Overview

  • Rupiah ditutup melemah hingga Rp16.877 per dolar AS, menjadi level terlemah sepanjang sejarah.
  • HSBC memproyeksikan nilai tukar rupiah berpotensi melemah hingga mendekati Rp17.000 per dolar AS pada akhir 2026.

  • Tekanan terhadap rupiah dinilai berasal dari arus keluar modal, meski kinerja perdagangan Indonesia masih mencatat surplus.

SulawesiPos.com – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali meningkat. Pada penutupan perdagangan Selasa (13/1/2026), rupiah mencatatkan posisi terlemah sepanjang sejarah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), mencerminkan masih kuatnya tekanan eksternal terhadap perekonomian domestik.

Data Bloomberg menunjukkan rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,13 persen ke level Rp16.877 per dolar AS.

Pelemahan sejalan juga tercermin pada Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), yang mencatat rupiah berada di posisi Rp16.875 per dolar AS, turun 0,13 persen dibandingkan hari sebelumnya.

Di tengah kondisi tersebut, HSBC memproyeksikan pelemahan rupiah masih berpotensi berlanjut hingga mendekati Rp17.000 per dolar AS pada akhir 2026.

Baca Juga: 
Kemnaker Tegaskan Belum Ada Kebijakan BSU 2026, Waspadai Modus Penipuan Tautan Palsu

Managing Director sekaligus Chief India Economist and Macro Strategist HSBC, Pranjul Bhandari, menilai pergerakan rupiah ke depan cenderung berada sedikit lebih lemah dari level saat ini.

“Kami pikir pada akhir tahun 2026, kita mungkin akan mencapai angka Rp 17.000 atau sekitar itu. Jadi sedikit lebih lemah daripada saat ini,” ujarnya dalam media briefing, Senin (12/1/2026).

Menurut Pranjul, pergerakan nilai tukar suatu negara umumnya dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni kinerja perdagangan dan arus keuangan.

Namun, dalam kasus rupiah, tekanan lebih besar justru datang dari sisi arus modal.

Ia menjelaskan, pelemahan rupiah dipicu oleh berlanjutnya aliran keluar dana investasi portofolio, serta melemahnya penanaman modal asing (PMA) sejak tahun lalu.

Kondisi tersebut diperparah oleh defisit neraca pembayaran yang terus berlanjut sejak kuartal II-2025.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/