SulawesiPos.com – Sebuah laporan ilmiah yang dipublikasikan oleh Yale School of Medicine, Yale University, Amerika Serikat melalui artikel yang ditulis oleh Isabella Backman pada 6 April 2026 mengungkap temuan mengejutkan tentang cara kerja mata manusia dalam memproses penglihatan, khususnya dalam kondisi cahaya rendah.
Penelitian yang dimuat dalam jurnal ilmiah Neuron tersebut menjelaskan bahwa selama ini para ilmuwan memahami sistem visual manusia bekerja dengan cara memisahkan informasi seperti warna, kontras, dan gerakan ke dalam jalur-jalur terpisah yang diproses secara paralel agar otak dapat mengenali objek dengan cepat.
Namun temuan terbaru ini justru menunjukkan bahwa jalur-jalur informasi tersebut tidak sepenuhnya terpisah, melainkan saling terhubung dan terintegrasi melalui jaringan listrik di dalam retina, sebuah mekanisme yang sebelumnya tidak banyak disadari dalam kajian ilmu saraf visual.
Peneliti utama dalam studi ini, Yao Xue PhD, dari Departemen Oftalmologi dan Ilmu Visual Yale, menjelaskan bahwa meskipun setiap jalur visual memiliki fungsi spesifik, seluruh jalur tersebut ternyata terhubung melalui sirkuit listrik yang memungkinkan pertukaran informasi secara dinamis.
Proses penglihatan manusia sendiri dimulai dari sel batang dan kerucut di retina yang berfungsi menangkap cahaya, kemudian sinyal tersebut diteruskan ke sel bipolar yang menjadi pusat pemrosesan awal sebelum informasi dikirim ke otak.
Dalam penelitian ini ditemukan bahwa pada tingkat sinapsis sel bipolar—yakni titik pertemuan antar sel saraf—terjadi percampuran sinyal yang menunjukkan adanya komunikasi silang antar jalur informasi visual yang sebelumnya dianggap independen.
Secara biologis, neuron diketahui berkomunikasi melalui dua jenis sinapsis, yaitu sinapsis kimia yang menggunakan neurotransmiter dan sinapsis listrik yang menggunakan arus listrik langsung, dan pada sel bipolar ternyata sinapsis listrik memainkan peran penting dalam mengintegrasikan sinyal visual.
Eksperimen yang dilakukan pada retina tikus dan manusia menunjukkan bahwa ketika satu sel bipolar distimulasi, bukan hanya sel tersebut yang merespons, melainkan banyak sel lain ikut mengirimkan sinyal secara bersamaan dalam pola menyerupai awan, yang menandakan adanya jaringan komunikasi yang luas.
Profesor Z Jimmy Zhou, pakar oftalmologi dari Yale, menyebut bahwa fenomena ini membuktikan adanya sistem koordinasi antar sel yang jauh lebih kompleks, bahkan ditemukan adanya satu jenis sel bipolar yang disebut BC6 yang berperan sebagai “pengendali” dalam jaringan tersebut.
Sel BC6 ini menghasilkan sinyal kuat yang menyebar melalui jalur paralel secara hierarkis, mengubah pemahaman lama bahwa setiap sel bipolar bekerja secara mandiri tanpa koordinasi pusat.
Peneliti lain, Seunghoon Lee PhD menjelaskan bahwa integrasi antar jalur ini sangat penting terutama dalam kondisi cahaya redup, karena sinyal visual yang lemah akan lebih efektif diproses jika digabungkan daripada dipisahkan ke dalam banyak jalur kecil.
Temuan ini memberikan penjelasan baru tentang bagaimana manusia tetap mampu melihat objek dalam kondisi minim cahaya atau kontras rendah, termasuk dalam situasi malam hari atau saat menghadapi objek yang sangat kecil.
Dalam aspek metodologi, penelitian ini menggunakan teknik canggih dual patch-clamp yang memungkinkan pengamatan aktivitas sel bipolar secara langsung pada retina yang masih utuh, sebuah pendekatan yang sebelumnya sulit dilakukan karena posisi sel tersebut berada di bagian tengah retina.
Keberhasilan ini bahkan disebut sebagai terobosan besar dalam dunia neurofisiologi karena belum banyak laboratorium di dunia yang mampu melakukan perekaman sinyal saraf secara sistematis pada kondisi retina utuh, terutama pada manusia.
Penelitian ini juga melibatkan retina manusia yang diperoleh dari program donasi jaringan, sehingga menjadikannya sebagai salah satu eksperimen pertama yang berhasil mengamati langsung mekanisme tersebut pada organ manusia yang masih utuh secara struktural.
Lebih jauh, para ilmuwan menegaskan bahwa retina bukan hanya organ penglihatan semata, melainkan bagian penting dari sistem saraf pusat yang dapat memberikan wawasan luas tentang cara kerja otak secara keseluruhan.
Implikasi dari temuan ini sangat besar dalam dunia medis, khususnya dalam memahami dan menangani berbagai gangguan penglihatan seperti degenerasi makula, glaukoma, dan kebutaan malam bawaan yang selama ini menjadi tantangan dalam dunia oftalmologi.
Penelitian ini sekaligus menjadi bukti kuat bahwa riset berbasis rasa ingin tahu ilmiah atau curiosity-driven research tetap memiliki peran krusial dalam membuka rahasia fundamental tubuh manusia, bahkan tanpa harus berangkat dari hipotesis yang kaku sejak awal.
Dengan demikian, studi ini tidak hanya memperkaya pemahaman tentang sistem visual manusia, tetapi juga membuka peluang baru dalam pengembangan teknologi medis dan terapi penglihatan di masa depan. (ali)

