SulawesiPos.com – India dan Israel diperkirakan mempercepat kerja sama di bidang pertahanan, teknologi, intelijen, dan konektivitas ekonomi. Langkah itu menyusul penandatanganan Pakta Pertahanan Bersama Makkah oleh Arab Saudi, Türkiye, dan Pakistan di Arab Saudi pada Jumat (7/8/2026).
Pakta tersebut menetapkan bahwa serangan terhadap satu anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota.
Perjanjian itu dinilai memperkuat posisi Pakistan, memperluas pengaruh Ankara, dan mengubah arsitektur keamanan Asia Barat. Demikian laporan The Jerusalem Post pada 10 Agustus 2026.
Pakta tersebut ditandatangani Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Arab Saudi Mohammed bin Salman, Presiden Türkiye Recep Tayyip Erdoğan, dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dalam pertemuan di Istana Al-Safa, Makkah.
Pernyataan bersama ketiga negara menegaskan bahwa perjanjian itu bertujuan memperkuat daya tangkal kolektif dan menetapkan bahwa serangan bersenjata terhadap salah satu anggotanya akan dipandang sebagai serangan terhadap ketiganya, meskipun naskah lengkap serta rincian kewajiban militernya belum diumumkan kepada publik.
Menteri Luar Negeri Türkiye Hakan Fidan menyamakan prinsip pertahanan bersama tersebut dengan Pasal 5 Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO, tetapi menegaskan bahwa perjanjian itu bersifat defensif dan tidak diarahkan secara khusus terhadap Iran ataupun negara lain.
Perjanjian itu akan dilengkapi komite tingkat menteri, pertemuan berkala pejabat pertahanan dan luar negeri, serta sekretariat permanen di Arab Saudi, sementara rincian operasionalnya akan dirumuskan lebih lanjut oleh ketiga negara.
Telepon Modi–Netanyahu Bukan Percakapan Rahasia
Sehari sebelum penandatanganan pakta, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menelepon Perdana Menteri India Narendra Modi pada Kamis (6/8/2026) untuk membahas perkembangan terbaru di Asia Barat serta kemajuan Kemitraan Strategis Khusus India–Israel.
Kantor Perdana Menteri India mengumumkan percakapan itu secara terbuka dan menyatakan kedua pemimpin berkomitmen memperkuat kerja sama lintas sektor, sehingga penyebutan “panggilan rahasia” dalam sejumlah narasi media tidak didukung oleh keterangan resmi. Kantor Perdana Menteri India
Tidak ada pernyataan resmi yang memastikan bahwa Pakta Makkah menjadi pokok pembicaraan Modi dan Netanyahu, tetapi kedekatan waktunya membuat The Jerusalem Post menafsirkan percakapan tersebut sebagai indikasi awal munculnya penyeimbangan geopolitik baru.
India mempunyai alasan strategis untuk mengamati pakta itu karena Pakistan merupakan pesaing militer utamanya, sedangkan Türkiye selama bertahun-tahun mengembangkan kerja sama pertahanan dengan Islamabad, termasuk dalam teknologi pesawat nirawak, kapal perang, avionik, dan latihan militer.
Kementerian Luar Negeri India menegaskan bahwa New Delhi mengikuti perkembangan perjanjian tersebut secara saksama, tetapi tidak mengumumkan pembentukan pakta pertahanan timbal balik baru dengan Israel.
Laporan bahwa India telah meminta Israel segera menandatangani perjanjian pertahanan formal juga dibantah oleh unit pemeriksa fakta pemerintah India sebagai informasi palsu, meskipun kerja sama militer kedua negara memang telah lama mencakup pertahanan udara, radar, rudal, pesawat nirawak, dan teknologi pengawasan.
Modal Saudi, Teknologi Türkiye, dan Kekuatan Militer Pakistan
Daya tarik utama Pakta Makkah terletak pada perpaduan kemampuan ketiga negara, yakni kekuatan finansial dan posisi geografis Arab Saudi, industri pertahanan serta pengalaman NATO milik Türkiye, dan angkatan bersenjata besar beserta kemampuan strategis Pakistan.
Türkiye dapat menyumbangkan keahlian dalam pesawat nirawak, rudal, perang elektronik, platform angkatan laut, komando dan kendali, serta operasi lintas negara, sedangkan Pakistan memiliki pengalaman panjang dalam pelatihan militer, pertahanan udara, dan pengelolaan daya tangkal strategis.
Pakistan memang merupakan satu-satunya anggota pakta yang memiliki senjata nuklir, tetapi perjanjian yang diumumkan tidak menyebut pemindahan senjata, mekanisme berbagi nuklir, ataupun jaminan resmi bahwa persenjataan nuklir Pakistan otomatis melindungi Arab Saudi dan Türkiye.
Karena itu, istilah “bayang-bayang nuklir Pakistan” lebih tepat daripada “payung nuklir”, sebab keberadaan negara bersenjata nuklir dapat memengaruhi perhitungan lawan tanpa dengan sendirinya menjadi komitmen penggunaan senjata nuklir.

