Tiga Kasus Child Grooming Terjadi di Makassar Sepanjang 2026, Psikolog Ungkap Pola Manipulasi dan Dampak pada Anak

SulawesiPos.com – Sepanjang tahun 2026, tercatat sudah tiga kasus child grooming terjadi di Makassar.

Kasus terbaru menimpa seorang siswi SMP berusia 15 tahun yang diperkosa oleh pria dewasa berusia 31 tahun yang merupakan kekasihnya sendiri.

Dalam kasus ini, perkenalan korban dan pelaku bermula dari komunikasi melalui sambungan telepon.

Pelaku diketahui menggunakan identitas palsu untuk mendekati korban hingga terjalin hubungan yang kemudian berujung pada kekerasan seksual.

Latar belakang korban yang sedang mengalami ketidakharmonisan dalam keluarga menjadi celah yang dimanfaatkan pelaku.

Setelah pertemuan langsung, korban menolak pulang ke rumah dan memilih tinggal bersama pelaku.

Kondisi tersebut diperparah dengan bujuk rayu dan janji pernikahan, hingga korban disetubuhi sebanyak lima kali.

Kasus ini kembali menegaskan bagaimana relasi personal yang tampak seperti hubungan asmara justru dapat menjadi pintu masuk kejahatan seksual terhadap anak.

Child Grooming sebagai Proses Manipulasi Psikologis

Dosen Fakultas Psikologi dari Universitas Negeri Makassar (UNM), Eka Sufartianinsih Jafar SPsi MPsi Psikolog, menjelaskan bahwa kasus tersebut telah memenuhi unsur child grooming.

“Iya termasuk child grooming,” ujarnya kepada SulawesiPos.com melalui pesan singkat, Jumat (3/4/2026).

“Child grooming merupakan tindakan atau proses manipulasi psikologis yang dilakukan orang dewasa terhadap anak di bawah umur,” sambung Eka.

Ia menambahkan bahwa child grooming umumnya berlangsung secara bertahap mulai dari manipulasi emosi, fisik, verbal, bahkan seksual.

Dengan demikian, korban kerap tidak menyadari bahwa dirinya sedang dimanipulasi dan dilecehkan.

Menurut Eka, kondisi keluarga yang tidak harmonis membuat anak semakin rentan terjerat praktik grooming.

BACA JUGA: 
Aurelie Moeremans Tegaskan Buku Broken Strings Bukan untuk Mengungkap Sosok Nyata

Pelaku cenderung menyasar anak-anak yang tidak mendapatkan rasa aman dan kedekatan emosional di rumah.

“Pelaku child grooming (groomer) seringkali menargetkan anak-anak yang merasa “tidak aman” di rumahnya sebagai korban, sehingga anak-anak dengan kondisi keluarga yang tidak harmonis atau kurang dekat dengan orangtua lebih rentan menjadi korban child grooming,” paparnya.

Menurutnya, ketika kebutuhan dasar psikologis anak, seperti rasa aman dan rasa dicintai, tidak terpenuhi dalam keluarga, anak menjadi lebih mudah terikat secara emosional dengan pihak luar.

“Tidak terpenuhinya kebutuhan dasar psikologis tersebut yang dimanfaatkan oleh pelaku untuk memanipulasi korban dengan menjadi figur dewasa yang perhatian, seakan-seakan peduli dan menyayangi korban, sehingga akhirnya korban merasa percaya dan sangat bergantung pada pelaku,” terang dia.

Pola Grooming Sulit Terdeteksi, Dampaknya Jangka Panjang

Lebih lanjut, Eka menjelaskan bahwa pola child grooming sering kali menyerupai hubungan yang tampak normal antara orang dewasa dan anak, sehingga sulit dikenali sejak awal.

Pelaku biasanya memulai pendekatan dari hal-hal yang terlihat wajar, sebelum perlahan masuk ke manipulasi emosi, fisik, verbal, hingga seksual.

Groomer juga kerap memosisikan diri sebagai sosok pelindung, terutama bagi anak yang merasa terancam secara emosional di lingkungan keluarganya.

“Pelaku menawarkan tempat curhat, bantuan finansial, atau perlindungan yang seharusnya diberikan oleh orang tua. Anak merasa pelaku adalah satu-satunya orang yang bisa menjaga mereka,” sebut Eka.

Child grooming, menurut Eka, merupakan bentuk pelecehan seksual yang berdampak serius terhadap kondisi psikologis anak, bahkan hingga dewasa.

BACA JUGA: 
Child Grooming Bukan Asmara, Dosen Hukum Unhas Tegaskan “Consent” Anak Gugur di Hadapan Relasi Kuasa

Trauma akibat grooming dapat membentuk cara pandang negatif korban terhadap diri sendiri dan dunia sekitarnya.

Termasuk munculnya kecemasan berlebih, rasa terancam, kesulitan mempercayai orang lain, hingga gangguan psikologis berat, menyakiti diri sendiri, hingga pikiran bunuh diri.

“Selain dampak psikologis, child grooming juga dapat berdampak pada prestasi belajar yang menurun dan kecenderungan perilaku berisiko seperti penyalahgunaan zat (narkoba/alkohol) atau perilaku seksual yang tidak pantas sebagai bentuk pelarian dari trauma,” bebernya.

5 Tanda Anak Mengalami Grooming

Seperti yang disebutkan sebelumnya, korban grooming tidak hanya merasakan dampak secara psikologis, korban juga dapat terjerumus dalam kenakalan remaja.

Dalam hal ini, orang tua berperan penting mengambil langkah untuk mencegah anak mendapatkan perlakuan grooming dari pelaku.

Eka juga memaparkan sejumlah perubahan perilaku yang dapat menjadi tanda anak mengalami child grooming, antara lain sebagai berikut:

  • Selalu membicarakan orang dewasa tertentu atau menghabiskan waktu bersamanya.
  • Berhubungan dengan orang yang mempunyai rentang umur jauh di atas anak.
  • Bolos sekolah atau tidak mengikuti kegiatan rutin anak.
  • Menarik diri dari pergaulan atau perubahan grup pertemanan secara tiba-tiba.
  • Mendapatkan hadiah atau pemberian yang tidak mau ia bicarakan dari mana asalnya.
  • Sering Berbohong dan membangkang atau melawan orangtua.

Orang tua diimbau waspada terhadap perubahan perilaku anak terkait penggunaan gawai dan media sosial.

“Waspada terhadap perubahan perilaku misalnya anak menjadi sangat protektif terhadap gadget, menarik diri, atau menunjukkan kecemasan berlebih,” tegas dosen Psikologi UNM ini.

BACA JUGA: 
Kasus Siswi SMP Korban Child Grooming-Diperkosa Kekasih di Makassar, Pelaku 16 Tahun Lebih Tua

Kedekatan Emosional Jadi Benteng Utama

Dengan demikian, dalam upaya pencegahan, Eka menegaskan bahwa kedekatan emosional antara orang tua dan anak merupakan perlindungan paling fundamental untuk mencegah child grooming.

“Orangtua perlu menjadi teman cerita yang mendorong anak menjadi lebih terbuka dalam menceritakan hal yang ia alami sehari-hari dengan lebih aktif menanyakan aktivitas anak dan memvalidasi apa yang anak rasakan, sehingga ia tidak sungkan untuk berbicara mengenai hal apapun pada orang tua,” jelas Eka.

Dengan metode tersebut, anak merasa diperhatikan, disayangi, dan merasa “aman” dengan orangtua sekaligus membangun kepercayaan diri anak terhadap dirinya.

Anak, kata Eka, juga akan bersikap asertif/berani mengatakan “tidak” dan melapor saat mengalami situasi yang tidak menyenangkan pada dirinya seperti pelecehan atau perundungan.

“Pengawasan tanpa kedekatan sering kali gagal karena pelaku grooming sangat mahir bersembunyi di balik manipulasi yang tidak tampak secara fisik. Kedekatan emosional menciptakan lingkungan di mana anak merasa aman untuk bercerita tanpa takut dihakimi,” terangnya.

Kedekatan emosional memudahkan anak untuk melaporkan hal-hal yang membuatnya tidak nyaman, sekaligus memperkuat kemampuan anak mengenali relasi yang tidak sehat.

Selain kedekatan, pengawasan tetap diperlukan sebagai pendukung, terutama di ruang digital.

Ia menegaskan bahwa komunikasi yang efektif dan hubungan hangat di dalam keluarga menjadi perlindungan paling sulit ditembus oleh pelaku kejahatan seksual terhadap anak.

