SulawesiPos.com – Indonesia didorong mempercepat transisi menuju energi bersih setelah krisis di Selat Hormuz akibat konflik Iran memicu lonjakan harga energi global.
Gangguan distribusi minyak dan gas dunia dinilai menunjukkan tingginya kerentanan negara yang masih bergantung pada energi fosil impor.
Kenaikan harga minyak dan gas alam cair (LNG) dinilai berpotensi menekan stabilitas ekonomi domestik.
Karena itu, penggunaan energi terbarukan dipandang semakin penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional dalam jangka panjang.
Policy Strategist Cerah, M. Dwiki Mahendra, mengatakan kebijakan pemerintah yang saat ini fokus pada pengendalian konsumsi BBM dan pencarian pasokan energi alternatif masih bersifat jangka pendek.
Menurutnya, pemerintah seharusnya memanfaatkan situasi krisis global tersebut untuk mempercepat transformasi energi nasional.
“Seharusnya pendekatan kerja sama bilateral yang telah dilakukan dapat pula diterapkan lebih gencar oleh Pemerintah Indonesia dalam mendorong proses transisi ke energi terbarukan, terkhusus dalam situasi krisis saat ini. Melalui langkah tersebut, percepatan energi terbarukan, kendaraan listrik, PLTS atap, serta elektrifikasi rumah tangga dipandang sebagai cara untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil impor yang harganya sangat fluktuatif,” kata Dwiki dalam keterangannya, Minggu (17/5/2026).
Dwiki menilai kerja sama internasional Indonesia seharusnya tidak hanya diarahkan untuk menjaga pasokan energi, tetapi juga difokuskan pada transfer teknologi energi bersih, pembiayaan murah, dan penguatan industri hijau dalam negeri.
Ia juga menekankan pentingnya memanfaatkan forum multilateral seperti G20 dan ASEAN untuk menarik pendanaan hijau.
Menurutnya, dukungan pembiayaan tersebut penting guna mendukung target pembangunan kapasitas energi surya nasional hingga 100 gigawatt (GW).
“Krisis Hormuz telah membuktikan bahwa energi fosil rentan terhadap situasi geopolitik yang membentuk ketergantung terhadap rute pasok yang stabil. Kerentanan tersebut hanya dapat dijawab secara permanen oleh transisi energi,” ujarnya.
ETC: Energi Bersih Lebih Tahan Hadapi Gejolak Harga
Dalam laporan terbaru Energy Transitions Commission (ETC) berjudul Lessons on Energy Security after the Hormuz Crisis: How Accelerating the Clean Energy Transition Builds Resilience Against Future Price Shocks, disebutkan bahwa krisis Hormuz memperlihatkan pentingnya sistem energi alternatif yang lebih tangguh.
ETC memperkirakan percepatan penggunaan energi bersih dapat memangkas permintaan minyak dan gas global lebih dari 20 persen pada 2035.
Laporan tersebut juga menunjukkan perbedaan dampak krisis pada tiap negara.
Spanyol yang sekitar 57 persen listriknya berasal dari energi bersih hanya mengalami kenaikan harga listrik sekitar USD 50 per megawatt-hour (MWh), terendah di Uni Eropa.
Sebaliknya, Singapura yang masih bergantung sekitar 95 persen pada gas untuk pembangkit listrik mengalami lonjakan harga hingga melampaui USD 200 per MWh.
Co-Chair ETC, Adair Turner, menilai ketergantungan terhadap energi fosil kini menjadi ancaman ekonomi dan strategis.
“Krisis saat ini menunjukkan bahwa ketergantungan bahan bakar fosil tidak hanya merupakan risiko iklim tetapi juga kerentanan ekonomi dan strategis. Sistem energi bersih lebih terdistribusi, lebih efisien dan kurang terpapar guncangan harga yang diciptakan oleh ketergantungan terus menerus pada bahan bakar yang diperdagangkan,” kata Turner.
Distribusi Energi Global Terganggu
ETC mencatat penutupan Selat Hormuz menghambat distribusi sekitar 18,4 juta barel minyak per hari dan 110 miliar meter kubik LNG per hari.
Sebagian besar pasokan tersebut ditujukan untuk pasar Asia.
Akibat gangguan distribusi tersebut, harga minyak acuan Asia melonjak dari sekitar USD 70 per barel menjadi USD 90–120 per barel pada Maret.
Harga LNG juga naik tajam dari kisaran USD 10–12 per MMBtu menjadi lebih dari USD 25 per MMBtu.
Kenaikan harga energi berdampak langsung pada biaya transportasi, listrik rumah tangga, pangan, hingga sektor industri.
ETC memperkirakan tambahan beban ekonomi global akibat krisis ini dapat mencapai USD 1–2 triliun sepanjang 2026 apabila situasi terus berlanjut.
Co-Chair ETC lainnya, Jules Kortenhorst, mengatakan dunia selama ini terlalu bergantung pada sistem energi yang rapuh terhadap gangguan geopolitik.
“Selama beberapa dekade kami telah membangun sistem energi yang boros, tidak aman, dan mudah berubah. Tiga perempat populasi dunia bergantung pada bahan bakar yang tidak mereka kendalikan, dihargai di pasar yang tidak mereka pengaruhi, rentan terhadap guncangan yang tidak dapat mereka cegah,” ujarnya.

