SulawesiPos.com – Duka yang menyelimuti keluarga KD, pria asal Desa Sidatapa, Kabupaten Buleleng, belum juga mereda setelah ia tewas dalam aksi main hakim sendiri pada Jumat (24/7/2026) dini hari, sekitar pukul 01.30 WITA, di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali.
Di tengah tuduhan pencurian dan pengeroyokan yang menewaskannya, keluarga korban kini harus bertahan tanpa sosok kepala rumah tangga, sementara masa depan pendidikan anak-anaknya ikut menjadi perhatian pemerintah.
Istri korban, Putu Dewi Suryatini, mengungkapkan bahwa sebelum kabar duka datang, suaminya sempat tiga hari tidak pulang ke rumah.
Penantian keluarga yang semula dipenuhi harapan berubah menjadi kenyataan pahit setelah mereka menerima kabar bahwa KD telah meninggal dunia.
“Tiga hari tidak pulang ke rumah sebelum kabar duka itu akhirnya diterima dari kerabat dan tetangga,” tutur Putu Dewi saat ditemui di rumah duka.
Selain kehilangan, keluarga kini dihadapkan pada tekanan ekonomi. Putu Dewi menyebut biaya pendidikan anak-anak menjadi salah satu beban paling mendesak setelah kepergian suaminya.
KD meninggalkan seorang istri dan tiga anak, termasuk dua anak yang masih menempuh pendidikan.
Video Tangis Anak Jadi Sorotan
Peristiwa ini menyita perhatian luas setelah beredar video yang memperlihatkan tangis histeris putri bungsu korban di samping jenazah ayahnya.
Momen itu memicu gelombang simpati publik sekaligus mempertegas dampak psikologis yang harus ditanggung keluarga setelah tragedi tersebut.
Kementerian Hak Asasi Manusia mengecam keras aksi main hakim sendiri yang menewaskan KD.
Koordinator KemenHAM Wilayah Kerja Bali, Anak Agung Gede Ngurah Dalem, menegaskan bahwa tindakan seperti itu tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga menimbulkan trauma mendalam bagi keluarga korban, terutama anak-anak.

