Peserta dibekali kemampuan mengambil dan menginterpretasikan data untuk menentukan kebutuhan pemupukan, pengairan, serta pengendalian hama dan penyakit tanaman. Selain penyampaian materi dan diskusi interaktif, peserta juga mengikuti demonstrasi penggunaan instrumen pertanian presisi di lahan percontohan.
“Petani tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga keterampilan. Mereka akan melihat langsung cara mengambil data di lapangan, menginterpretasikannya, kemudian menentukan tindakan yang tepat berdasarkan kondisi tanaman. Dengan begitu, keputusan budidaya benar-benar berbasis data,” ungkapnya.
Perkuat Sidrap sebagai Lumbung Padi
Patahangi optimistis kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Sidrap dan Universitas Hasanuddin dapat mempercepat penerapan pertanian berbasis data di tingkat petani.
Menurutnya, perpaduan antara pengalaman petani dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi akan menjadi kunci peningkatan produktivitas pertanian.
Ia berharap wawasan dan keterampilan yang diperoleh peserta selama workshop dapat diterapkan secara berkelanjutan di lapangan sehingga mampu meningkatkan hasil panen.
“Kami berharap melalui workshop ini wawasan dan keterampilan petani semakin bertambah sehingga mampu menerapkan teknologi di lapangan. Jika ilmu dan pengalaman petani dipadukan dengan baik, kami optimistis target produktivitas 10 hingga 12 ton per hektare dapat tercapai,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia meyakini peningkatan produktivitas tersebut akan semakin memperkuat posisi Kabupaten Sidrap sebagai salah satu lumbung padi nasional sekaligus mendukung upaya pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan.
“Kami yakin perpaduan teknologi dan pengalaman petani akan membawa hasil yang lebih maksimal. Dengan begitu, target produksi daerah dapat tercapai dan Sidrap akan semakin memperkuat perannya sebagai lumbung padi nasional,” tutupnya.

