Oleh: Prof. Dr. H. Marsuki DEA
Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan yang menyentuh angka 6,88 persen pada triwulan I-2026 merupakan capaian statistik yang cukup menggembirakan di tengah ketidakpastian global dan nasional yang masih menyelimuti.
Capaian ini menjadi sinyal kuat bahwa Sulsel tetap kokoh sebagai “lokomotif ekonomi penting di Kawasan Timur Indonesia”.
Nilai tambah ekonomi yang mencapai Rp191,28 triliun menunjukkan aktivitas sektor produktif dalam perekonomian Sulsel tetap berlangsung dan terjaga.
Kondisi ini memberikan ruang optimisme bagi pelaku ekonomi, konsumen, dan dunia usaha, terutama di sektor jasa.
Hal yang menarik di tengah tren kuantitatif perekonomian yang kondusif tersebut, dari sisi kualitas juga terlihat indikator yang cukup baik.
Itu tercermin dari adanya perbaikan struktur ketenagakerjaan dengan bertambahnya sekitar 170,90 ribu penduduk bekerja serta meningkatnya proporsi pekerja penuh waktu menjadi 62,49 persen pada triwulan I/2026.
Artinya, ekonomi tidak hanya tumbuh secara agregat, tetapi juga mulai menciptakan lapangan kerja yang lebih stabil bagi masyarakat.
Ke depan, kondisi ini diharapkan dapat berdampak pada penurunan jumlah dan tingkat kemiskinan masyarakat.
Sesuai data BPS, sumber utama pendorong pertumbuhan berasal dari sektor Administrasi Pemerintahan sebesar 20,56 persen, kemudian sektor Transportasi 11,43 persen, serta sektor Akomodasi dan Makan Minum sebesar 10,67 persen.
Sektor-sektor tersebut menunjukkan bahwa mobilitas dan konsumsi masyarakat masih menjadi penggerak utama perekonomian Sulsel.
Selain itu, program hilirisasi, di antaranya proyek perunggasan terintegrasi, mulai menunjukkan dampaknya dalam memperkuat dan menjaga rantai pasok lokal secara berkelanjutan.
Tantangannya adalah bagaimana keberlanjutan proyek hilirisasi tersebut dapat terus dijaga ke depan.
Transformasi struktural melalui hilirisasi harus terus diupayakan agar perekonomian masyarakat tidak hanya bergantung pada sektor konsumsi dan jasa.
Hal penting lainnya adalah pertumbuhan ekonomi yang tinggi harus dibarengi dengan pemerataan dampak dan manfaatnya.
Dengan demikian, angka pertumbuhan 6,88 persen benar-benar dapat menjadi indikator meningkatnya kesejahteraan masyarakat secara merata hingga ke pelosok wilayah, kabupaten, kelurahan, dan desa.
Pada prinsipnya, Sulsel memiliki modal besar untuk mencapai tujuan tersebut.
Tinggal bagaimana para pemangku kepentingan, pemerintah daerah, otoritas moneter, fiskal, dan sektor keuangan di Sulsel dapat bersinergi dan berkoordinasi secara optimal agar tren pertumbuhan ekonomi yang baik ini tetap terjaga, inklusif, dan berkelanjutan.
Prof. Dr. H. Marsuki DEA
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin

