Jejak Panre Bessi di Awangpone: Warisan Leluhur yang Menempa Besi dan Jati Diri

SulawesiPos.com – Di balik geliat modernisasi, Kecamatan Awangpone, Kabupaten Bone, masih menyimpan jejak sejarah panjang tradisi panre bessi, sebutan bagi para pandai besi yang menjadi bagian penting dari peradaban masyarakat Bugis sejak masa lampau.

Tradisi panre bessi di Awangpone dipercaya telah ada sejak ratusan tahun lalu, beriringan dengan perkembangan Kerajaan Bone. Pusatnya ada di Dusun Abbolangnge Desa Lappo Ase Kecamatan Awangpone.

Pada masa itu, keberadaan pandai besi bukan sekadar profesi, melainkan bagian dari sistem sosial yang strategis.

Mereka bertugas menempa berbagai alat kebutuhan hidup, mulai dari peralatan pertanian seperti cangkul dan parang, hingga senjata tradisional seperti badik dan keris yang memiliki nilai simbolik tinggi dalam budaya Bugis.

Secara turun-temurun, keterampilan ini diwariskan dari generasi ke generasi.

Proses penempaan besi dilakukan secara tradisional, menggunakan tungku sederhana, bara api dari arang, serta palu dan landasan besi.

Meski terlihat sederhana, teknik yang digunakan membutuhkan keahlian, ketelitian, dan kekuatan fisik yang tidak semua orang mampu melakukannya.

BACA JUGA: 
Prosesi Mattompang Arajang, Berikut Benda Pusaka Asli Kerajaan Bone yang Ditampilkan

Menurut cerita masyarakat setempat, panre bessi di Awangpone juga kerap dikaitkan dengan nilai-nilai spiritual.

Salah seorang budayawan Bone, Abdi Mahesa mengatakan, banyak yang mengaitkan panre bessi di Awangpone sebagai keturunan Panre Baitullah.

Konon, badik hasil karya Panre Baitullah terkenal akan kesaktiannya, siapa saja yang memegang badik ciptaannya, akan menjadi seorang yang tangguh yang susah dicari tandingannya.

“Nah, keturunan Panre Baitullah ini yang diyakini turun temurun menempa (membuat) benda pusaka yang terkenal akan kesaktiannya. Dan panre bessi yang ada di Awangpone, secara genetik mengakui mereka adalah keturunan Panre Baitullah,” katanya kepada wartawan SulawesiPos.com, Sabtu (25/4/2026).

Dan tidak menutup kemungkinan, beberapa benda pusaka Kerajaan Bone lanjutnya, ditempa oleh panre bessi keturunan Panre Baitullah.

Sementara itu, salah seorang pandai bessi (panre bessi) yang ada di Dusun Abbolangnge menyebutkan, dalam proses pembuatan senjata tertentu, biasanya dilakukan ritual khusus sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan harapan agar hasil tempaannya memiliki kekuatan serta makna filosofis.

BACA JUGA: 
Prosesi Mattompang Arajang, Berikut Benda Pusaka Asli Kerajaan Bone yang Ditampilkan

“Kami di sini, bertahan menjaga tradisi. Rata-rata, panre bessi (pandai besi) di sini, tidak hanya memproduksi alat-alat kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menerima pesanan benda-benda budaya yang kini mulai diminati kembali sebagai bagian dari identitas lokal,” ucapnya.

Panre Bessi Awangpone bukan hanya sekadar profesi, melainkan simbol ketekunan, kearifan lokal, dan warisan budaya yang terus ditempa dari masa ke masa. (kar)

SulawesiPos.com – Di balik geliat modernisasi, Kecamatan Awangpone, Kabupaten Bone, masih menyimpan jejak sejarah panjang tradisi panre bessi, sebutan bagi para pandai besi yang menjadi bagian penting dari peradaban masyarakat Bugis sejak masa lampau.

Tradisi panre bessi di Awangpone dipercaya telah ada sejak ratusan tahun lalu, beriringan dengan perkembangan Kerajaan Bone. Pusatnya ada di Dusun Abbolangnge Desa Lappo Ase Kecamatan Awangpone.

Pada masa itu, keberadaan pandai besi bukan sekadar profesi, melainkan bagian dari sistem sosial yang strategis.

Mereka bertugas menempa berbagai alat kebutuhan hidup, mulai dari peralatan pertanian seperti cangkul dan parang, hingga senjata tradisional seperti badik dan keris yang memiliki nilai simbolik tinggi dalam budaya Bugis.

Secara turun-temurun, keterampilan ini diwariskan dari generasi ke generasi.

Proses penempaan besi dilakukan secara tradisional, menggunakan tungku sederhana, bara api dari arang, serta palu dan landasan besi.

Meski terlihat sederhana, teknik yang digunakan membutuhkan keahlian, ketelitian, dan kekuatan fisik yang tidak semua orang mampu melakukannya.

BACA JUGA: 
Prosesi Mattompang Arajang, Berikut Benda Pusaka Asli Kerajaan Bone yang Ditampilkan

Menurut cerita masyarakat setempat, panre bessi di Awangpone juga kerap dikaitkan dengan nilai-nilai spiritual.

Salah seorang budayawan Bone, Abdi Mahesa mengatakan, banyak yang mengaitkan panre bessi di Awangpone sebagai keturunan Panre Baitullah.

Konon, badik hasil karya Panre Baitullah terkenal akan kesaktiannya, siapa saja yang memegang badik ciptaannya, akan menjadi seorang yang tangguh yang susah dicari tandingannya.

“Nah, keturunan Panre Baitullah ini yang diyakini turun temurun menempa (membuat) benda pusaka yang terkenal akan kesaktiannya. Dan panre bessi yang ada di Awangpone, secara genetik mengakui mereka adalah keturunan Panre Baitullah,” katanya kepada wartawan SulawesiPos.com, Sabtu (25/4/2026).

Dan tidak menutup kemungkinan, beberapa benda pusaka Kerajaan Bone lanjutnya, ditempa oleh panre bessi keturunan Panre Baitullah.

Sementara itu, salah seorang pandai bessi (panre bessi) yang ada di Dusun Abbolangnge menyebutkan, dalam proses pembuatan senjata tertentu, biasanya dilakukan ritual khusus sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan harapan agar hasil tempaannya memiliki kekuatan serta makna filosofis.

BACA JUGA: 
Prosesi Mattompang Arajang, Berikut Benda Pusaka Asli Kerajaan Bone yang Ditampilkan

“Kami di sini, bertahan menjaga tradisi. Rata-rata, panre bessi (pandai besi) di sini, tidak hanya memproduksi alat-alat kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menerima pesanan benda-benda budaya yang kini mulai diminati kembali sebagai bagian dari identitas lokal,” ucapnya.

Panre Bessi Awangpone bukan hanya sekadar profesi, melainkan simbol ketekunan, kearifan lokal, dan warisan budaya yang terus ditempa dari masa ke masa. (kar)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru