Amar Ma’ruf di IAIN Parepare: Ajak Mahasiswa Saling Jaga dari Bahaya Narkoba

SulawesiPos.com — Anggota Komisi III DPR RI sekaligus Satgas Anti Narkoba Nasional, A. Amar Ma’ruf Sulaiman, mengajak mahasiswa untuk saling peduli dan menjaga teman agar tidak terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba. Menurutnya, kepedulian terhadap kondisi orang di sekitar menjadi salah satu langkah penting dalam mencegah penyalahgunaan narkoba.

Pesan itu disampaikan Amar Ma’ruf saat memberikan kuliah umum bertajuk “Mahasiswa sebagai Benteng Bangsa: Peran Generasi Muda dalam Pencegahan Narkoba dan Judi Online” di Ballroom IAIN Parepare, Kamis (15/10/2026).

Amar Ma’ruf mengatakan, seseorang tidak selalu terjerumus narkoba karena sejak awal ingin mengonsumsinya. Persoalan pribadi dan kondisi emosional yang tidak tertangani juga dapat menjadi salah satu faktor yang membuat seseorang rentan terjerumus.

“Dan teman-teman, kami mengimbau kejadian ini bukan didasari oleh hanya keinginan, ‘Oh, saya mau narkoba saja.’ Enggak pernah, jarang-jarang sekali awalnya seperti itu. Ya, biasanya pertama mulainya ditipu. Ya, itu salah satunya,” ungkapnya.

BACA JUGA:  Tim P4GN di 27 Kecamatan se-Kabupaten Bone Dibentuk, Perangi Narkotika hingga Tingkat Desa

Karena itu, ia mengajak mahasiswa untuk lebih memperhatikan kondisi teman di lingkungan pergaulan. Mahasiswa diharapkan tidak mengabaikan teman yang sedang menghadapi masalah atau mengalami tekanan.

“Kita menegur, kita mengingatkan. Coba dilihat sekitar, ada temanku yang galau tidak? Hilang lagi pusing tidak? Coba temani curhat.”

Menurut Amar Ma’ruf, mahasiswa dapat mengambil peran melalui tindakan sederhana, seperti mengajak teman berbicara dan menemani mereka menghadapi persoalan. Ia juga menekankan pentingnya saling mengingatkan agar teman tidak mencari pelarian melalui narkoba.

Peredaran Narkoba Dinilai Sulit Dihentikan

Selain menekankan pencegahan melalui lingkungan pertemanan, Amar Ma’ruf mengungkap sejumlah tantangan dalam pemberantasan narkoba di Indonesia.

Ia menyinggung jalur masuk lintas negara serta masih adanya masyarakat yang melindungi pelaku peredaran narkoba.

Amar Ma’ruf menceritakan diskusinya dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) mengenai sulitnya menghentikan peredaran narkoba.

Menurutnya, pengawasan menjadi tantangan tersendiri karena Indonesia merupakan negara kepulauan dengan sekitar 17.000 pulau.

BACA JUGA:  Tim P4GN di 27 Kecamatan se-Kabupaten Bone Dibentuk, Perangi Narkotika hingga Tingkat Desa

“Bahkan, ketika kemarin kami berdiskusi sama BNN, bersama kepala BNN sekarang Kapolda, beliau menyampaikan, dan saya bertanya, ‘Pak, ini kenapa tidak bisa dihentikan penyebarannya?’ Yang bermasalah kan penyebarannya. Bisa saja konsumsinya hilang. Kalau saya penyebarannya dihentikan,” kata Amar.

Ia kemudian menyinggung sejumlah jalur transit narkoba sebelum masuk ke Indonesia, termasuk melalui Thailand dan Malaysia.

“Ada yang transit di Thailand, ada yang transit di Malaysia, ada yang langsung dari apa namanya, masuk ke Aceh, dari Aceh lewat darat, ada yang masuk di Batam, di Singapura. Yang paling masalah, mungkin salah satu yang sering kita dengar adalah Malaysia,” jelas dia.

Penindakan Perlu Diikuti Upaya Memutus Permintaan

Amar Ma’ruf juga menilai pemberantasan narkoba menghadapi tantangan ketika sebagian masyarakat justru melindungi pelaku peredaran karena menganggap aktivitas tersebut sebagai sumber penghidupan.

“Kita pergi gerebek kampung-kampung, kampung penyebaran narkoba, contoh mungkin Kampung Ambon, eh masyarakat di sana yang melindungi. Ditanya, kenapa dilindungi, (dijawab) ‘tapi kami hidup dari sini, Pak. Anak-anak kami kerjanya ya ini, kami bisa hidup layak gara-gara penghasilan dari ini, kalau enggak ada ini, kami mau kerja apa,'” cerita Amar.

BACA JUGA:  Tim P4GN di 27 Kecamatan se-Kabupaten Bone Dibentuk, Perangi Narkotika hingga Tingkat Desa

Menurutnya, penangkapan bandar saja tidak cukup untuk menghentikan peredaran narkoba. Selama permintaan masih ada, pelaku baru berpotensi muncul untuk mengisi pasar yang ditinggalkan pelaku sebelumnya.

“Jadi, cara paling efektif adalah menghilangkan pasarnya. Ketika kita potong jalurnya, penyebarannya lewat laut, misalnya, kita hentikan. Muncul lagi, tinggal tangkap misalnya gembong A, tiba-tiba gembong C yang lewat,” papar dia.

“Pertanyaannya kenapa? Karena masih ada pasarnya, masih ada orang-orang yang mau mengonsumsi,” lanjutnya.

