Fatmawati Berdayakan Ibu Rumah Tangga Lewat Songkok Recca, UMKM Makassar Ini Raup Omzet Rp25 Juta per Bulan

SulawesiPos.com – Fatmawati, pelaku UMKM asal Makassar, membangun usaha kerajinan Songkok Recca bernama Songkok Dua Putri sejak 2010 dan kini mencatat omzet rata-rata sekitar Rp25 juta per bulan sambil memberdayakan ibu-ibu rumah tangga di sekitar workshop-nya di Jalan Mongisidi Baru.

Usaha ini berangkat dari keterampilan menganyam yang diwarisi Fatmawati dari keluarganya di Galesong.

Ia lalu mengembangkan kerajinan songkok tradisional khas Bugis-Makassar yang biasa disebut Songkok Bone atau Songkok Guru, dengan memadukan serat lontar, benang sutra, hingga material tembaga dan perak untuk varian premium.

Dalam operasional hariannya, Fatmawati mempekerjakan delapan tenaga kerja tetap untuk menjaga produksi tetap berjalan.

Saat pesanan meningkat, ia juga mengajak ibu-ibu rumah tangga di lorong sekitar tempat usahanya untuk belajar menganyam sekaligus membantu proses produksi.

“Ada ibu-ibu rumah tangga yang kita ajar di lorong. Daripada dia bergosip, lebih baik kita ajarkan, manfaatkan waktunya,” ungkap Fatmawati.

Langkah itu ia jalankan sebagai cara memperluas manfaat usaha, bukan hanya untuk menambah kapasitas produksi, tetapi juga untuk membuka peluang penghasilan bagi warga sekitar.

BACA JUGA:  Jukir Liar di Makassar Pukul Pengendara usai Diberi Rp2.000, Korban Alami Luka di Wajah

Proses Anyaman dan Pasar Premium

Fatmawati menjelaskan satu songkok kualitas biasa umumnya membutuhkan waktu pengerjaan satu hingga dua hari.

Untuk varian premium dengan anyaman lebih padat dan motif yang lebih rumit, proses produksinya bisa memakan waktu tiga hingga empat hari untuk satu produk.

Harga jualnya pun berbeda sesuai bahan dan tingkat kesulitan pengerjaan.

Songkok kualitas biasa dipasarkan mulai Rp150.000 hingga Rp350.000 per buah.

SulawesiPos.com – Fatmawati, pelaku UMKM asal Makassar, membangun usaha kerajinan Songkok Recca bernama Songkok Dua Putri sejak 2010 dan kini mencatat omzet rata-rata sekitar Rp25 juta per bulan sambil memberdayakan ibu-ibu rumah tangga di sekitar workshop-nya di Jalan Mongisidi Baru.

Usaha ini berangkat dari keterampilan menganyam yang diwarisi Fatmawati dari keluarganya di Galesong.

Ia lalu mengembangkan kerajinan songkok tradisional khas Bugis-Makassar yang biasa disebut Songkok Bone atau Songkok Guru, dengan memadukan serat lontar, benang sutra, hingga material tembaga dan perak untuk varian premium.

Dalam operasional hariannya, Fatmawati mempekerjakan delapan tenaga kerja tetap untuk menjaga produksi tetap berjalan.

Saat pesanan meningkat, ia juga mengajak ibu-ibu rumah tangga di lorong sekitar tempat usahanya untuk belajar menganyam sekaligus membantu proses produksi.

“Ada ibu-ibu rumah tangga yang kita ajar di lorong. Daripada dia bergosip, lebih baik kita ajarkan, manfaatkan waktunya,” ungkap Fatmawati.

Langkah itu ia jalankan sebagai cara memperluas manfaat usaha, bukan hanya untuk menambah kapasitas produksi, tetapi juga untuk membuka peluang penghasilan bagi warga sekitar.

BACA JUGA:  3 Pelaku Bobol Toko Bangunan di Makassar, Bergendong Naik Pagar lalu Curi Pipa Tembaga

Proses Anyaman dan Pasar Premium

Fatmawati menjelaskan satu songkok kualitas biasa umumnya membutuhkan waktu pengerjaan satu hingga dua hari.

Untuk varian premium dengan anyaman lebih padat dan motif yang lebih rumit, proses produksinya bisa memakan waktu tiga hingga empat hari untuk satu produk.

Harga jualnya pun berbeda sesuai bahan dan tingkat kesulitan pengerjaan.

Songkok kualitas biasa dipasarkan mulai Rp150.000 hingga Rp350.000 per buah.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru