24 C
Makassar
18 January 2026, 20:04 PM WITA

Katirisala, Kue Legit Bugis yang Lahir dari Sebuah “Kesalahan Manis”

Katirisala dikenal sebagai salah satu kue tradisional khas suku Bugis di Sulawesi Selatan yang hingga kini masih lestari dan digemari lintas generasi.

Terbuat dari perpaduan tepung ketan dan gula merah, kue ini menghadirkan cita rasa manis legit berlapis dengan tekstur khas yang lembut namun padat.

Di balik rasanya, Katirisala menyimpan cerita asal-usul yang unik.

Sejumlah kisah tutur menyebutkan, kue ini bermula dari peristiwa tak disengaja saat leluhur Bugis mengolah sokko—nasi ketan khas Sulsel untuk ritual pindah rumah adat atau Mappalette Bola.

Ketika itu, gula merah yang sedang dipersiapkan menetes dan mengenai olahan ketan, menciptakan kombinasi rasa baru yang justru disukai.

Nama “Katirisala” pun lahir dari kejadian tersebut. Kata tiri berarti menetes, merujuk pada gula aren yang jatuh, sementara sala bermakna salah atau keliru.

Meski berawal dari kesalahan, kue ini justru dimaknai sebagai simbol keberkahan.

Manisnya gula merah merepresentasikan harapan agar kehidupan masyarakat Bugis senantiasa harmonis, sejahtera, dan dijalani dengan pikiran positif.

Baca Juga: 
5 Rekomendasi Nasi Kuning Paling Enak di Makassar

Katirisala juga kerap dimaknai sebagai doa agar setiap aktivitas yang dilakukan berjalan lancar.

Dalam kehidupan sosial masyarakat Bugis, Katirisala memiliki peran penting.

Katirisala dikenal sebagai salah satu kue tradisional khas suku Bugis di Sulawesi Selatan yang hingga kini masih lestari dan digemari lintas generasi.

Terbuat dari perpaduan tepung ketan dan gula merah, kue ini menghadirkan cita rasa manis legit berlapis dengan tekstur khas yang lembut namun padat.

Di balik rasanya, Katirisala menyimpan cerita asal-usul yang unik.

Sejumlah kisah tutur menyebutkan, kue ini bermula dari peristiwa tak disengaja saat leluhur Bugis mengolah sokko—nasi ketan khas Sulsel untuk ritual pindah rumah adat atau Mappalette Bola.

Ketika itu, gula merah yang sedang dipersiapkan menetes dan mengenai olahan ketan, menciptakan kombinasi rasa baru yang justru disukai.

Nama “Katirisala” pun lahir dari kejadian tersebut. Kata tiri berarti menetes, merujuk pada gula aren yang jatuh, sementara sala bermakna salah atau keliru.

Meski berawal dari kesalahan, kue ini justru dimaknai sebagai simbol keberkahan.

Manisnya gula merah merepresentasikan harapan agar kehidupan masyarakat Bugis senantiasa harmonis, sejahtera, dan dijalani dengan pikiran positif.

Baca Juga: 
Onde-Onde, Warisan Kuliner Bugis-Makassar yang Wajib Hadir di Acara Adat

Katirisala juga kerap dimaknai sebagai doa agar setiap aktivitas yang dilakukan berjalan lancar.

Dalam kehidupan sosial masyarakat Bugis, Katirisala memiliki peran penting.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/