SulawesiPos.com — Anggota Komisi III DPR RI sekaligus Satgas Anti Narkoba Nasional, A. Amar Ma’ruf Sulaiman, mengajak mahasiswa untuk saling peduli dan menjaga teman agar tidak terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba. Menurutnya, kepedulian terhadap kondisi orang di sekitar menjadi salah satu langkah penting dalam mencegah penyalahgunaan narkoba.

Pesan itu disampaikan Amar Ma’ruf saat memberikan kuliah umum bertajuk “Mahasiswa sebagai Benteng Bangsa: Peran Generasi Muda dalam Pencegahan Narkoba dan Judi Online” di Ballroom IAIN Parepare, Kamis (15/10/2026).

Amar Ma’ruf mengatakan, seseorang tidak selalu terjerumus narkoba karena sejak awal ingin mengonsumsinya. Persoalan pribadi dan kondisi emosional yang tidak tertangani juga dapat menjadi salah satu faktor yang membuat seseorang rentan terjerumus.

“Dan teman-teman, kami mengimbau kejadian ini bukan didasari oleh hanya keinginan, ‘Oh, saya mau narkoba saja.’ Enggak pernah, jarang-jarang sekali awalnya seperti itu. Ya, biasanya pertama mulainya ditipu. Ya, itu salah satunya,” ungkapnya.

BACA JUGA:  Tim P4GN di 27 Kecamatan se-Kabupaten Bone Dibentuk, Perangi Narkotika hingga Tingkat Desa

Karena itu, ia mengajak mahasiswa untuk lebih memperhatikan kondisi teman di lingkungan pergaulan. Mahasiswa diharapkan tidak mengabaikan teman yang sedang menghadapi masalah atau mengalami tekanan.

“Kita menegur, kita mengingatkan. Coba dilihat sekitar, ada temanku yang galau tidak? Hilang lagi pusing tidak? Coba temani curhat.”

Menurut Amar Ma’ruf, mahasiswa dapat mengambil peran melalui tindakan sederhana, seperti mengajak teman berbicara dan menemani mereka menghadapi persoalan. Ia juga menekankan pentingnya saling mengingatkan agar teman tidak mencari pelarian melalui narkoba.

Peredaran Narkoba Dinilai Sulit Dihentikan

Selain menekankan pencegahan melalui lingkungan pertemanan, Amar Ma’ruf mengungkap sejumlah tantangan dalam pemberantasan narkoba di Indonesia.

Ia menyinggung jalur masuk lintas negara serta masih adanya masyarakat yang melindungi pelaku peredaran narkoba.

Amar Ma’ruf menceritakan diskusinya dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) mengenai sulitnya menghentikan peredaran narkoba.

Menurutnya, pengawasan menjadi tantangan tersendiri karena Indonesia merupakan negara kepulauan dengan sekitar 17.000 pulau.

BACA JUGA:  Tim P4GN di 27 Kecamatan se-Kabupaten Bone Dibentuk, Perangi Narkotika hingga Tingkat Desa

“Bahkan, ketika kemarin kami berdiskusi sama BNN, bersama kepala BNN sekarang Kapolda, beliau menyampaikan, dan saya bertanya, ‘Pak, ini kenapa tidak bisa dihentikan penyebarannya?’ Yang bermasalah kan penyebarannya. Bisa saja konsumsinya hilang. Kalau saya penyebarannya dihentikan,” kata Amar.

Ia kemudian menyinggung sejumlah jalur transit narkoba sebelum masuk ke Indonesia, termasuk melalui Thailand dan Malaysia.

“Ada yang transit di Thailand, ada yang transit di Malaysia, ada yang langsung dari apa namanya, masuk ke Aceh, dari Aceh lewat darat, ada yang masuk di Batam, di Singapura. Yang paling masalah, mungkin salah satu yang sering kita dengar adalah Malaysia,” jelas dia.

Penindakan Perlu Diikuti Upaya Memutus Permintaan

Amar Ma’ruf juga menilai pemberantasan narkoba menghadapi tantangan ketika sebagian masyarakat justru melindungi pelaku peredaran karena menganggap aktivitas tersebut sebagai sumber penghidupan.

“Kita pergi gerebek kampung-kampung, kampung penyebaran narkoba, contoh mungkin Kampung Ambon, eh masyarakat di sana yang melindungi. Ditanya, kenapa dilindungi, (dijawab) ‘tapi kami hidup dari sini, Pak. Anak-anak kami kerjanya ya ini, kami bisa hidup layak gara-gara penghasilan dari ini, kalau enggak ada ini, kami mau kerja apa,'” cerita Amar.

BACA JUGA:  Tim P4GN di 27 Kecamatan se-Kabupaten Bone Dibentuk, Perangi Narkotika hingga Tingkat Desa

Menurutnya, penangkapan bandar saja tidak cukup untuk menghentikan peredaran narkoba. Selama permintaan masih ada, pelaku baru berpotensi muncul untuk mengisi pasar yang ditinggalkan pelaku sebelumnya.

“Jadi, cara paling efektif adalah menghilangkan pasarnya. Ketika kita potong jalurnya, penyebarannya lewat laut, misalnya, kita hentikan. Muncul lagi, tinggal tangkap misalnya gembong A, tiba-tiba gembong C yang lewat,” papar dia.

“Pertanyaannya kenapa? Karena masih ada pasarnya, masih ada orang-orang yang mau mengonsumsi,” lanjutnya.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru