SulawesiPos.com – Operasi pencarian korban tenggelamnya KLM Nurul Salsa di perairan barat Pulau Polassi, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, masih terus berlangsung hingga Sabtu, 18 Juli 2026.
Di tengah upaya penyelamatan itu, kisah haru seorang kakek bernama Umar (80) yang memberikan pelampung terakhir kepada cucunya, Naura (13), menjadi sorotan di tengah tragedi yang masih menyisakan puluhan korban belum ditemukan.
Menurut keterangan keluarga, Umar memilih menyerahkan pelampung terakhir yang tersedia kepada cucunya ketika situasi di atas kapal semakin genting.
Saat itu, pelampung di kapal disebut sudah habis sehingga Umar tetap berada di kapal tanpa mengenakan alat keselamatan.
Foto yang diabadikan sebelum musibah memperlihatkan Umar duduk berdampingan dengan Naura di atas kapal.
Beberapa jam sebelumnya, saat kapal mengalami gangguan mesin, komunikasi masih sempat terjalin melalui telepon dengan Eka, anak Umar sekaligus ibu Naura, yang berada di rumah.
Percakapan berlangsung sejak sekitar pukul 10.00 WITA hingga menjelang kapal tenggelam sekitar pukul 16.00 WITA.
Setelah sambungan terputus, keluarga tidak lagi menerima kabar dari para penumpang.
Hingga pembaruan terbaru, Umar dan Naura masih termasuk dalam daftar korban yang belum ditemukan bersama Maridaeng, Bau Intang, Syahrul Amin, dan penumpang lain yang masih dicari tim SAR gabungan.
Kapal Bawa Penumpang, Logistik, dan Ternak
Selain mengangkut 74 penumpang dan awak kapal, KLM Nurul Salsa juga membawa muatan sekitar 10 ton beras, 2 ton kopra, 5 ton arang, empat ekor sapi, serta enam unit sepeda motor.
Keluarga korban menduga kapal sempat mengalami mati mesin sebelum diterjang gelombang tinggi.
Air laut yang masuk ke lambung kapal membuat muatan, terutama kopra, semakin berat sehingga kapal kehilangan keseimbangan dan akhirnya tenggelam.
Basarnas bersama TNI, Polairud, nelayan, dan berbagai unsur SAR terus memperluas area pencarian melalui jalur laut maupun udara.
Untuk mendukung operasi, dikerahkan KN SAR Kamajaya, KRI Marlin 877, serta pesawat Boeing B737-200 dari Lanud Sultan Hasanuddin.
Kepala Kantor Basarnas Makassar Muhammad Arif Anwar mengatakan,
“Kami berharap sinergi seluruh unsur yang terlibat dapat mempercepat proses pencarian. Tim di lapangan akan terus bekerja secara maksimal dengan tetap mengutamakan keselamatan personel. Kami juga memohon doa dari masyarakat agar seluruh korban yang masih dalam pencarian dapat segera ditemukan,” ucapnya.
Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman juga menyatakan dukungan pemerintah daerah terhadap operasi penyelamatan.
“Kami berkoordinasi dan telah mengerahkan kapal bersama Basarnas Makassar. Mohon doanya agar penumpang dalam pencarian segera ditemukan dalam keadaan selamat,” katanya.
Deputi Operasi Basarnas Edy Prakoso sebelumnya menjelaskan sebagian besar korban selamat berhasil dievakuasi kapal yang berada di sekitar lokasi.
“Sebanyak 41 orang berhasil dievakuasi oleh KM Harapan Kita, termasuk awak kapal, dari lokasi sekitar 18 nautical mile dari titik kejadian, selebihnya dievakuasi oleh kapal nelayan,” ujarnya.
Hingga pembaruan terakhir dari Basarnas, 49 orang ditemukan selamat, satu orang meninggal dunia, dan 24 orang masih dalam pencarian.
Tim SAR terus memperluas penyisiran di sekitar lokasi tenggelamnya kapal dengan harapan seluruh korban segera ditemukan.
Di balik operasi besar tersebut, kisah Umar yang rela menyerahkan pelampung terakhir kepada cucunya menjadi simbol pengorbanan keluarga di tengah tragedi laut ini.
Bagi keluarga korban, harapan agar orang-orang tercinta segera ditemukan masih terus menyala seiring berlangsungnya pencarian.


