Secara administratif, Palopo terdiri atas empat kecamatan dan 20 kelurahan.
Bahasa, Budaya, dan Identitas Sosial
Dalam kehidupan sosial budaya, masyarakat Luwu Raya umumnya menggunakan Bahasa Bugis dialek Luwu sebagai bahasa lokal utama.
Selain itu, Bahasa Makassar dan Bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa penghubung antar-etnis serta bahasa resmi dalam pemerintahan dan pendidikan.
Nilai-nilai adat dan budaya seperti ade’, siri’, dan pangngadereng masih terpelihara dan menjadi pedoman dalam kehidupan bermasyarakat.
Keberagaman etnis yang hidup berdampingan menjadikan kawasan ini dikenal inklusif dan terbuka.
Secara historis, Luwu Raya memiliki posisi yang sangat penting dalam sejarah Sulawesi Selatan.
Pada abad ke-14, wilayah ini menjadi pusat Kerajaan Luwu, yang dikenal sebagai salah satu kerajaan tertua di Sulawesi.
Kerajaan Luwu tercatat dalam berbagai sumber sejarah dan tradisi lisan, termasuk epos La Galigo, serta berperan besar dalam perkembangan politik, perdagangan, dan kebudayaan di kawasan timur Nusantara.
Jejak sejarah tersebut hingga kini masih menjadi identitas kuat yang melekat pada masyarakat Luwu Raya.
Isu Pemekaran Provinsi Luwu Raya
Dalam perkembangannya, Luwu Raya kembali menjadi sorotan seiring munculnya isu pemekaran wilayah untuk membentuk satu provinsi baru.

