SulawesiPos.com – Guru Besar Ekotoksikologi Perairan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Ir. Khusnul Yaqin, M.Sc., menilai rekaman ikan laut dalam Scalicus engyceros yang bergerak menyamping dan berjalan mundur menyerupai “moonwalk” di dasar Laut China Selatan bukanlah penampakan organisme asing.
Menurutnya, hal tersebut adalah bukti luar biasa tentang kemampuan evolusi biota laut sekaligus kemajuan teknologi eksplorasi China yang patut menjadi pelajaran strategis bagi Indonesia.
“Scalicus engyceros bukanlah organisme asing, melainkan bagian dari keanekaragaman hayati laut yang telah beradaptasi dengan lingkungan dasar samudra,” kata Prof. Khusnul dalam tanggapannya yang disampaikan kepada Jurnalis SulawesiPos.com, Rabu (2/9/2026).
Tim peneliti China merekam ikan itu pada kedalaman 350–500 meter menggunakan kapal selam berawak Shenhaiyongshi dan kendaraan bawah air kendali jarak jauh Haiqin, sehingga perilakunya dapat diamati secara langsung tanpa harus menangkap atau mengeluarkannya dari habitat alami.
Penelitian berjudul Walking Fish tersebut dipimpin Han Tian dari Universitas Sun Yat-sen bersama para ilmuwan Southern Marine Science and Engineering Guangdong Laboratory, Zhuhai, kemudian dipublikasikan dalam jurnal Ocean-Land-Atmosphere Research pada 2026 dengan DOI 10.34133/olar.0172.
Temuan itu diberitakan ScienceAlert pada 31 Agustus 2026 dan disiarkan melalui layanan informasi ilmiah EurekAlert, sebelum menarik perhatian luas karena gerakan mundurnya disebut belum pernah didokumentasikan pada jenis ikan lain.
Rekaman memperlihatkan S. engyceros menggunakan jari-jari sirip yang tebal, kaku, dan termodifikasi untuk menyangga tubuh serta melangkah di atas sedimen, sementara gerakan menyampingnya menyerupai kepiting atau udang.

Menurut Prof. Khusnul, penggunaan sirip untuk membantu pergerakan di atas substrat bukan fenomena yang sepenuhnya mengejutkan dalam ilmu biologi ikan karena kemampuan serupa dengan mekanisme berbeda telah ditemukan pada sejumlah kelompok ikan.
“Bagi pakar ikan, kemampuan bergerak menggunakan sirip bukan fenomena yang sepenuhnya mengejutkan karena ikan gelodok yang hidup di kawasan mangrove, misalnya, menggunakan sirip dadanya untuk berjalan, melompat, dan mempertahankan posisi di atas substrat berlumpur,” jelasnya.
Kajian anatomi dan biomekanika terhadap ikan gelodok memperlihatkan bahwa sirip dada yang kuat dapat menopang berat tubuh dan menghasilkan gaya dorong di daratan melalui pola gerakan yang dikenal sebagai crutching, yakni kedua sirip mengangkat dan mendorong bagian depan tubuh secara hampir bersamaan.
“Keistimewaan temuan ini terletak pada keberhasilan peneliti mendokumentasikan gerakan menyamping dan berjalan mundur dari Scalicus engyceros dalam keadaan hidup di habitat laut dalam,” tegas Prof. Khusnul.
Tubuh Berzirah dan Sistem Sensor di Dasar Laut
Scalicus engyceros termasuk keluarga Peristediidae atau ikan robin laut berzirah, kelompok ikan dasar yang tubuhnya dilindungi lempeng-lempeng tulang keras sehingga secara visual tampak seperti perpaduan ikan dan udang.
Bagian moncongnya memiliki sungut bercabang menyerupai penggaruk yang digunakan untuk menyapu permukaan sedimen serta mendeteksi makanan dan rintangan melalui rangsangan fisik dan kimiawi.
Dua sirip dadanya terbuka lebar ke arah samping dan diduga membantu menjaga keseimbangan selama ikan berjalan, bergerak lateral, atau mengubah arah di permukaan dasar laut yang tidak rata.
Ketika menghadapi ancaman, ikan tersebut juga mampu melakukan lompatan pendek secara tiba-tiba sebagai respons untuk menjauh dari pemangsa atau gangguan.

