SulawesiPos.com – Teknologi budidaya padi Pertanian Modern–Advanced Agriculture System atau PM-AAS disebut mampu meningkatkan hasil panen hingga 12,4 ton per hektare, jauh di atas rata-rata produktivitas nasional sekitar 5,5 ton per hektare. Capaian itu menjadi sorotan setelah ditinjau Presiden Prabowo Subianto pada puncak Pekan Nasional Petani Nelayan XVII Tahun 2026 di Gorontalo.
Peningkatan produktivitas tersebut dinilai menjadi sinyal kuat bahwa modernisasi pertanian mulai menunjukkan dampak nyata di lapangan. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan hasil PM-AAS menjadi modal penting untuk mempercepat penguatan produksi pangan nasional di tengah target swasembada yang terus didorong pemerintah.
Dalam keterangan yang dikutip dari rilis Kementerian Pertanian yang turut dipublikasikan sejumlah kanal pertanian pemerintah, PM-AAS merupakan model budidaya padi yang menggabungkan benih unggul, pola tanam modern, pengelolaan air yang lebih efektif, mekanisasi, serta adaptasi teknologi budidaya dari berbagai negara.
Menurut Mentan Amran, pendekatan itu merupakan hasil penggabungan teknologi yang dikembangkan dari pengalaman di Indonesia, China, dan Arkansas, Amerika Serikat. Dengan formulasi tersebut, produktivitas padi disebut bisa menembus 12,4 ton per hektare, jauh di atas rerata nasional yang masih berada di kisaran 5,5 ton per hektare.
PM-AAS jadi etalase pertanian modern di PENAS 2026
Peninjauan Presiden Prabowo terhadap teknologi PM-AAS terjadi saat rangkaian gelar teknologi pada PENAS XVII 2026 di Gorontalo. Dalam momentum itu, perhatian tertuju pada potensi inovasi pertanian untuk memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus mempercepat transformasi cara bertani di tingkat petani.
Presiden disebut menilai kemajuan teknologi pertanian seperti PM-AAS sebagai modal kuat untuk membawa Indonesia menuju kekuatan pangan yang lebih mapan. Fokusnya bukan hanya pada kenaikan hasil panen, tetapi juga pada keberlanjutan sistem, kemampuan petani menyerap teknologi, dan penguatan fondasi produksi hingga level desa.
Bagi pemerintah, keberhasilan model seperti PM-AAS tidak cukup berhenti sebagai demonstrasi teknologi. Inovasi itu diarahkan untuk diperluas, diajarkan, dan dimasifkan agar manfaatnya bisa dirasakan lebih luas di berbagai sentra produksi padi nasional.
Amran kaitkan kenaikan hasil dengan strategi intensifikasi
Mentan Amran menegaskan lonjakan hasil panen melalui PM-AAS merupakan bagian dari strategi intensifikasi yang kini dijalankan bersamaan dengan ekstensifikasi lahan. Dengan kata lain, pemerintah tidak hanya menambah areal tanam, tetapi juga berupaya menaikkan produktivitas pada lahan yang sudah ada melalui teknologi dan budidaya yang lebih modern.
Strategi itu dijalankan melalui beberapa jalur sekaligus, mulai dari pemakaian benih unggul, perbaikan pola tanam, dukungan irigasi, mekanisasi pertanian, hingga peningkatan indeks pertanaman. Dalam kerangka itulah PM-AAS diposisikan sebagai salah satu contoh pendekatan yang dianggap mampu mempercepat lompatan hasil.
Amran juga mengaitkan produktivitas tersebut dengan dukungan sarana produksi yang lebih baik, termasuk ketersediaan pupuk yang lebih mudah diakses petani. Menurut dia, kombinasi teknologi budidaya modern dan dukungan input pertanian menjadi faktor penting dalam mendorong hasil panen yang lebih tinggi.
Jika capaian di atas 10 ton per hektare bisa dijaga secara konsisten, dampaknya tidak hanya terasa pada angka produksi semata. Peningkatan itu juga berpotensi memperkuat stok pangan nasional, memperbesar ruang serap hasil panen petani, dan memberi fondasi lebih kuat bagi target swasembada yang berkelanjutan.
Karena itu, kemunculan PM-AAS pada PENAS 2026 dibaca bukan sekadar sebagai unjuk inovasi, melainkan sebagai sinyal arah kebijakan pertanian Indonesia. Saat produktivitas bisa didorong jauh di atas rata-rata nasional, tantangan berikutnya adalah memastikan teknologi tersebut benar-benar bisa diadopsi lebih luas dan memberi manfaat nyata bagi petani.*engan


