SulawesiPos.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan mencatat inflasi bulanan (month-to-month/mtm) Sulawesi Selatan pada Februari 2026 mencapai 1,04 persen.
Kenaikan ini terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau, dengan komoditas cabai rawit sebagai penyumbang terbesar.
Kepala BPS Sulsel, Aryanto, menyampaikan di Makassar, Selasa, bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan kontribusi signifikan terhadap inflasi mtm Februari 2026, yakni sebesar 0,65 persen.
Lonjakan harga pada sejumlah komoditas pangan menjadi faktor utama peningkatan tersebut.
Sejumlah komoditas tercatat mengalami kenaikan harga cukup tinggi, khususnya cabai rawit dan bawang merah, yang secara konsisten menjadi pemicu inflasi pada periode tersebut.
Cabai Rawit Punya Andil Terbesar
Cabai rawit tercatat sebagai komoditas dengan kontribusi inflasi paling besar, yaitu 0,12 persen.
Kenaikan harga yang cukup tajam di pasaran membuat komoditas ini memberi tekanan inflasi lebih tinggi dibandingkan bahan pangan lainnya.
Selain cabai rawit, komoditas hasil perikanan juga memberi sumbangan berarti terhadap inflasi Februari 2026.
“Udang basah, ikan cakalang atau ikan sisik, ikan bandeng atau ikan bolu, serta ikan layang atau ikan benggol masing-masing menyumbang inflasi sebesar 0,05 persen,” katanya.
Aryanto menjelaskan, besarnya kontribusi kelompok ikan mencerminkan adanya tekanan harga di sektor perikanan, yang diduga dipengaruhi oleh kondisi cuaca, kelancaran distribusi, hingga meningkatnya permintaan masyarakat.
Dari sektor hortikultura, tomat menyumbang inflasi sebesar 0,04 persen, disusul telur ayam ras dan kacang panjang yang masing-masing berkontribusi 0,03 persen.
Sementara itu, ikan teri dan sawi hijau masing-masing memberi andil 0,02 persen.
Secara keseluruhan, kenaikan harga berbagai komoditas pangan segar dari sektor pertanian dan perikanan menjadi pendorong utama inflasi bulanan di Sulawesi Selatan pada Februari 2026.
“Kondisi ini mencerminkan masih adanya dinamika pasokan dan permintaan yang memengaruhi stabilitas harga di tingkat konsumen,” katanya menerangkan.
Selain inflasi bulanan, BPS juga mencatat inflasi tahunan (year-on-year/yoy) Sulawesi Selatan sebesar 6,13 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 110,93.
Inflasi Tertinggi Terjadi di Sidrap
Secara spasial, inflasi tahunan tertinggi tercatat di Kabupaten Sidenreng Rappang dengan capaian 7,54 persen dan IHK sebesar 109,37.
Angka ini menunjukkan tekanan harga yang relatif lebih besar dibandingkan wilayah lain di Sulawesi Selatan.
Sebaliknya, inflasi terendah terjadi di Kota Palopo, yakni sebesar 5,14 persen dengan IHK 109,55.
Meski terendah, inflasi di Palopo tetap mencerminkan adanya kenaikan harga secara tahunan.
“Secara umum, capaian inflasi yoy sebesar 6,13 persen ini menggambarkan dinamika harga yang masih bergerak naik di berbagai wilayah Sulawesi Selatan, dengan variasi tingkat inflasi antar daerah,” ujar dia.

