Dengan sejumlah nama utama seperti Arif Aiman Hanapi, Faisal Halim, Shahrul Saad, Dion Cools, Safawi Rasid, dan Nooa Laine tidak masuk panggung utama kali ini, Malaysia praktis sedang menguji keberanian mereka sendiri.
Sosok-sosok seperti Sergio Ezequiel Aguero, Endrick, Paulo Josue, dan Mohamadou Sumareh memberi penyangga pengalaman, sementara lini depan muda seperti Haqimi Azim dan Fergus Tierney menjadi penentu apakah eksperimen ini bisa segera menghasilkan daya gigit.
Myanmar pun masuk ke turnamen dalam fase yang sama sekali baru setelah Federasi Sepak Bola Myanmar menunjuk pelatih asal Norwegia, Jorn Andersen, pada awal Juli 2026.
Penunjukan Andersen membuat Myanmar tidak lagi hanya dibaca sebagai tim yang berbahaya karena spontanitas, tetapi juga karena kemungkinan hadirnya struktur permainan yang lebih rapi.
Dengan basis pemain senior dan wajah-wajah muda seperti Myat Kaung Khant, Soe Moe Kyaw, Kaung Myat Nyein, dan Saw Myo Zaw, Myanmar punya ruang untuk menjadi pengacau besar jika transisi ide Andersen langsung menyatu.
Filipina dan Laos Mengejar Kejutan
Filipina mungkin menjadi tim dengan perubahan paling radikal di Grup B.
Di bawah Carles Cuadrat, The Azkals membongkar generasi lama dan bergerak ke arah skuad yang jauh lebih muda, dengan rata-rata usia yang disebut berada di kisaran 24,9 tahun.
Kehadiran 11 pemain U-23 dan 10 pemain abroad membuat Filipina seperti sedang mempercepat regenerasi sekaligus menjaga ambisi untuk tetap bersaing di papan atas setelah mencapai semifinal pada edisi sebelumnya.
Nama-nama seperti Sandro Reyes, Oskari Kekkonen, Santi Rublico, Jarvey Gayoso, dan Andre Leipold memberi Filipina kerangka yang menarik, terutama jika Cuadrat berhasil menjaga keberanian menyerang mereka tanpa mengorbankan stabilitas.
Karena baru memulai pada 28 Juli 2026, Filipina juga punya sedikit keuntungan waktu untuk membaca hasil-hasil awal pesaing grup sebelum turun.
Laos memang tidak datang dengan sorotan sebesar empat rival lainnya, tetapi justru itu yang bisa membuat mereka berbahaya.


