“Kami berusaha membagi secara merata. Setiap jeriken dibatasi sekitar 30 liter agar semua bisa kebagian,” kilahnya.
Terkait video pengisian jeriken yang beredar, Suri mengaku pengisian jeriken baru dilayani pada waktu tertentu.
“Kalau jeriken, biasanya kami layani setelah jam 9 pagi,” kilahnya.
Meski demikian, penjelasan tersebut belum meredam sorotan publik. Pasalnya, keberadaan jeriken dalam jumlah besar di tengah antrean panjang kendaraan kembali memunculkan dugaan adanya praktik pelangsiran solar subsidi yang selama ini dikeluhkan masyarakat.
Warga berharap aparat penegak hukum bersama instansi terkait segera melakukan pengawasan lebih ketat untuk memastikan solar subsidi benar-benar dinikmati oleh kelompok yang berhak, khususnya petani, nelayan, dan pelaku usaha kecil yang sangat bergantung pada ketersediaan bahan bakar bersubsidi.
Kasus ini pun menambah daftar persoalan distribusi BBM subsidi di Bone yang belakangan menjadi perhatian serius pemerintah daerah setelah Bupati Bone melakukan inspeksi mendadak di sejumlah SPBU guna memastikan penyaluran BBM berjalan sesuai aturan. (kar)

