SulawesiPos.com – Fenomena pemenggalan video yang viral di berbagai platform media sosial mendapat perhatian serius dari akademisi. Praktik “potong-tempel” konten tersebut dinilai sebagai upaya sistematis untuk membuang konteks asli demi menciptakan narasi provokatif di tengah masyarakat.
Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Hasanuddin (Unhas), Dr Alem Febri Sonni, mengungkapkan bahwa saat ini publik hidup di era di mana kebenaran seringkali kalah cepat dengan potongan video berdurasi singkat.
“Fenomena pemenggalan video Mentan Amran ini adalah contoh nyata bagaimana konteks sengaja dibuang ke tempat sampah demi menciptakan narasi yang provokatif,” ujar Sonni, Rabu (01/04/2026).
*Pemicu Kemarahan Instan*
Menurut mantan Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sulsel ini, penyebaran video dengan judul yang menyudutkan memiliki tujuan yang jauh dari semangat edukasi. Fokus utamanya adalah memicu kemarahan instan audiens yang rata-rata tidak memiliki cukup waktu untuk melakukan verifikasi atau mencari video aslinya secara utuh.
“Ketika sebuah kalimat dipotong di tengah jalan dan disebarkan dengan judul yang menyudutkan, tujuannya bukan lagi untuk menginformasikan, tapi untuk memicu kemarahan instan,” jelasnya.
*Tabrakan Kepentingan dan Algoritma*
Lebih lanjut, Sonni melihat adanya tabrakan kepentingan di balik viralnya video tersebut. Ia mensinyalir adanya kolaborasi antara kreator konten yang mengejar engagement (angka views) dengan “pemain besar” yang merasa terganggu oleh kebijakan hilirisasi serta kedaulatan pangan yang sedang digalakkan pemerintah.
Pengampuh mata kuliah Sinematografi di Jurusan Ilmu Komunikasi Unhas ini mengibaratkan fenomena ini sebagai sebuah serangan yang terencana menggunakan teknologi sebagai medianya.
“Jadi, potongan video itu sebenarnya hanyalah peluru; senjatanya adalah algoritma media sosial, dan penembaknya adalah mereka yang kepentingannya terancam oleh kedaulatan pangan kita,” tegas pakar komunikasi Unhas ini.
*Publik Diminta Lebih Jeli*
Mengakhiri pandangannya, Sonni mengajak masyarakat sebagai penonton untuk lebih jeli dan kritis dalam menyerap informasi agar tidak menjadi pion dalam permainan persepsi pihak lain. Konten yang terasa “terlalu bombastis” patut dicurigai memiliki informasi yang disembunyikan.
Ia menekankan bahwa melawan framing jahat tidak cukup hanya dengan bantahan data, melainkan harus dengan sikap kritis secara personal.
“Kita harus selalu bertanya: siapa yang paling diuntungkan kalau saya marah setelah menonton video ini? Sikap kritis inilah benteng pertahanan kita,” katanya.

