Dari Gerobak Lorong ke Ruko, Cece Widya Jaga Nasi Kuning Warisan Ibu

SulawesiPos.com – Widyawati Indahyani (31) memilih berhenti dari pekerjaannya sebagai karyawan toko pada 2021 untuk meneruskan usaha nasi kuning keluarganya di Makassar setelah sang ibu, Wiwik, terserang stroke.

Keputusan itu membuat usaha yang sempat berhenti selama tujuh bulan dibangun kembali dengan brand baru: Nasi Kuning Gerobak Cece. Cece artinya kakak perempuan dalam bahasa Tionghoa, yang berasal dari pihak ayah Widya, yang berdarah Tionghoa.

Selain itu brand Gerobak Cece identik dengan lokasi Usaha di tengah kawasan Pecinan, di sekitar Jalan Sulawesi dan sekitarnya.

Bisnis nasi kuning Gerobak Cece ini kemudian berkembang, dan ramai didatangi pelanggan setelah promosi di TikTok dan Instagram menarik perhatian warga.

Usaha tersebut berawal dari resep keluarga asal Babat, sebuah kota kecil di Lamongan, Jawa Timur, yang pertama kali dijalankan Ibu Wiwik di Parepare pada 1998.

Saat itu, menu yang dijual tidak hanya nasi kuning, tetapi juga nasi campur dan aneka olahan bakar.

BACA JUGA:  Tinjau Pengungsian Banjir, Wali Kota Makassar Pastikan Warga Tak Kekurangan Bantuan

Keluarga ini kemudian pindah ke Makassar pada 2009 dan memutuskan fokus menjual nasi kuning. Namun perjalanan usaha mereka di Kota Daeng tidak langsung mulus.

Setelah sempat menyewa ruko selama sekitar tiga tahun tanpa perkembangan berarti, modal usaha mereka terkikis.

Sejak 2010, Ibu Wiwik kemudian berjualan menggunakan gerobak sederhana di depan toko arloji, di Jalan Sulawesi, tidak jauh dari rumahnya, di lorong 214.

Pukulan terbesar datang pada awal 2021 ketika Ibu Wiwik terserang stroke dan usaha keluarga itu harus berhenti beroperasi selama tujuh bulan.

Widyawati, anak kedua dari tiga bersaudara, lalu memutuskan mengambil alih usaha yang selama ini menjadi sandaran keluarga.

“Sayang sekali resep ibu yang sudah menemani banyak pelanggan bertahun-tahun harus berhenti. Saya memutuskan berhenti bekerja dan fokus melanjutkan perjuangan ibu,” ungkap Widya pada Sulawesi Pos, Jumat, 14 Agustus 2026.

Nasi Kuning Gerobak Cece, dengan sajian menu andalan: paru goreng dan Toppa Lada.

Suaminya pun ikut terlibat dalam operasional usaha dengan membagi waktu di sela pekerjaan utamanya di perusahaan ekspedisi untuk berbelanja bahan baku ke pasar. Peran itu sebelumnya dijalankan ayah Widyawati hingga wafat pada 2024.

BACA JUGA:  Puluhan Emak-Emak Aksi di PN Makassar, Dukung Hakim Sidangkan Gugatan Ahli Waris Moha bin Batjo tanpa Intervensi

Viral Setelah Promosi di Media Sosial

Perubahan besar datang ketika promosi usaha mulai digencarkan lewat TikTok dan Instagram. Nasi Kuning Gerobak Cece mulai viral sekitar September tahun 2025 lalu.

Pelanggan lama yang sempat kehilangan jejak kembali berdatangan, disusul pembeli baru dari sejumlah wilayah di sekitar Makassar, termasuk Antang dan Gowa.

SulawesiPos.com – Widyawati Indahyani (31) memilih berhenti dari pekerjaannya sebagai karyawan toko pada 2021 untuk meneruskan usaha nasi kuning keluarganya di Makassar setelah sang ibu, Wiwik, terserang stroke.

Keputusan itu membuat usaha yang sempat berhenti selama tujuh bulan dibangun kembali dengan brand baru: Nasi Kuning Gerobak Cece. Cece artinya kakak perempuan dalam bahasa Tionghoa, yang berasal dari pihak ayah Widya, yang berdarah Tionghoa.

Selain itu brand Gerobak Cece identik dengan lokasi Usaha di tengah kawasan Pecinan, di sekitar Jalan Sulawesi dan sekitarnya.

Bisnis nasi kuning Gerobak Cece ini kemudian berkembang, dan ramai didatangi pelanggan setelah promosi di TikTok dan Instagram menarik perhatian warga.

Usaha tersebut berawal dari resep keluarga asal Babat, sebuah kota kecil di Lamongan, Jawa Timur, yang pertama kali dijalankan Ibu Wiwik di Parepare pada 1998.

Saat itu, menu yang dijual tidak hanya nasi kuning, tetapi juga nasi campur dan aneka olahan bakar.

BACA JUGA:  PSM Makassar Uji Stefan Baltic, Luka Bulatovic Makin Dekat Gabung Juku Eja

Keluarga ini kemudian pindah ke Makassar pada 2009 dan memutuskan fokus menjual nasi kuning. Namun perjalanan usaha mereka di Kota Daeng tidak langsung mulus.

Setelah sempat menyewa ruko selama sekitar tiga tahun tanpa perkembangan berarti, modal usaha mereka terkikis.

Sejak 2010, Ibu Wiwik kemudian berjualan menggunakan gerobak sederhana di depan toko arloji, di Jalan Sulawesi, tidak jauh dari rumahnya, di lorong 214.

Pukulan terbesar datang pada awal 2021 ketika Ibu Wiwik terserang stroke dan usaha keluarga itu harus berhenti beroperasi selama tujuh bulan.

Widyawati, anak kedua dari tiga bersaudara, lalu memutuskan mengambil alih usaha yang selama ini menjadi sandaran keluarga.

“Sayang sekali resep ibu yang sudah menemani banyak pelanggan bertahun-tahun harus berhenti. Saya memutuskan berhenti bekerja dan fokus melanjutkan perjuangan ibu,” ungkap Widya pada Sulawesi Pos, Jumat, 14 Agustus 2026.

Nasi Kuning Gerobak Cece, dengan sajian menu andalan: paru goreng dan Toppa Lada.

Suaminya pun ikut terlibat dalam operasional usaha dengan membagi waktu di sela pekerjaan utamanya di perusahaan ekspedisi untuk berbelanja bahan baku ke pasar. Peran itu sebelumnya dijalankan ayah Widyawati hingga wafat pada 2024.

BACA JUGA:  Perbanas Sulsel Salurkan CSR Booth UMKM di Kawasan Sudirman Makassar

Viral Setelah Promosi di Media Sosial

Perubahan besar datang ketika promosi usaha mulai digencarkan lewat TikTok dan Instagram. Nasi Kuning Gerobak Cece mulai viral sekitar September tahun 2025 lalu.

Pelanggan lama yang sempat kehilangan jejak kembali berdatangan, disusul pembeli baru dari sejumlah wilayah di sekitar Makassar, termasuk Antang dan Gowa.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru