Maros Catat AQI Tertinggi di Sulsel, PM2.5 Tembus 65 Mikrogram per Meter Kubik

SulawesiPos.com – Maros mencatat skor AQI tertinggi di Sulawesi Selatan, yakni 149, dalam daftar kualitas udara IQAir yang dibagikan pada Senin (12/10/2026).

Pada hari yang sama, stasiun BMKG di Maros merekam konsentrasi PM2.5 sebesar 65 mikrogram per meter kubik pada pukul 07.00 Wita, setelah partikulat sempat turun pada dini hari.

Data tersebut menempatkan Maros pada rentang AQI 101-150 yang dikategorikan tidak sehat bagi kelompok sensitif.

Bantaeng berada di posisi berikutnya dengan AQI 126, Jeneponto 125, sedangkan Makassar mencatat 121.

Angka AQI dalam daftar merupakan gambaran pada waktu pemantauan tertentu.

Nilainya dapat berubah mengikuti konsentrasi polutan, arah angin, hujan, dan kondisi atmosfer.

PM2.5 Kembali Naik pada Pagi Hari

Grafik BMKG menunjukkan konsentrasi PM2.5 di Maros berfluktuasi sejak tengah malam.

Partikulat berada pada kategori tidak sehat pada awal malam hingga sekitar pukul 02.00 Wita, turun ke kategori sedang pada pukul 03.00-05.00 Wita, lalu kembali meningkat pada pukul 06.00-07.00 Wita.

BACA JUGA:  Daftar Lengkap Rencana Aksi Unjuk Rasa di Makassar, 1 Mei 2026: Buruh dan Mahasiswa Turun ke Jalan

Pembacaan 65 µg/m³ dilakukan di Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan, Maros.

Angka tersebut tidak otomatis mewakili seluruh wilayah Sulawesi Selatan dan tidak dapat dibandingkan langsung dengan AQI 149 karena keduanya memakai indikator serta satuan berbeda.

Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar Amhar Ulfiana mengatakan kualitas udara di Makassar, Maros, Gowa, dan sekitarnya masih berpotensi berada pada kategori sedang hingga tidak sehat sampai 13 Oktober 2026.

“Khususnya kondisi ini perlu diperhatikan pada pagi hari hingga siang hari,” ujar Amhar kepada media, Sabtu (10/10/2026).

Amhar juga menyebut konsentrasi partikulat dalam pemantauan lima hari terakhir cenderung lebih tinggi pada malam hingga pagi.

Kondisi kering dan belum turunnya hujan membuat debu, asap, serta partikel pencemar lebih mudah bertahan di udara.

Asap Karhutla dan Emisi Masih Dipantau

Ketua Tim Bidang Meteorologi BMKG Wilayah IV Makassar Rizky Yuda mengatakan peningkatan PM2.5 di Maros dan sekitarnya mulai terpantau sejak 30 September.

BACA JUGA:  Kader LSM Jadi Sasaran Pembusuran Misterius di Makassar, Polisi Buru Pelaku

Sumber partikulat dapat berasal dari emisi kendaraan, aktivitas industri, serta asap kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan.

“Memang sejak tanggal 30 September itu terjadi peningkatan konsentrasi PM2.5 yang mengakibatkan penurunan kualitas udara,” kata Rizky kepada media, Senin (5/10/2026).

Arah angin ikut menentukan pergerakan dan penyebaran asap. BMKG sebelumnya menjelaskan asap dari wilayah lain dapat terbawa menuju Sulawesi Selatan, sementara kebakaran lahan di sejumlah kabupaten juga berpotensi menambah partikulat lokal.

Dalam pembaruan dashboard BMKG setelah pembacaan pagi, Maros tercatat berada pada 51,2 µg/m³ dan kategori sedang.

Perubahan itu memperlihatkan kualitas udara dapat bergerak dalam hitungan jam, sehingga angka 65 µg/m³ perlu dibaca sebagai kondisi pada pukul 07.00 Wita, bukan gambaran sepanjang hari.

Kelompok Rentan Diminta Kurangi Paparan

Kelompok sensitif, seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta warga dengan asma atau penyakit jantung dan paru-paru, diminta lebih berhati-hati ketika kualitas udara memburuk.

BACA JUGA:  Udara Makassar Tidak Sehat, Warga Diimbau Pakai Masker N95

BMKG mengimbau masyarakat memakai masker saat beraktivitas di luar ruangan, mengurangi aktivitas fisik berat di area terbuka, serta menutup pintu dan jendela ketika konsentrasi polutan di luar meningkat.

Warga yang mengalami sesak napas atau gangguan pernapasan yang memburuk disarankan mencari pertolongan medis.

SulawesiPos.com – Maros mencatat skor AQI tertinggi di Sulawesi Selatan, yakni 149, dalam daftar kualitas udara IQAir yang dibagikan pada Senin (12/10/2026).

Pada hari yang sama, stasiun BMKG di Maros merekam konsentrasi PM2.5 sebesar 65 mikrogram per meter kubik pada pukul 07.00 Wita, setelah partikulat sempat turun pada dini hari.

Data tersebut menempatkan Maros pada rentang AQI 101-150 yang dikategorikan tidak sehat bagi kelompok sensitif.

Bantaeng berada di posisi berikutnya dengan AQI 126, Jeneponto 125, sedangkan Makassar mencatat 121.

Angka AQI dalam daftar merupakan gambaran pada waktu pemantauan tertentu.

Nilainya dapat berubah mengikuti konsentrasi polutan, arah angin, hujan, dan kondisi atmosfer.

PM2.5 Kembali Naik pada Pagi Hari

Grafik BMKG menunjukkan konsentrasi PM2.5 di Maros berfluktuasi sejak tengah malam.

Partikulat berada pada kategori tidak sehat pada awal malam hingga sekitar pukul 02.00 Wita, turun ke kategori sedang pada pukul 03.00-05.00 Wita, lalu kembali meningkat pada pukul 06.00-07.00 Wita.

BACA JUGA:  Prakiraan Cuaca Sulawesi Selatan Hari Ini, Jumat 31 Juli 2026: Berawan, Luwu Timur Berpotensi Hujan Sedang

Pembacaan 65 µg/m³ dilakukan di Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan, Maros.

Angka tersebut tidak otomatis mewakili seluruh wilayah Sulawesi Selatan dan tidak dapat dibandingkan langsung dengan AQI 149 karena keduanya memakai indikator serta satuan berbeda.

Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar Amhar Ulfiana mengatakan kualitas udara di Makassar, Maros, Gowa, dan sekitarnya masih berpotensi berada pada kategori sedang hingga tidak sehat sampai 13 Oktober 2026.

“Khususnya kondisi ini perlu diperhatikan pada pagi hari hingga siang hari,” ujar Amhar kepada media, Sabtu (10/10/2026).

Amhar juga menyebut konsentrasi partikulat dalam pemantauan lima hari terakhir cenderung lebih tinggi pada malam hingga pagi.

Kondisi kering dan belum turunnya hujan membuat debu, asap, serta partikel pencemar lebih mudah bertahan di udara.

Asap Karhutla dan Emisi Masih Dipantau

Ketua Tim Bidang Meteorologi BMKG Wilayah IV Makassar Rizky Yuda mengatakan peningkatan PM2.5 di Maros dan sekitarnya mulai terpantau sejak 30 September.

BACA JUGA:  PWI dan IKWI Sulsel Semarakkan HUT RI ke-81, Ada Lomba Tekan Balon Suami-Istri

Sumber partikulat dapat berasal dari emisi kendaraan, aktivitas industri, serta asap kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan.

“Memang sejak tanggal 30 September itu terjadi peningkatan konsentrasi PM2.5 yang mengakibatkan penurunan kualitas udara,” kata Rizky kepada media, Senin (5/10/2026).

Arah angin ikut menentukan pergerakan dan penyebaran asap. BMKG sebelumnya menjelaskan asap dari wilayah lain dapat terbawa menuju Sulawesi Selatan, sementara kebakaran lahan di sejumlah kabupaten juga berpotensi menambah partikulat lokal.

Dalam pembaruan dashboard BMKG setelah pembacaan pagi, Maros tercatat berada pada 51,2 µg/m³ dan kategori sedang.

Perubahan itu memperlihatkan kualitas udara dapat bergerak dalam hitungan jam, sehingga angka 65 µg/m³ perlu dibaca sebagai kondisi pada pukul 07.00 Wita, bukan gambaran sepanjang hari.

Kelompok Rentan Diminta Kurangi Paparan

Kelompok sensitif, seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta warga dengan asma atau penyakit jantung dan paru-paru, diminta lebih berhati-hati ketika kualitas udara memburuk.

BACA JUGA:  Wanita di Makassar Bacok Mahasiswa Sampai Jari Nyaris Putus gegara Ditabrak

BMKG mengimbau masyarakat memakai masker saat beraktivitas di luar ruangan, mengurangi aktivitas fisik berat di area terbuka, serta menutup pintu dan jendela ketika konsentrasi polutan di luar meningkat.

Warga yang mengalami sesak napas atau gangguan pernapasan yang memburuk disarankan mencari pertolongan medis.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru