Bahtra Banong: Pidato Prabowo Soal Oposisi Tunjukkan Komitmen pada Demokrasi

SulawesiPos.com – Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Bahtra Banong, menilai pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Paripurna DPR RI terkait Keterangan Pemerintah atas Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027 memuat pesan politik yang penting bagi demokrasi Indonesia.

Menurut Bahtra, penghormatan serta ucapan terima kasih yang disampaikan Presiden kepada kelompok oposisi mencerminkan sikap kenegarawanan sekaligus komitmen terhadap prinsip demokrasi.

“Pidato Presiden kemarin menunjukkan kualitas kenegarawanan yang sangat kuat. Beliau tidak hanya menghormati oposisi, tetapi juga mengakui secara terbuka bahwa demokrasi membutuhkan check and balances. Ini adalah pernyataan yang sangat demokratis dan konstitusional, dan harus menjadi contoh bagi para tokoh bangsa,” ujar Bahtra dalam keterangan tertulis, Kamis (21/5/2026).

Bahtra menilai pidato tersebut sekaligus menjadi respons terhadap berbagai anggapan yang selama ini mengaitkan Prabowo dengan karakter kepemimpinan yang anti-demokrasi atau terlalu kental dengan latar belakang militer.

Menurut politikus Partai Gerindra itu, seorang pemimpin yang menolak prinsip demokrasi umumnya tidak menempatkan oposisi sebagai bagian penting dari sistem pemerintahan.

BACA JUGA: 
Prabowo Kunjungi Rusia Pekan Ini, Bahas Energi dan Geopolitik dengan Putin

“Kalau ada pemimpin yang anti-demokrasi, biasanya oposisi dianggap ancaman. Artinya beliau memahami bahwa demokrasi tidak harus seragam, tidak harus semua masuk pemerintah,” jelasnya.

Bahtra juga menilai sikap Prabowo terhadap Megawati Soekarnoputri memperlihatkan pendekatan politik yang lebih menekankan persatuan dibanding rivalitas.

“Pak Prabowo menunjukkan bahwa perbedaan politik tidak menghapus rasa hormat dan persaudaraan kebangsaan. Apalagi keduanya punya histori persahabatan yang kuat. Artinya beliau mengajarkan bahwa politik harus dijalankan dengan etika, penghormatan, dan jiwa besar,” katanya.

Stabilitas Politik Dinilai Penting untuk Pembangunan

Bahtra meminta masyarakat menilai kepemimpinan Presiden secara objektif melalui kebijakan dan langkah yang diambil saat ini, bukan hanya berdasarkan persepsi masa lalu.

“Hari ini Presiden Prabowo menunjukkan kepemimpinan yang inklusif, terbuka terhadap kritik, menghormati oposisi, dan mengutamakan persatuan nasional. Itu semua justru merupakan esensi utama dari demokrasi,” tegasnya.

Ia menambahkan konsolidasi nasional yang dibangun pemerintah juga berperan penting dalam mendukung berbagai agenda pembangunan ekonomi.

BACA JUGA: 
Prabowo Ratifikasi Konvensi ILO 188, Siapkan 1.500 Kampung Nelayan per Tahun

Menurutnya, target seperti swasembada pangan, hilirisasi, industrialisasi nasional, hingga pertumbuhan ekonomi membutuhkan stabilitas politik dan hubungan yang harmonis di antara para pemimpin bangsa.

“Target besar seperti swasembada pangan, hilirisasi, industrialisasi, dan pertumbuhan ekonomi membutuhkan stabilitas politik serta kerukunan antar pemimpin bangsa meskipun berbeda pandangan politik,” tutupnya.

 

SulawesiPos.com – Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Bahtra Banong, menilai pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Paripurna DPR RI terkait Keterangan Pemerintah atas Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027 memuat pesan politik yang penting bagi demokrasi Indonesia.

Menurut Bahtra, penghormatan serta ucapan terima kasih yang disampaikan Presiden kepada kelompok oposisi mencerminkan sikap kenegarawanan sekaligus komitmen terhadap prinsip demokrasi.

“Pidato Presiden kemarin menunjukkan kualitas kenegarawanan yang sangat kuat. Beliau tidak hanya menghormati oposisi, tetapi juga mengakui secara terbuka bahwa demokrasi membutuhkan check and balances. Ini adalah pernyataan yang sangat demokratis dan konstitusional, dan harus menjadi contoh bagi para tokoh bangsa,” ujar Bahtra dalam keterangan tertulis, Kamis (21/5/2026).

Bahtra menilai pidato tersebut sekaligus menjadi respons terhadap berbagai anggapan yang selama ini mengaitkan Prabowo dengan karakter kepemimpinan yang anti-demokrasi atau terlalu kental dengan latar belakang militer.

Menurut politikus Partai Gerindra itu, seorang pemimpin yang menolak prinsip demokrasi umumnya tidak menempatkan oposisi sebagai bagian penting dari sistem pemerintahan.

BACA JUGA: 
Prabowo Naikkan Pangkat Rizki Juniansyah dari Letda Langsung Jadi Kapten, Presiden Bagikan Bonus SEA Games

“Kalau ada pemimpin yang anti-demokrasi, biasanya oposisi dianggap ancaman. Artinya beliau memahami bahwa demokrasi tidak harus seragam, tidak harus semua masuk pemerintah,” jelasnya.

Bahtra juga menilai sikap Prabowo terhadap Megawati Soekarnoputri memperlihatkan pendekatan politik yang lebih menekankan persatuan dibanding rivalitas.

“Pak Prabowo menunjukkan bahwa perbedaan politik tidak menghapus rasa hormat dan persaudaraan kebangsaan. Apalagi keduanya punya histori persahabatan yang kuat. Artinya beliau mengajarkan bahwa politik harus dijalankan dengan etika, penghormatan, dan jiwa besar,” katanya.

Stabilitas Politik Dinilai Penting untuk Pembangunan

Bahtra meminta masyarakat menilai kepemimpinan Presiden secara objektif melalui kebijakan dan langkah yang diambil saat ini, bukan hanya berdasarkan persepsi masa lalu.

“Hari ini Presiden Prabowo menunjukkan kepemimpinan yang inklusif, terbuka terhadap kritik, menghormati oposisi, dan mengutamakan persatuan nasional. Itu semua justru merupakan esensi utama dari demokrasi,” tegasnya.

Ia menambahkan konsolidasi nasional yang dibangun pemerintah juga berperan penting dalam mendukung berbagai agenda pembangunan ekonomi.

BACA JUGA: 
Kisah dari Kampung Nelayan Merah Putih Leato Selatan: Es Murah hingga Harapan Baru Nelayan

Menurutnya, target seperti swasembada pangan, hilirisasi, industrialisasi nasional, hingga pertumbuhan ekonomi membutuhkan stabilitas politik dan hubungan yang harmonis di antara para pemimpin bangsa.

“Target besar seperti swasembada pangan, hilirisasi, industrialisasi, dan pertumbuhan ekonomi membutuhkan stabilitas politik serta kerukunan antar pemimpin bangsa meskipun berbeda pandangan politik,” tutupnya.

 

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru