Listrik Padam Saat DPRD Sulsel Rapat dengan PLN, Empat Kesepakatan Dihasilkan

SulawesiPos.com – Listrik mendadak padam ketika Komisi D DPRD Sulawesi Selatan menggelar rapat dengar pendapat bersama PLN mengenai pemadaman bergilir di kantor sementara DPRD Sulsel, Jalan AP Pettarani, Makassar, Kamis (10/9/2026).

Ruang rapat menjadi gelap sekitar pukul 17.40 Wita, sementara pertemuan itu menghasilkan empat kesepakatan, termasuk kompensasi bagi pelanggan terdampak.

Momen tersebut terekam ketika anggota Komisi D, jajaran PLN, dan peserta rapat sedang membahas gangguan pasokan listrik yang berlangsung di sejumlah wilayah Sulsel.

Lampu di ruangan tiba-tiba mati, tetapi pembahasan tetap dilanjutkan.

RDP itu dihadiri Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Sulsel, General Manager PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat, serta General Manager PLN Unit Induk Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Sulawesi.

Ketua Komisi D DPRD Sulsel Kadir Halid mengatakan rapat mengungkap sejumlah faktor yang menyebabkan kemampuan pembangkit tidak mencapai kapasitas penuh.

“Ada gangguan karena PLTA misalnya airnya kurang. Untuk PLTU, uapnya juga kadang ada gangguan. Hal ini menyebabkan pembangkit ini tidak bisa secara full menyalurkan kapasitas yang terpasang di masing-masing pembangkit,” kata Kadir, Kamis (10/9/2026).

BACA JUGA:  Jalan Petta Punggawa: Jejak Panglima Tertinggi Bone yang Gugur dalam Perang 1905

Ia menyebut pemeliharaan sejumlah pembangkit turut mengurangi pasokan yang tersedia untuk Sistem Sulawesi Bagian Selatan.

“Kalau ada pemeliharaan, pasti dihentikan dulu karena harus dipelihara. Menunggu lagi alat-alatnya yang harus diganti atau bagaimana. Sehingga ini semua adalah faktor-faktor sehingga terjadi pemadaman bergilir ini,” ujarnya.

Listrik Padam Saat Penyebab Gangguan Dibahas

Rekaman yang diunggah akun Netral.co.id memperlihatkan ruangan rapat berubah gelap ketika pembahasan berlangsung.

Hanya cahaya dari jendela dan sejumlah perangkat elektronik yang terlihat setelah lampu padam.

Peristiwa itu terjadi pada hari yang sama ketika PLN masih menerapkan pengaturan beban di sejumlah wilayah Makassar.

Jadwal yang diumumkan untuk beberapa wilayah berlangsung sejak sore hingga pukul 23.30 Wita dan dapat berubah mengikuti kondisi sistem secara waktu nyata.

PLN sebelumnya menjelaskan pengaturan beban dilakukan karena daya mampu pasok Sistem Sulbagsel belum sepenuhnya normal.

PLTU Jeneponto berkapasitas 125 megawatt telah kembali beroperasi, tetapi sebagian pembangkit lain masih menjalani proses optimalisasi.

BACA JUGA:  Bentrokan Dua Kelompok di Jembatan Abdesir Makassar Sempat Blokir Jalan, Dugaan Sengketa Lahan Masih Didalami

“Kami memahami kondisi ini berdampak pada aktivitas masyarakat dan memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan,” kata General Manager PLN UID Sulselrabar Edyansyah dalam keterangan pada Senin (7/9/2026).

SulawesiPos.com – Listrik mendadak padam ketika Komisi D DPRD Sulawesi Selatan menggelar rapat dengar pendapat bersama PLN mengenai pemadaman bergilir di kantor sementara DPRD Sulsel, Jalan AP Pettarani, Makassar, Kamis (10/9/2026).

Ruang rapat menjadi gelap sekitar pukul 17.40 Wita, sementara pertemuan itu menghasilkan empat kesepakatan, termasuk kompensasi bagi pelanggan terdampak.

Momen tersebut terekam ketika anggota Komisi D, jajaran PLN, dan peserta rapat sedang membahas gangguan pasokan listrik yang berlangsung di sejumlah wilayah Sulsel.

Lampu di ruangan tiba-tiba mati, tetapi pembahasan tetap dilanjutkan.

RDP itu dihadiri Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Sulsel, General Manager PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat, serta General Manager PLN Unit Induk Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Sulawesi.

Ketua Komisi D DPRD Sulsel Kadir Halid mengatakan rapat mengungkap sejumlah faktor yang menyebabkan kemampuan pembangkit tidak mencapai kapasitas penuh.

“Ada gangguan karena PLTA misalnya airnya kurang. Untuk PLTU, uapnya juga kadang ada gangguan. Hal ini menyebabkan pembangkit ini tidak bisa secara full menyalurkan kapasitas yang terpasang di masing-masing pembangkit,” kata Kadir, Kamis (10/9/2026).

BACA JUGA:  Jalan Petta Punggawa: Jejak Panglima Tertinggi Bone yang Gugur dalam Perang 1905

Ia menyebut pemeliharaan sejumlah pembangkit turut mengurangi pasokan yang tersedia untuk Sistem Sulawesi Bagian Selatan.

“Kalau ada pemeliharaan, pasti dihentikan dulu karena harus dipelihara. Menunggu lagi alat-alatnya yang harus diganti atau bagaimana. Sehingga ini semua adalah faktor-faktor sehingga terjadi pemadaman bergilir ini,” ujarnya.

Listrik Padam Saat Penyebab Gangguan Dibahas

Rekaman yang diunggah akun Netral.co.id memperlihatkan ruangan rapat berubah gelap ketika pembahasan berlangsung.

Hanya cahaya dari jendela dan sejumlah perangkat elektronik yang terlihat setelah lampu padam.

Peristiwa itu terjadi pada hari yang sama ketika PLN masih menerapkan pengaturan beban di sejumlah wilayah Makassar.

Jadwal yang diumumkan untuk beberapa wilayah berlangsung sejak sore hingga pukul 23.30 Wita dan dapat berubah mengikuti kondisi sistem secara waktu nyata.

PLN sebelumnya menjelaskan pengaturan beban dilakukan karena daya mampu pasok Sistem Sulbagsel belum sepenuhnya normal.

PLTU Jeneponto berkapasitas 125 megawatt telah kembali beroperasi, tetapi sebagian pembangkit lain masih menjalani proses optimalisasi.

BACA JUGA:  Bentrokan Dua Kelompok di Jembatan Abdesir Makassar Sempat Blokir Jalan, Dugaan Sengketa Lahan Masih Didalami

“Kami memahami kondisi ini berdampak pada aktivitas masyarakat dan memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan,” kata General Manager PLN UID Sulselrabar Edyansyah dalam keterangan pada Senin (7/9/2026).

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru