SulawesiPos.com — Pemadaman listrik bergilir masih terjadi di Makassar dan sejumlah wilayah Sulawesi Selatan. Kondisi ini berlangsung di tengah musim kemarau dan dijadwalkan selama empat hari, mulai Senin (31/8/2026) hingga Kamis (3/9/2026).
Meski sejumlah wilayah telah mengalami pemadaman sejak Minggu malam (30/8), PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Sulselrabar secara resmi menetapkan periode pemeliharaan infrastruktur dan pengaturan beban selama empat hari tersebut.
Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Jufri Rahman mengatakan pemerintah daerah telah menerima penjelasan PLN mengenai kondisi kelistrikan di wilayah Sulsel.
Menurutnya, salah satu tekanan terhadap pasokan berasal dari berkurangnya debit air di pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
“Iya, saya dilapori faktornya pembangkit listrik tenaga air mulai kekurangan air. Bakaru, tinggi permukaan air sudah turun, Bili-Bili juga seperti itu,” kata Jufri Rahman, Senin (31/8/2026).
Penurunan permukaan air di PLTA Bakaru dan Waduk Bili-Bili membuat kontribusi pembangkit tenaga air terhadap sistem kelistrikan ikut tertekan.
Di sisi lain, PLN sedang melakukan pemeliharaan sejumlah infrastruktur.
PLN Ungkap Pemadaman Berlangsung Sekitar 2 Jam
Manager Komunikasi dan TJSL PLN UID Sulselrabar Niki Rendra Adisetiawan mengatakan pemadaman merupakan bagian dari pengaturan beban untuk menjaga sistem tetap stabil selama pemeliharaan.
“Sedang dilakukan pemeliharaan pada infrastruktur ketenagalistrikan yang berdampak pada pasokan listrik di sejumlah wilayah,” kata Niki dalam keterangannya.
PLN memperkirakan pengaturan beban berlangsung sekitar dua jam.
Namun, waktu tersebut dapat berubah sesuai kondisi teknis di lapangan.
“Untuk menjaga kestabilan sistem kelistrikan, PLN melakukan pengaturan beban dengan estimasi durasi sekitar dua jam, menyesuaikan dengan kondisi di lapangan,” ujarnya.
Niki memastikan petugas terus melakukan percepatan pemulihan agar pasokan kembali normal.
“Tim PLN terus melakukan upaya percepatan agar pasokan listrik dapat segera kembali normal,” katanya.
Kemarau Ikut Menjadi Tantangan
Sekda Jufri juga mengatakan kondisi kemarau membuat penggunaan pembangkit berbahan bakar diesel menjadi salah satu alternatif yang memiliki konsekuensi biaya lebih tinggi.
“Kan ada tenaga listrik. Ya, tapi (kebutuhan) solar juga naik. Tentu PLN kan cari untung juga. Daripada rugi, tentu teknik yang paling lazim selama ini pemadaman bergilir,” ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat di wilayah terdampak diminta menyesuaikan aktivitas selama periode pengaturan beban.

