SulawesiPos.com — DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan (Sulsel) angkat bicara menanggapi hasil survei/rilis Centre of Economic and Law Studies (CELIOS) yang menempatkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam jajaran menteri berkinerja terburuk.
Golkar menilai penilaian tersebut sangat subjektif, tendensius, dan tidak melihat tantangan riil yang sedang dihadapi sektor energi global.
Ketua Golkar Sulsel, Dr. H. Ilham Arief Sirajuddin (IAS), menegaskan bahwa menilai kinerja Kementerian ESDM saat ini tidak bisa dilepaskan dari kondisi geopolitik global yang bergejolak, terutama eskalasi perang dan konflik di berbagai penjuru dunia yang berdampak langsung pada rantai pasok serta stabilitas harga energi dunia.
“Posisinya sebagai Menteri ESDM ini berada di kawasan ‘ombak besar’. Pak Bahlil bekerja di bawah bayang-bayang ketidakpastian geopolitik global dan perang yang sangat tidak menguntungkan. Mengukur kinerja beliau secara hitam-putih tanpa memperhitungkan variabel eksternal yang begitu kompleks adalah langkah yang kurang adil dan jauh dari objektif,” ujar Ilham Arief Sirajuddin dalam keterangannya, Rabu, 14 Oktober 2026.
Ilham menjelaskan, di tengah situasi global yang serba sulit, Bahlil Lahadalia justru menunjukkan kepemimpinan yang tangguh (strong leadership) dan tetap mencatatkan berbagai prestasi strategis bagi kedaulatan energi nasional.
Menurut IAS, beberapa kerja nyata dan prestasi Bahlil di Kementerian ESDM yang patut diapresiasi antara lain; Peningkatan Investasi & Nilai Tambah (Hilirisasi):.
Bahlil konsisten memperjuangkan dan mengawal program hilirisasi sumber daya alam secara terintegrasi, yang tidak hanya meningkatkan nilai tambah di dalam negeri tetapi juga membuka lapangan kerja masif.
IAS juga menganggap Bahlil suksesk menjaga stabilitas pasokan Energi Nasional. Di tengah krisis energi dan gejolak harga minyak mentah dunia akibat perang, Kementerian ESDM di bawah kepemimpinan Bahlil mampu menjaga ketersediaan BBM dan listrik nasional tetap aman serta terjangkau bagi masyarakat.
Bukan itu saja, Bahlil terus mendorong langkah-langkah konkret percepatan bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) dan penataan regulasi guna menarik investasi hijau ke Indonesia.
“Yang terakhir, melalui langkah tegas dan transparan, Bahlil terus membenahi tata kelola sektor pertambangan nasional agar memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi negara dan daerah.”
”Di tengah guncangan ekonomi dunia, Pak Bahlil justru berhasil menjaga iklim investasi sektor ESDM tetap tumbuh positif. Beliau turun langsung ke lapangan mengurai bottlenecking dan memastikan kebijakan pemerintah betul-betul berdampak pada masyarakat bawah,” tegas mantan Wali Kota Makassar dua periode tersebut.
Ilham mengimbau lembaga pengkaji atau pengamat untuk menyajikan evaluasi yang konstruktif dan komprehensif dengan mempertimbangkan parameter makro secara utuh.
“Golkar sangat terbuka terhadap kritik. Namun, kritik harus dibangun di atas basis data yang fair. Kami saksi bagaimana kerja keras Pak Bahlil dalam mengamankan ketahanan energi nasional di masa-masa sulit ini. Kami yakin masyarakat dapat menilai secara bijak mana hasil kerja nyata dan mana opini yang tidak berimbang,” tutup IAS.