“Intinya komunikasi efektif dan interaksi hangat di dalam keluarga adalah perlindungan yang paling sulit ditembus oleh pelaku kejahatan,” pungkasnya. (tar)

SulawesiPos.com – Sepanjang tahun 2026, tercatat sudah tiga kasus child grooming terjadi di Makassar.

Kasus terbaru menimpa seorang siswi SMP berusia 15 tahun yang diperkosa oleh pria dewasa berusia 31 tahun yang merupakan kekasihnya sendiri.

Dalam kasus ini, perkenalan korban dan pelaku bermula dari komunikasi melalui sambungan telepon.

Pelaku diketahui menggunakan identitas palsu untuk mendekati korban hingga terjalin hubungan yang kemudian berujung pada kekerasan seksual.

Latar belakang korban yang sedang mengalami ketidakharmonisan dalam keluarga menjadi celah yang dimanfaatkan pelaku.

Setelah pertemuan langsung, korban menolak pulang ke rumah dan memilih tinggal bersama pelaku.

Kondisi tersebut diperparah dengan bujuk rayu dan janji pernikahan, hingga korban disetubuhi sebanyak lima kali.

Kasus ini kembali menegaskan bagaimana relasi personal yang tampak seperti hubungan asmara justru dapat menjadi pintu masuk kejahatan seksual terhadap anak.

Child Grooming sebagai Proses Manipulasi Psikologis

Dosen Fakultas Psikologi dari Universitas Negeri Makassar (UNM), Eka Sufartianinsih Jafar SPsi MPsi Psikolog, menjelaskan bahwa kasus tersebut telah memenuhi unsur child grooming.

“Iya termasuk child grooming,” ujarnya kepada SulawesiPos.com melalui pesan singkat, Jumat (3/4/2026).

“Child grooming merupakan tindakan atau proses manipulasi psikologis yang dilakukan orang dewasa terhadap anak di bawah umur,” sambung Eka.

Ia menambahkan bahwa child grooming umumnya berlangsung secara bertahap mulai dari manipulasi emosi, fisik, verbal, bahkan seksual.

Dengan demikian, korban kerap tidak menyadari bahwa dirinya sedang dimanipulasi dan dilecehkan.

Menurut Eka, kondisi keluarga yang tidak harmonis membuat anak semakin rentan terjerat praktik grooming.

BACA JUGA: 
Pesan Dosen Hukum Unhas: Anak Korban Child Grooming Harus Berani Melapor, Orang Tua Punya Tanggung Jawab Hukum

Pelaku cenderung menyasar anak-anak yang tidak mendapatkan rasa aman dan kedekatan emosional di rumah.

“Pelaku child grooming (groomer) seringkali menargetkan anak-anak yang merasa “tidak aman” di rumahnya sebagai korban, sehingga anak-anak dengan kondisi keluarga yang tidak harmonis atau kurang dekat dengan orangtua lebih rentan menjadi korban child grooming,” paparnya.

Menurutnya, ketika kebutuhan dasar psikologis anak, seperti rasa aman dan rasa dicintai, tidak terpenuhi dalam keluarga, anak menjadi lebih mudah terikat secara emosional dengan pihak luar.

“Tidak terpenuhinya kebutuhan dasar psikologis tersebut yang dimanfaatkan oleh pelaku untuk memanipulasi korban dengan menjadi figur dewasa yang perhatian, seakan-seakan peduli dan menyayangi korban, sehingga akhirnya korban merasa percaya dan sangat bergantung pada pelaku,” terang dia.

Pola Grooming Sulit Terdeteksi, Dampaknya Jangka Panjang

Lebih lanjut, Eka menjelaskan bahwa pola child grooming sering kali menyerupai hubungan yang tampak normal antara orang dewasa dan anak, sehingga sulit dikenali sejak awal.

Pelaku biasanya memulai pendekatan dari hal-hal yang terlihat wajar, sebelum perlahan masuk ke manipulasi emosi, fisik, verbal, hingga seksual.

Groomer juga kerap memosisikan diri sebagai sosok pelindung, terutama bagi anak yang merasa terancam secara emosional di lingkungan keluarganya.

“Pelaku menawarkan tempat curhat, bantuan finansial, atau perlindungan yang seharusnya diberikan oleh orang tua. Anak merasa pelaku adalah satu-satunya orang yang bisa menjaga mereka,” sebut Eka.

Child grooming, menurut Eka, merupakan bentuk pelecehan seksual yang berdampak serius terhadap kondisi psikologis anak, bahkan hingga dewasa.

BACA JUGA: 
Kasus Siswi SMP Korban Child Grooming-Diperkosa Kekasih di Makassar, Pelaku 16 Tahun Lebih Tua

Trauma akibat grooming dapat membentuk cara pandang negatif korban terhadap diri sendiri dan dunia sekitarnya.

Termasuk munculnya kecemasan berlebih, rasa terancam, kesulitan mempercayai orang lain, hingga gangguan psikologis berat, menyakiti diri sendiri, hingga pikiran bunuh diri.

“Selain dampak psikologis, child grooming juga dapat berdampak pada prestasi belajar yang menurun dan kecenderungan perilaku berisiko seperti penyalahgunaan zat (narkoba/alkohol) atau perilaku seksual yang tidak pantas sebagai bentuk pelarian dari trauma,” bebernya.

5 Tanda Anak Mengalami Grooming

Seperti yang disebutkan sebelumnya, korban grooming tidak hanya merasakan dampak secara psikologis, korban juga dapat terjerumus dalam kenakalan remaja.

Dalam hal ini, orang tua berperan penting mengambil langkah untuk mencegah anak mendapatkan perlakuan grooming dari pelaku.

Eka juga memaparkan sejumlah perubahan perilaku yang dapat menjadi tanda anak mengalami child grooming, antara lain sebagai berikut:

  • Selalu membicarakan orang dewasa tertentu atau menghabiskan waktu bersamanya.
  • Berhubungan dengan orang yang mempunyai rentang umur jauh di atas anak.
  • Bolos sekolah atau tidak mengikuti kegiatan rutin anak.
  • Menarik diri dari pergaulan atau perubahan grup pertemanan secara tiba-tiba.
  • Mendapatkan hadiah atau pemberian yang tidak mau ia bicarakan dari mana asalnya.
  • Sering Berbohong dan membangkang atau melawan orangtua.

Orang tua diimbau waspada terhadap perubahan perilaku anak terkait penggunaan gawai dan media sosial.

“Waspada terhadap perubahan perilaku misalnya anak menjadi sangat protektif terhadap gadget, menarik diri, atau menunjukkan kecemasan berlebih,” tegas dosen Psikologi UNM ini.

BACA JUGA: 
Rieke Diah Pitaloka Dorong Aturan Child Grooming Masuk Revisi UU PSK

Kedekatan Emosional Jadi Benteng Utama

Dengan demikian, dalam upaya pencegahan, Eka menegaskan bahwa kedekatan emosional antara orang tua dan anak merupakan perlindungan paling fundamental untuk mencegah child grooming.

“Orangtua perlu menjadi teman cerita yang mendorong anak menjadi lebih terbuka dalam menceritakan hal yang ia alami sehari-hari dengan lebih aktif menanyakan aktivitas anak dan memvalidasi apa yang anak rasakan, sehingga ia tidak sungkan untuk berbicara mengenai hal apapun pada orang tua,” jelas Eka.

Dengan metode tersebut, anak merasa diperhatikan, disayangi, dan merasa “aman” dengan orangtua sekaligus membangun kepercayaan diri anak terhadap dirinya.

Anak, kata Eka, juga akan bersikap asertif/berani mengatakan “tidak” dan melapor saat mengalami situasi yang tidak menyenangkan pada dirinya seperti pelecehan atau perundungan.

“Pengawasan tanpa kedekatan sering kali gagal karena pelaku grooming sangat mahir bersembunyi di balik manipulasi yang tidak tampak secara fisik. Kedekatan emosional menciptakan lingkungan di mana anak merasa aman untuk bercerita tanpa takut dihakimi,” terangnya.

Kedekatan emosional memudahkan anak untuk melaporkan hal-hal yang membuatnya tidak nyaman, sekaligus memperkuat kemampuan anak mengenali relasi yang tidak sehat.

Selain kedekatan, pengawasan tetap diperlukan sebagai pendukung, terutama di ruang digital.

Ia menegaskan bahwa komunikasi yang efektif dan hubungan hangat di dalam keluarga menjadi perlindungan paling sulit ditembus oleh pelaku kejahatan seksual terhadap anak.

“Intinya komunikasi efektif dan interaksi hangat di dalam keluarga adalah perlindungan yang paling sulit ditembus oleh pelaku kejahatan,” pungkasnya. (tar)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru