Novelis Arab Saudi Mengabadikan Makkah sebagai Titik Temu Keragaman Manusia Dunia

Pameran tersebut menerjemahkan cerita, suasana batin, dan pertanyaan filosofis dalam novel melalui narasi, suara, warna, bentuk, teks, lukisan, cermin, serta instalasi konseptual.

Barboud, yang pernah mewakili Arab Saudi sebagai kaligrafer pada Expo Jepang, mengatakan seluruh warna dan bentuk dalam pameran dirancang sebagai simbol untuk membantu pengunjung memahami sosok Ismail.

Cermin ditempatkan bersama teks dan unsur visual agar pengunjung tidak sekadar melihat perjalanan tokoh utama, tetapi juga menemukan pantulan dirinya di dalam persoalan identitas yang dihadapi Ismail.

Cat yang digunakan dalam sejumlah karya bahkan dicampur dengan air Zamzam karena memiliki makna simbolis dalam cerita, meskipun unsur tersebut ditempatkan sebagai ekspresi artistik dan bukan sebagai ukuran nilai spiritual suatu karya.a

Perpaduan sastra, kaligrafi, seni instalasi, suara, dan refleksi visual menunjukkan perkembangan cara penyajian karya sastra Arab, yakni dari aktivitas membaca individual menjadi pengalaman budaya yang melibatkan lebih banyak indra.

Pesan Universal dari Tanah Suci

Nama Ismail dalam novel dapat dibaca sebagai simbol perjalanan manusia untuk mencari asal-usul, pengorbanan, ketaatan, identitas, dan tempat kembali, tetapi makna akhirnya tetap terbuka bagi penafsiran setiap pembaca.

BACA JUGA:  Retaknya Poros Arab Saudi-Uni Emirat Arab di Tanah Yaman

Novel tersebut sekaligus menghadirkan Makkah bukan hanya sebagai pusat ibadah umat Islam, melainkan juga ruang perjumpaan global tempat manusia dari beragam bangsa berinteraksi dalam kesetaraan ritual.

Dalam perspektif sosial, interaksi antarjemaah memperluas pemahaman lintas budaya karena orang yang berbeda bahasa, warna kulit, status ekonomi, dan kewarganegaraan bergerak dalam rangkaian ibadah yang sama.

Al-Shubaili mengajak setiap orang yang menunaikan haji atau umrah untuk tidak hanya hadir dan melihat secara fisik, tetapi juga mengamati pengalaman kemanusiaan yang berlangsung di sekelilingnya.

“Di sana terdapat orang yang melihat dan orang yang tidak melihat, padahal pengalaman di Masjidilharam penuh dengan pelajaran kemanusiaan dan sosial yang terhubung dengan agama serta dapat membentuk kepribadian apabila seseorang memilih untuk mendalaminya,” katanya.à

Melalui Setiap Kita Memiliki Ismail, Al-Shubaili pada akhirnya mengubah ingatan Makkah menjadi jembatan sastra yang mempertemukan spiritualitas, keberagaman budaya, empati sosial, dan pencarian jati diri manusia. *(Ali)*

BACA JUGA:  Tanjung Verde Tahan Arab Saudi 0-0, Akhiri Fase Grup Piala Dunia 2026 Tanpa Kekalahan

Pameran tersebut menerjemahkan cerita, suasana batin, dan pertanyaan filosofis dalam novel melalui narasi, suara, warna, bentuk, teks, lukisan, cermin, serta instalasi konseptual.

Barboud, yang pernah mewakili Arab Saudi sebagai kaligrafer pada Expo Jepang, mengatakan seluruh warna dan bentuk dalam pameran dirancang sebagai simbol untuk membantu pengunjung memahami sosok Ismail.

Cermin ditempatkan bersama teks dan unsur visual agar pengunjung tidak sekadar melihat perjalanan tokoh utama, tetapi juga menemukan pantulan dirinya di dalam persoalan identitas yang dihadapi Ismail.

Cat yang digunakan dalam sejumlah karya bahkan dicampur dengan air Zamzam karena memiliki makna simbolis dalam cerita, meskipun unsur tersebut ditempatkan sebagai ekspresi artistik dan bukan sebagai ukuran nilai spiritual suatu karya.a

Perpaduan sastra, kaligrafi, seni instalasi, suara, dan refleksi visual menunjukkan perkembangan cara penyajian karya sastra Arab, yakni dari aktivitas membaca individual menjadi pengalaman budaya yang melibatkan lebih banyak indra.

Pesan Universal dari Tanah Suci

Nama Ismail dalam novel dapat dibaca sebagai simbol perjalanan manusia untuk mencari asal-usul, pengorbanan, ketaatan, identitas, dan tempat kembali, tetapi makna akhirnya tetap terbuka bagi penafsiran setiap pembaca.

BACA JUGA:  RESMI! Malaysia dan Filipina Gagal Total, Ini 4 Wakil ASEAN di Piala Asia 2027

Novel tersebut sekaligus menghadirkan Makkah bukan hanya sebagai pusat ibadah umat Islam, melainkan juga ruang perjumpaan global tempat manusia dari beragam bangsa berinteraksi dalam kesetaraan ritual.

Dalam perspektif sosial, interaksi antarjemaah memperluas pemahaman lintas budaya karena orang yang berbeda bahasa, warna kulit, status ekonomi, dan kewarganegaraan bergerak dalam rangkaian ibadah yang sama.

Al-Shubaili mengajak setiap orang yang menunaikan haji atau umrah untuk tidak hanya hadir dan melihat secara fisik, tetapi juga mengamati pengalaman kemanusiaan yang berlangsung di sekelilingnya.

“Di sana terdapat orang yang melihat dan orang yang tidak melihat, padahal pengalaman di Masjidilharam penuh dengan pelajaran kemanusiaan dan sosial yang terhubung dengan agama serta dapat membentuk kepribadian apabila seseorang memilih untuk mendalaminya,” katanya.à

Melalui Setiap Kita Memiliki Ismail, Al-Shubaili pada akhirnya mengubah ingatan Makkah menjadi jembatan sastra yang mempertemukan spiritualitas, keberagaman budaya, empati sosial, dan pencarian jati diri manusia. *(Ali)*

BACA JUGA:  Tanjung Verde Tahan Arab Saudi 0-0, Akhiri Fase Grup Piala Dunia 2026 Tanpa Kekalahan

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru