SulawesiPos.com – Pemerintah Irak mengklaim telah menangkap sejumlah sel sabotase yang diduga bekerja untuk kepentingan intelijen Ukraina setelah serangkaian serangan terhadap fasilitas pemerintah di Irak.
Ukraina membantah keras tuduhan tersebut dan menyebutnya tidak berdasar.
Peristiwa ini memicu babak baru ketegangan geopolitik yang berpotensi memperluas konflik dari Eropa ke Timur Tengah.
Izvestia melaporkan perkembangan ini, sementara bantahan resmi Kementerian Luar Negeri Ukraina dipublikasikan Anadolu Agency (AA) dan Ukrainska Pravda pada 31 Juli 2026.
Penasihat Keamanan Nasional Irak, Qasim al-Aboudi, mengatakan aparat keamanan negaranya berhasil mengidentifikasi dan menangkap beberapa kelompok yang diduga melakukan aksi sabotase terhadap sejumlah fasilitas pemerintah di Irak.
Menurut al-Aboudi, para tersangka mengaku saat menjalani pemeriksaan bahwa mereka bekerja untuk kepentingan Ukraina.
Meski demikian, ia tidak mengungkap identitas para tersangka, jumlah pasti yang ditangkap, maupun fasilitas negara yang menjadi sasaran serangan.
Ia juga mengakui bahwa penyelidikan masih berlangsung karena kasus tersebut sangat kompleks sehingga belum memungkinkan pemerintah Irak menetapkan kesimpulan akhir mengenai seluruh aktor yang terlibat.
Dugaan Operasi “False Flag” Mengemuka
Sejumlah media dan analis keamanan Irak menduga para pelaku berusaha melaksanakan operasi false flag, yaitu melakukan serangan kemudian mengarahkan tuduhan kepada kelompok-kelompok perlawanan Irak yang selama ini dikenal dekat dengan Iran.
Apabila dugaan tersebut terbukti, operasi semacam itu berpotensi meningkatkan ketegangan politik domestik Irak sekaligus menyeret negara tersebut lebih jauh ke dalam konfrontasi regional.
Spekulasi tersebut menguat setelah gelombang serangan pesawat nirawak terjadi di wilayah Erbil pada pertengahan Juli 2026 ketika puluhan drone dicegat sistem pertahanan udara, termasuk di sekitar Bandara Internasional Erbil dan kawasan Konsulat Amerika Serikat.

