SulawesiPos.com – Polemik distribusi solar subsidi di Kabupaten Bone kembali mencuat. Setelah sebelumnya mendapat teguran langsung dari Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman saat sidak, SPBU Pakkasalo Kecamatan Dua Boccoe Kabupaten Bone, kembali menjadi sorotan usai beredar video yang memperlihatkan sejumlah jeriken berjejer di area pengisian bahan bakar solar, Jumat (31/7/2026).
Video yang diterima Jawa Pos Grup memperlihatkan pengisian jeriken untik solar dalam jumlah besar. Sementara disaat yang sama antrean panjang kendaraan, terutama truk, terlihat mengular di luar SPBU menunggu giliran mendapatkan solar subsidi.
Sejumlah warga mempertanyakan prioritas pelayanan SPBU yang dinilai masih memberikan ruang bagi pengisian menggunakan jeriken di tengah kelangkaan solar yang dikeluhkan masyarakat.
Salah seorang sumber kepada media ini menyebut jeriken-jeriken tersebut diduga milik para pelangsir yang selama ini membeli solar subsidi untuk kemudian diperjualbelikan kembali.
“Informasinya solar itu akan dibawa keluar daerah, bahkan ada yang menyebut ke Morowali. Sementara petani di sini banyak yang kesulitan mendapatkan solar untuk kebutuhan alat dan mesin pertanian,” ujar sumber tersebut.
Menurutnya, kondisi ini sangat merugikan petani yang tengah memasuki musim pengolahan lahan maupun panen. Ketersediaan solar menjadi kebutuhan penting untuk mengoperasikan traktor, pompa air, hingga mesin panen.
“Petani justru sering mengeluh tidak diprioritaskan. Padahal mereka membutuhkan solar untuk alsintan, bukan untuk dijual kembali,” tambahnya.
Ironisnya, pihak SPBU justru mengutamakan pengisian jeriken, karena diduga mendapat keutungan besar disana.
“Saya harap bapak bupati memberikan sanksi dan aparat penegak hukum menindak tegas oknum nakal di SPBU ini. Karena sangat merugikan kami. Bahkan ada pengemudi truk sampai bermalam karena menunggu solar subsidi,” keluhnya.
Sementara itu, Manajer SPBU Pakkasalo tak menjawab saat dikonfirmasi sekaitan adanya dugaan main mata SPBU dengan para mafia solar. Ia hanya menjelaskan soal stok solar di SPBU nya yang diterima hanya sekitar 8 kiloliter per hari, sehingga Ia beralasan tidak mampu memenuhi tingginya permintaan masyarakat.
“Kami berusaha membagi secara merata. Setiap jeriken dibatasi sekitar 30 liter agar semua bisa kebagian,” kilahnya.
Terkait video pengisian jeriken yang beredar, Suri mengaku pengisian jeriken baru dilayani pada waktu tertentu.
“Kalau jeriken, biasanya kami layani setelah jam 9 pagi,” kilahnya.
Meski demikian, penjelasan tersebut belum meredam sorotan publik. Pasalnya, keberadaan jeriken dalam jumlah besar di tengah antrean panjang kendaraan kembali memunculkan dugaan adanya praktik pelangsiran solar subsidi yang selama ini dikeluhkan masyarakat.
Warga berharap aparat penegak hukum bersama instansi terkait segera melakukan pengawasan lebih ketat untuk memastikan solar subsidi benar-benar dinikmati oleh kelompok yang berhak, khususnya petani, nelayan, dan pelaku usaha kecil yang sangat bergantung pada ketersediaan bahan bakar bersubsidi.
Kasus ini pun menambah daftar persoalan distribusi BBM subsidi di Bone yang belakangan menjadi perhatian serius pemerintah daerah setelah Bupati Bone melakukan inspeksi mendadak di sejumlah SPBU guna memastikan penyaluran BBM berjalan sesuai aturan. (kar)

