SulawesiPos.com – Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menegaskan bahwa Selat Hormuz hingga kini belum ditutup meski konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel masih berlangsung.
Menurut Boroujerdi, Iran memiliki peran sebagai penyelenggara keamanan di selat tersebut. Karena itu, jika jalur tersebut menjadi ancaman bagi Iran, maka situasi yang sama juga akan berdampak pada semua pihak.
“Selat (Hormuz) ini merupakan tempat dimana kami adalah penyelenggara keamanan. Jika, (selat) ini tidak aman bagi kami, maka ini tidak aman bagi semuanya,” tegasnya saat ditemui awak media di kediamannya pada Sabtu (14/3/2026) malam.
Boroujerdi mengungkapkan bahwa dua kapal dari Indonesia telah berhasil melewati Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.
“Misalkan saja, kemarin ada dua kapal Indonesia yang berhasil dan diizinkan lewat dari Selat Hormuz,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa selat tersebut tetap terbuka bagi negara-negara yang tidak mengizinkan wilayahnya digunakan oleh Amerika Serikat dan Israel sebagai basis serangan terhadap Iran.
Selain itu, kapal yang melintas diwajibkan mematuhi protokol pelayaran yang ditetapkan Iran selama masa konflik.
“Tentu negara-negara yang tidak bekerja sama dengan pihak musuh, mereka yang mematuhi protokol lalu lintas dari Selat Hormuz, khususnya pada saat perang bisa melewati Selat Hormuz. Kapal-kapal yang patuh protokol di selat hormuz pada saat perang diizinkan lewat,” katanya.
Jalur energi global kini berisiko tinggi
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar energi global.
Dalam kondisi normal, sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melewati jalur perairan tersebut.
Namun sejak konflik memanas, kawasan ini berubah menjadi wilayah berisiko tinggi bagi pelayaran internasional.
Data yang dihimpun oleh Reuters menyebutkan sedikitnya 16 kapal komersial mengalami serangan atau insiden di sekitar Selat Hormuz dan Teluk Persia.
Kapal yang terdampak meliputi tanker minyak, kapal curah, hingga kapal kontainer.
Insiden ini memicu evakuasi awak kapal, penghentian operasi pelabuhan di beberapa wilayah Irak, serta membuat perusahaan asuransi dan operator pelayaran meninjau ulang rute perjalanan mereka.
Sementara itu, Islamic Revolutionary Guard Corps juga memperingatkan bahwa kapal yang melintas di Selat Hormuz dapat menjadi target serangan, memperkuat kekhawatiran bahwa jalur tersebut kini menjadi alat tekanan dalam konflik regional yang lebih luas.

