Banjir di Sidrap Rendam 1.260 Rumah, Tanggul Jebol dan Ribuan Warga Terdampak

SulawesiPos.com – Banjir yang melanda Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, berdampak luas terhadap ribuan warga.

Luapan air yang merendam permukiman hingga area persawahan membuat aktivitas masyarakat terganggu dalam beberapa hari terakhir.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 1.260 kepala keluarga atau sekitar 3.790 jiwa terdampak akibat bencana tersebut.

Genangan terjadi setelah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat mengguyur wilayah Sidrap dan sekitarnya.

Debit air sungai yang meningkat menyebabkan air meluap ke kawasan pemukiman warga.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyebut wilayah terdampak tersebar di dua kecamatan.

“Wilayah tersebut yakni Desa Tana Toro di Kecamatan Pitu Riase, serta sejumlah wilayah di Kecamatan Tellu Limpoe, yakni Kelurahan Toddang Pulu, Arateng, Baula, dan Amparita,” kata Abdul Muhari dalam keterangannya dikutip Selasa (19/5/2026).

Selain merendam rumah warga, banjir juga berdampak pada sejumlah fasilitas umum dan infrastruktur.

BACA JUGA: 
10 Hektare Sawah Terancam Gagal Panen, 95 Rumah Warga Luwu Terendam

BNPB mencatat sedikitnya 1.260 rumah terendam, dua sekolah terdampat, serta satu kantor pemerintahan ikut terendam air.

Tidak hanya itu, satu tanggul dilaporkan jebol akibat derasnya arus banjir. Sementara sekitar 17 hektare lahan persawahan milik warga juga terdampak genangan.

Akses jalan di beberapa titik turut terganggu akibat banjir yang menghambat mobilitas masyarakat.

Berdasarkan pantauan SulawesiPos.com, sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sulawesi Selatan telah mengeluarkan prakiraan potensi hujan sedang di wilayah Sidrap sejak Kamis (14/5/2026) hingga Jumat (15/5/2026).

Memasuki masa peralihan musim, potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor disebut meningkat akibat curah hujan yang masih tinggi di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan.

BNPB mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada, terutama di kawasan rawan banjir dan daerah dengan sistem drainase yang kurang optimal.

Meski demikian, berdasarkan laporan BNPB per Sabtu (16/5/2026), kondisi banjir di Sidrap dilaporkan mulai berangsur surut di sejumlah titik terdampak.

BACA JUGA: 
Hujan Deras Picu Banjir di Tellu Limpoe Sidrap, Tanggul Jebol hingga Rendam 600 Rumah

SulawesiPos.com – Banjir yang melanda Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, berdampak luas terhadap ribuan warga.

Luapan air yang merendam permukiman hingga area persawahan membuat aktivitas masyarakat terganggu dalam beberapa hari terakhir.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 1.260 kepala keluarga atau sekitar 3.790 jiwa terdampak akibat bencana tersebut.

Genangan terjadi setelah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat mengguyur wilayah Sidrap dan sekitarnya.

Debit air sungai yang meningkat menyebabkan air meluap ke kawasan pemukiman warga.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyebut wilayah terdampak tersebar di dua kecamatan.

“Wilayah tersebut yakni Desa Tana Toro di Kecamatan Pitu Riase, serta sejumlah wilayah di Kecamatan Tellu Limpoe, yakni Kelurahan Toddang Pulu, Arateng, Baula, dan Amparita,” kata Abdul Muhari dalam keterangannya dikutip Selasa (19/5/2026).

Selain merendam rumah warga, banjir juga berdampak pada sejumlah fasilitas umum dan infrastruktur.

BACA JUGA: 
Hujan Deras Picu Banjir di Tellu Limpoe Sidrap, Tanggul Jebol hingga Rendam 600 Rumah

BNPB mencatat sedikitnya 1.260 rumah terendam, dua sekolah terdampat, serta satu kantor pemerintahan ikut terendam air.

Tidak hanya itu, satu tanggul dilaporkan jebol akibat derasnya arus banjir. Sementara sekitar 17 hektare lahan persawahan milik warga juga terdampak genangan.

Akses jalan di beberapa titik turut terganggu akibat banjir yang menghambat mobilitas masyarakat.

Berdasarkan pantauan SulawesiPos.com, sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sulawesi Selatan telah mengeluarkan prakiraan potensi hujan sedang di wilayah Sidrap sejak Kamis (14/5/2026) hingga Jumat (15/5/2026).

Memasuki masa peralihan musim, potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor disebut meningkat akibat curah hujan yang masih tinggi di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan.

BNPB mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada, terutama di kawasan rawan banjir dan daerah dengan sistem drainase yang kurang optimal.

Meski demikian, berdasarkan laporan BNPB per Sabtu (16/5/2026), kondisi banjir di Sidrap dilaporkan mulai berangsur surut di sejumlah titik terdampak.

BACA JUGA: 
10 Hektare Sawah Terancam Gagal Panen, 95 Rumah Warga Luwu Terendam

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru