25 C
Makassar
6 March 2026, 19:49 PM WITA

Prabowo dan Pemimpin Pakistan Direncanakan ke Teheran, Upaya Redam Konflik Timur Tengah

SulawesiPos.com – Presiden Prabowo Subianto disebut akan melakukan kunjungan ke Teheran, Iran, bersama pemimpin Pakistan sebagai bagian dari upaya meredam eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Rencana tersebut disampaikan Ketua Dewan Penasihat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie setelah menghadiri pertemuan Presiden dengan para ulama, pimpinan pondok pesantren, serta pimpinan organisasi masyarakat Islam di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (5/3/2026) malam.

“Saya bersyukur Perdana Menteri Pakistan bersedia bersama Presiden Prabowo berkunjung ke Teheran. Itu yang diterangkan tadi oleh Presiden,” kata Jimly.

Jimly mengungkapkan bahwa pemimpin Pakistan bahkan sempat menghubungi langsung Presiden beberapa jam sebelum pertemuan tersebut untuk membahas rencana kunjungan diplomatik itu.

Ia mengaku tidak terlalu mengingat apakah pemimpin Pakistan yang dimaksud adalah perdana menteri atau presiden, namun yang jelas kedua pemimpin negara berencana melakukan perjalanan bersama ke Teheran.

“Lupa saya Perdana Menteri atau Presiden Pakistan. Yang jelas mereka akan sama-sama pergi ke Teheran,” ujarnya.

Menurut Jimly, komunikasi tersebut menunjukkan adanya inisiatif dari Pakistan untuk melakukan langkah diplomasi bersama dengan Indonesia.

“Pakistan baru menelepon Presiden Prabowo beberapa jam sebelum pertemuan ini. Mereka ingin pergi bersama. Itu menurut saya bagus sekali,” tutur Jimly.

Jimly menilai rencana kunjungan tersebut merupakan langkah positif untuk meredakan konflik yang terus berlangsung di Timur Tengah.

Menurutnya, langkah diplomasi ini juga menunjukkan bahwa gagasan Prabowo Subianto agar Indonesia mengambil peran sebagai mediator dalam konflik kawasan mendapat dukungan dari Pakistan.

“Walaupun mungkin peluangnya kecil, tapi harus dicoba. Intinya Indonesia ingin mengambil peran sebagai global player. Itu kita dukung,” tegas Jimly.

Ia menambahkan, upaya tersebut bukan dimaksudkan untuk mencampuri konflik secara negatif, melainkan sebagai langkah untuk menurunkan eskalasi dan mencegah potensi serangan lanjutan.

“Jangan dianggap negatif dulu. Bukan soal mendamaikan pihak yang baru saja diserang, tetapi untuk menurunkan eskalasi dan mencegah kemungkinan serangan lagi dari Israel,” pungkasnya.

SulawesiPos.com – Presiden Prabowo Subianto disebut akan melakukan kunjungan ke Teheran, Iran, bersama pemimpin Pakistan sebagai bagian dari upaya meredam eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Rencana tersebut disampaikan Ketua Dewan Penasihat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie setelah menghadiri pertemuan Presiden dengan para ulama, pimpinan pondok pesantren, serta pimpinan organisasi masyarakat Islam di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (5/3/2026) malam.

“Saya bersyukur Perdana Menteri Pakistan bersedia bersama Presiden Prabowo berkunjung ke Teheran. Itu yang diterangkan tadi oleh Presiden,” kata Jimly.

Jimly mengungkapkan bahwa pemimpin Pakistan bahkan sempat menghubungi langsung Presiden beberapa jam sebelum pertemuan tersebut untuk membahas rencana kunjungan diplomatik itu.

Ia mengaku tidak terlalu mengingat apakah pemimpin Pakistan yang dimaksud adalah perdana menteri atau presiden, namun yang jelas kedua pemimpin negara berencana melakukan perjalanan bersama ke Teheran.

“Lupa saya Perdana Menteri atau Presiden Pakistan. Yang jelas mereka akan sama-sama pergi ke Teheran,” ujarnya.

Menurut Jimly, komunikasi tersebut menunjukkan adanya inisiatif dari Pakistan untuk melakukan langkah diplomasi bersama dengan Indonesia.

“Pakistan baru menelepon Presiden Prabowo beberapa jam sebelum pertemuan ini. Mereka ingin pergi bersama. Itu menurut saya bagus sekali,” tutur Jimly.

Jimly menilai rencana kunjungan tersebut merupakan langkah positif untuk meredakan konflik yang terus berlangsung di Timur Tengah.

Menurutnya, langkah diplomasi ini juga menunjukkan bahwa gagasan Prabowo Subianto agar Indonesia mengambil peran sebagai mediator dalam konflik kawasan mendapat dukungan dari Pakistan.

“Walaupun mungkin peluangnya kecil, tapi harus dicoba. Intinya Indonesia ingin mengambil peran sebagai global player. Itu kita dukung,” tegas Jimly.

Ia menambahkan, upaya tersebut bukan dimaksudkan untuk mencampuri konflik secara negatif, melainkan sebagai langkah untuk menurunkan eskalasi dan mencegah potensi serangan lanjutan.

“Jangan dianggap negatif dulu. Bukan soal mendamaikan pihak yang baru saja diserang, tetapi untuk menurunkan eskalasi dan mencegah kemungkinan serangan lagi dari Israel,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/