Pembatasan Gawai di Sekolah, Siswa: Bosan, Tapi Akui Lebih Banyak Interaksi dengan Teman

SulawesiPos.com – Kebijakan pembatasan penggunaan gawai di sekolah menghadirkan pengalaman baru bagi siswa.

Tanpa akses ponsel selama jam belajar hingga istirahat, aktivitas keseharian pelajar pun ikut berubah.

Sejumlah siswa dari berbagai sekolah di Makassar mengaku harus beradaptasi dengan kondisi tersebut.

Ada yang merasa bosan, namun tak sedikit pula yang justru menikmati interaksi langsung dengan teman.

Faizah Ayatul Husna, siswi SMAN 8 Makassar
Faisah Ayatul Husna, siswi SMAN 8 Makassar

Faisah Ayatul Husna, siswi SMAN 8 Makassar, mengaku mengisi waktu istirahat dengan aktivitas sederhana seperti tidur, mengerjakan tugas, atau mengobrol bersama teman.

Ia menilai kondisi tanpa gawai menghadirkan dua sisi yang berbeda.

“Dua-duanya, kadang bosan, tapi juga lebih seru karena bisa langsung berinteraksi dengan teman-teman,” ujarnya kepada SulawesiPos.com, Sabtu (4/4/2026).

Dalam proses belajar, Faisah mengakui sesekali mengalami kendala, terutama saat mencari jawaban.

Namun, menurutnya, guru sudah mengantisipasi hal tersebut dengan memberikan soal yang jawabannya tersedia di buku.

Meski begitu, ia berharap ada penyesuaian dalam penerapan aturan. Menurutnya, penggunaan gawai sebaiknya tetap diperbolehkan saat jam istirahat.

BACA JUGA: 
Strategi SMAN 11 Makassar Sosialisasikan Pembatasan Gawai ke Siswa dan Orang Tua

“Bagusnya kalau jam pelajaran saja dikumpul, tapi saat istirahat bisa dipakai,” harapnya.

Dimas Aditya Pratama, SMAN Khusus Keberbakatan Olahraga
Dimas Aditya Pratama, SMAN Khusus Keberbakatan Olahraga

Sementara itu, Dimas Aditya Pratama, siswa SMAN Khusus Keberbakatan Olahraga, memanfaatkan waktu tanpa gawai dengan mengikuti kegiatan organisasi seperti paskib dan OSIS, serta berkumpul bersama teman.

Menurutnya, pengalaman tanpa gawai sangat bergantung pada bagaimana siswa mengisi waktu.

“Kalau cuma di kelas dan tidak melakukan apa-apa, pasti bosan. Tapi, ketika saya dan teman berkeliling sekolah sembari mengobrol santai, maka hal tersebut sangat menyenangkan,” ungkap Dimas.

Ia juga tidak merasakan kendala dalam pembelajaran. Dimas menilai materi yang diberikan guru sudah cukup untuk menjawab soal.

Terkait kebijakan yang ada, ia memilih untuk mengikuti aturan yang berlaku, meskipun masih melihat adanya siswa yang belum sepenuhnya patuh.

Arya Nayaka Pramudya Santra, siswa SMAN 2 Makassar
Arya Nayaka Pramudya Santra, siswa SMAN 2 Makassar

Berbeda dengan itu, Arya Nayaka Pramudya Santra dari SMAN 2 Makassar mengaku lebih sering merasa bosan tanpa kehadiran gawai.

Ia mengatakan, waktu istirahat kini lebih banyak diisi dengan berinteraksi bersama teman.

BACA JUGA: 
Pembatasan Gawai di Sekolah, Ini Cara SMAN 11 Makassar Menerapkannya

Namun, ia juga merasakan kesulitan saat harus mencari jawaban tanpa bantuan ponsel.

“Lebih susah saat mencari jawaban,” katanya.

Arya berharap ke depan ada kebijakan yang lebih fleksibel, khususnya dengan memperbolehkan penggunaan gawai saat waktu istirahat.

“Harapan saya, semoga saat istirahat HP bisa dipakai,” tutup Arya.

Beragam pengalaman ini menunjukkan bahwa pembatasan gawai di sekolah memengaruhi cara siswa dan siswa berinteraksi dan mengisi waktu.

Langkah pembatasan gawai sejalan dengan upaya Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan dalam melindungi anak dari paparan konten digital yang tidak sesuai usia.

