Jalan Bonto Marannu, Jejak Panglima Gowa yang Membawa Perlawanan hingga Jawa

SulawesiPos.com – Di kawasan pusat Kota Makassar, tidak jauh dari Pantai Losari, terdapat sebuah ruas jalan yang panjangnya kurang dari 130 meter.

Jalan itu bernama Jalan Bonto Marannu. Meski pendek dan berujung buntu, nama yang disandangnya merujuk pada salah satu tokoh penting dalam sejarah perlawanan Kerajaan Gowa terhadap VOC pada abad ke-17.

Karaeng Bonto Marannu dikenal sebagai salah satu panglima perang Gowa pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin.

Ia terlibat dalam sejumlah peperangan menghadapi VOC dan menjadi bagian dari kelompok yang tetap meneruskan perlawanan setelah Perjanjian Bungaya mengakhiri fase utama Perang Makassar.

Jejak perjuangannya bahkan tidak berhenti di Sulawesi Selatan. Setelah meninggalkan Gowa, Bonto Marannu melanjutkan perjalanan bersama orang-orang Makassar ke Jawa dan kemudian terlibat dalam pergolakan politik di wilayah tersebut.

Panglima Gowa di Tengah Perang Makassar

Karaeng Bonto Marannu merupakan salah satu pemimpin militer yang berada dalam barisan Kerajaan Gowa ketika kerajaan tersebut menghadapi ekspansi VOC.

BACA JUGA:  Jalan Bau Massepe: Sering Dilewati, Jarang Dikenal, Ini Kisah Pahlawan di Balik Namanya

Pada masa Sultan Hasanuddin, Gowa menjadi salah satu kekuatan maritim penting di kawasan timur Nusantara. Posisi tersebut berhadapan dengan kepentingan VOC yang berusaha menguasai perdagangan dan menerapkan monopoli di kawasan yang sebelumnya terbuka bagi pedagang dari berbagai wilayah.

Bonto Marannu menjadi salah satu tokoh yang menjalankan perlawanan tersebut. Catatan sejarah menyebut ia pernah memimpin pasukan Gowa berkekuatan 10.000 orang dalam ekspedisi ke Buton.

Dalam pertempuran pada awal Januari 1667, pasukannya menghadapi kekuatan VOC dan sekutu-sekutunya.

Banyak pasukan Gowa, terutama dari kelompok Bugis, kemudian berbalik mendukung Arung Palakka sehingga posisi Bonto Marannu semakin terdesak.

Pada 4 Januari 1667, Bonto Marannu bersama Sultan Bima dan Opu Cenning Luwu atas nama Gowa menyatakan menyerah kepada Cornelis Speelman. Ia kemudian ditawan Belanda.

Namun, penyerahan tersebut bukan akhir dari perjalanannya.

Pada Juni 1667, Bonto Marannu berhasil melarikan diri dari tawanan dan kembali bergabung dengan pasukan Makassar.

BACA JUGA:  Jalan Andi Mappanyukki: Raja Bone yang Warisannya Diabadikan di Makassar

Pelarian tersebut membuat Speelman marah dan menjadikannya kembali sebagai salah satu tokoh yang harus diperhitungkan VOC.

SulawesiPos.com – Di kawasan pusat Kota Makassar, tidak jauh dari Pantai Losari, terdapat sebuah ruas jalan yang panjangnya kurang dari 130 meter.

Jalan itu bernama Jalan Bonto Marannu. Meski pendek dan berujung buntu, nama yang disandangnya merujuk pada salah satu tokoh penting dalam sejarah perlawanan Kerajaan Gowa terhadap VOC pada abad ke-17.

Karaeng Bonto Marannu dikenal sebagai salah satu panglima perang Gowa pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin.

Ia terlibat dalam sejumlah peperangan menghadapi VOC dan menjadi bagian dari kelompok yang tetap meneruskan perlawanan setelah Perjanjian Bungaya mengakhiri fase utama Perang Makassar.

Jejak perjuangannya bahkan tidak berhenti di Sulawesi Selatan. Setelah meninggalkan Gowa, Bonto Marannu melanjutkan perjalanan bersama orang-orang Makassar ke Jawa dan kemudian terlibat dalam pergolakan politik di wilayah tersebut.

Panglima Gowa di Tengah Perang Makassar

Karaeng Bonto Marannu merupakan salah satu pemimpin militer yang berada dalam barisan Kerajaan Gowa ketika kerajaan tersebut menghadapi ekspansi VOC.

BACA JUGA:  Jalan Pongtiku: Mengenal Sosok Pahlawan Nasional Asal Toraja

Pada masa Sultan Hasanuddin, Gowa menjadi salah satu kekuatan maritim penting di kawasan timur Nusantara. Posisi tersebut berhadapan dengan kepentingan VOC yang berusaha menguasai perdagangan dan menerapkan monopoli di kawasan yang sebelumnya terbuka bagi pedagang dari berbagai wilayah.

Bonto Marannu menjadi salah satu tokoh yang menjalankan perlawanan tersebut. Catatan sejarah menyebut ia pernah memimpin pasukan Gowa berkekuatan 10.000 orang dalam ekspedisi ke Buton.

Dalam pertempuran pada awal Januari 1667, pasukannya menghadapi kekuatan VOC dan sekutu-sekutunya.

Banyak pasukan Gowa, terutama dari kelompok Bugis, kemudian berbalik mendukung Arung Palakka sehingga posisi Bonto Marannu semakin terdesak.

Pada 4 Januari 1667, Bonto Marannu bersama Sultan Bima dan Opu Cenning Luwu atas nama Gowa menyatakan menyerah kepada Cornelis Speelman. Ia kemudian ditawan Belanda.

Namun, penyerahan tersebut bukan akhir dari perjalanannya.

Pada Juni 1667, Bonto Marannu berhasil melarikan diri dari tawanan dan kembali bergabung dengan pasukan Makassar.

BACA JUGA:  Jalan Ranggong: Asal-Usul Sang Panglima Laskar Lipan Bajeng dan Pahlawan Nasional Asal Takalar

Pelarian tersebut membuat Speelman marah dan menjadikannya kembali sebagai salah satu tokoh yang harus diperhitungkan VOC.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru