SulawesiPos.com — Jalan Hertasning merupakan salah satu ruas jalan yang cukup dikenal di Kota Makassar. Membentang sekitar 2,7 kilometer, jalan ini menghubungkan kawasan Kelurahan Masale, Kecamatan Panakkukang, dengan Kelurahan Kassi-Kassi, Kecamatan Rappocini, sekaligus menjadi salah satu akses yang menghubungkan Kota Makassar dan Kabupaten Gowa.
Di balik nama Hertasning, terdapat sosok Haeruddin Tasning, tokoh asal Sulawesi Selatan yang dikenal sebagai pejuang kemerdekaan, perwira militer, diplomat, dan pernah menjabat sebagai Duta Besar Republik Indonesia.
Nama Hertasning sendiri merupakan bentuk yang populer dari nama Haeruddin Tasning.
Haeruddin Tasning, Putra Parangtambung
Dalam buku Tokoh di Balik Nama-Nama Jalan Kota Makassar yang disusun Ahyar Anwar dan Aslan Abidin pada 2008, Haeruddin Tasning disebut lahir di Parangtambung pada 19 Desember 1922.
Ia merupakan putra kedua pasangan H. Tasning Daeng Muntu dan Hj. Bonto Daeng Kunjung. Sejak kecil, Haeruddin Tasning disebut dipanggil HerTasning.
Masa pendidikannya dihabiskan di Makassar. Ia menempuh pendidikan dasar di Europesche Lager School (ELS), kemudian melanjutkan ke Shakel School dan MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs).
Ketika bersekolah di MULO, HerTasning disebut tinggal menumpang di rumah H. Badong, seorang pedagang kayu di Jalan Latimojong. Saat itu, kedua orang tuanya telah pindah ke Kampung Taeng, kawasan pinggiran Sungguminasa.
Setelah menyelesaikan MULO pada 1942, ia melanjutkan pendidikan ke Bogor. HerTasning menjadi mahasiswa Landbouw School di Buitenzorg, lembaga pendidikan yang kemudian menjadi bagian dari sejarah perkembangan Institut Pertanian Bogor (IPB).
Ia memiliki keinginan untuk memajukan sektor pertanian di Parangtambung. Namun, rencana tersebut terhenti setelah masuknya tentara Jepang ke Hindia-Belanda.
Bergabung dalam Perjuangan Kemerdekaan
Setelah Indonesia merdeka dan pasukan NICA-Belanda kembali, HerTasning ikut bergerilya di Jawa.
Dalam perjuangannya di Jawa Tengah, ia bertemu sejumlah pejuang asal Sulawesi Selatan, di antaranya Andi Achmad Rifai Manggabarani, Kahar Muzakkar, dan Andi Mattalatta.
Mereka kemudian berjuang bersama pasukan yang dipimpin Jenderal Sudirman.
Dalam masa perjuangan tersebut, HerTasning juga bertemu dengan R.A. Madahera, perempuan yang bertugas merawat para pejuang di garis depan. Keduanya kemudian menikah pada 1948.
Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai empat anak.
Peran Penting dalam Militer Sulawesi Selatan
Riwayat Haeruddin Tasning juga tercatat dalam skripsi Rahmadi berjudul “Komando Resor Militer (Korem) 141/Toddopuli di Sulawesi Selatan Tahun 1956–1980”.
Skripsi tersebut menyebut Mayor CPM Haeruddin Tasning sebagai salah satu perwira lokal yang mendapat posisi penting dalam pembentukan struktur komando militer Sulawesi Selatan pada masa pergolakan politik dan keamanan 1950-an.
Melalui Surat Keputusan KSAD Nomor 246/5/1957 tanggal 29 Mei 1957, Letnan Kolonel Inf. Andi Mattalatta diangkat sebagai pejabat Komandan, sedangkan Mayor CPM Haeruddin Tasning diangkat sebagai pejabat Kepala Staf Komando Daerah Militer Sulawesi Selatan-Tenggara (KDMSST).
KDMSST kemudian diresmikan pada 1 Juni 1957. Pembentukannya berlangsung ketika Sulawesi Selatan dan Tenggara masih menghadapi situasi politik dan keamanan yang penuh pergolakan.