SulawesiPos.com – Kebijakan pembatasan penggunaan gawai di sekolah menghadirkan pengalaman baru bagi siswa.

Tanpa akses ponsel selama jam belajar hingga istirahat, aktivitas keseharian pelajar pun ikut berubah.

Sejumlah siswa dari berbagai sekolah di Makassar mengaku harus beradaptasi dengan kondisi tersebut.

Ada yang merasa bosan, namun tak sedikit pula yang justru menikmati interaksi langsung dengan teman.

Faizah Ayatul Husna, siswi SMAN 8 Makassar
Faisah Ayatul Husna, siswi SMAN 8 Makassar

Faisah Ayatul Husna, siswi SMAN 8 Makassar, mengaku mengisi waktu istirahat dengan aktivitas sederhana seperti tidur, mengerjakan tugas, atau mengobrol bersama teman.

Ia menilai kondisi tanpa gawai menghadirkan dua sisi yang berbeda.

“Dua-duanya, kadang bosan, tapi juga lebih seru karena bisa langsung berinteraksi dengan teman-teman,” ujarnya kepada SulawesiPos.com, Sabtu (4/4/2026).

Dalam proses belajar, Faisah mengakui sesekali mengalami kendala, terutama saat mencari jawaban.

Namun, menurutnya, guru sudah mengantisipasi hal tersebut dengan memberikan soal yang jawabannya tersedia di buku.

Meski begitu, ia berharap ada penyesuaian dalam penerapan aturan. Menurutnya, penggunaan gawai sebaiknya tetap diperbolehkan saat jam istirahat.

BACA JUGA: 
Imbauan Pembatasan Gawai di Sekolah, SMAN 11 Makassar Sudah Terapkan Sejak 2025

“Bagusnya kalau jam pelajaran saja dikumpul, tapi saat istirahat bisa dipakai,” harapnya.

Dimas Aditya Pratama, SMAN Khusus Keberbakatan Olahraga
Dimas Aditya Pratama, SMAN Khusus Keberbakatan Olahraga

Sementara itu, Dimas Aditya Pratama, siswa SMAN Khusus Keberbakatan Olahraga, memanfaatkan waktu tanpa gawai dengan mengikuti kegiatan organisasi seperti paskib dan OSIS, serta berkumpul bersama teman.

Menurutnya, pengalaman tanpa gawai sangat bergantung pada bagaimana siswa mengisi waktu.

“Kalau cuma di kelas dan tidak melakukan apa-apa, pasti bosan. Tapi, ketika saya dan teman berkeliling sekolah sembari mengobrol santai, maka hal tersebut sangat menyenangkan,” ungkap Dimas.

Ia juga tidak merasakan kendala dalam pembelajaran. Dimas menilai materi yang diberikan guru sudah cukup untuk menjawab soal.

Terkait kebijakan yang ada, ia memilih untuk mengikuti aturan yang berlaku, meskipun masih melihat adanya siswa yang belum sepenuhnya patuh.

Arya Nayaka Pramudya Santra, siswa SMAN 2 Makassar
Arya Nayaka Pramudya Santra, siswa SMAN 2 Makassar

Berbeda dengan itu, Arya Nayaka Pramudya Santra dari SMAN 2 Makassar mengaku lebih sering merasa bosan tanpa kehadiran gawai.

Ia mengatakan, waktu istirahat kini lebih banyak diisi dengan berinteraksi bersama teman.

BACA JUGA: 
Disdik Sulsel Tegaskan Gawai Siswa Tidak Dilarang, Tetap Boleh Digunakan dalam Kondisi Tertentu

Namun, ia juga merasakan kesulitan saat harus mencari jawaban tanpa bantuan ponsel.

“Lebih susah saat mencari jawaban,” katanya.

Arya berharap ke depan ada kebijakan yang lebih fleksibel, khususnya dengan memperbolehkan penggunaan gawai saat waktu istirahat.

“Harapan saya, semoga saat istirahat HP bisa dipakai,” tutup Arya.

Beragam pengalaman ini menunjukkan bahwa pembatasan gawai di sekolah memengaruhi cara siswa dan siswa berinteraksi dan mengisi waktu.

Langkah pembatasan gawai sejalan dengan upaya Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan dalam melindungi anak dari paparan konten digital yang tidak sesuai usia.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru